Tuesday, May 13, 2008

Belajar dari Ahmadiyah

Apa yang dapat kita katakan setelah beberapa pekan lalu, ratusan orang datang membakar Masjid al Furqon beserta kitab suci Al Qur’an di dalamnya—sekali lagi: masjid dan Al Qur’an!—di kampung Parakansalak, Sukabumi? Majalah berita mingguan nasional, Tempo, pada akhir bulan lalu, menurunkan tulisan dengan kalimat pembuka: “Kalau Tuhan Al-Khaliq memberikan kebebasan kepada manusia ciptaan-Nya untuk beriman atau tidak kepada-Nya, bagaimana mungkin sebuah negara bertindak melebihi Tuhan itu sendiri?”

Tentu frase di atas bisa kita teruskan: bukan hanya negara, tapi juga sekelompok orang yang menyebut dirinya penjaga syariat Islam dan ribuan massa yang mengkapling kebenaran hanya bersemayam dalam kelompoknya dan kelompok di luar dirinya adalah murtad, kotor, berbahaya seperti parasit yang harus dibasmi...

Barangkali negara yang “bertindak melebihi Tuhan” itu memiliki alasan. Karena Ahmadiyah mengganggu ketertiban umum, misalnya. Atau mereka yang alim yang berhak memutuskan mana agama yang sah dan yang tidak, berargumentasi: ini masalah keyakinan, tak ada sangkut pautnya dengan demokrasi. Demokrasi memang menjaga kehidupan manusia—entah mau beragama atau tidak—tapi keyakinan yang “salah” selalu digiring ke pilihan yang sulit (dan mustahil): kembali ke jalan yang “benar”, atau keluar dari keyakinan umum dan mendirikan agama baru—demokrasi tak berkutik duduk di bawah keyakinan yang tak mengakui keyakinan lain.

Adakah pergulatan seperti itu yang terjadi pada hari itu? Tuhan memberikan kebebasan—dan kebebasan memungkinkan perbedaan—seperti seni atau estetika kepada manusia untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya. Adakah Ia melarang menikmati sesuatu yang telah diberikan-Nya? Teknologi, komputer, internet, seni kaligrafi, kemegahan dan segala kemudahan hidup mungkin bak ubi jalar yang merambat senyap-senyap di mimpi tiap umat Islam yang mengoyak kemurnian keislaman mereka. Karena teknologi dkk tak ubahnya limbah duniawi yang mengikis kedekatan dan perhatian kita dengan alam, dengan lingkungan. Semakin modern suatu zaman yang ditandai globalisasi ruang dan waktu, kemurnian agama “terancam”. Adakah demikian agama memandang zaman?

Perlakuan menyedihkan yang menimpa pengikut Ahmadiyah mungkin berasal dari gema penyesatan dan pengkafiran yang gemuruh segemuruh gema pemurnian (puritanisasi). Bak gelombang yang saling berkejaran, bergulung-gulung, ia hendak melahap seluruh kemungkinan untuk berbeda—tentang tafsir dalam beragama—dari pikiran dan hati kita. Pemahaman ini menyerupakan kita seperti anak kecil yang hanya boleh mengambil apa yang diberikan kepada kita. Tapi kepada mereka yang terbersit keyakinan bahwa Ahmadiyah sesat, apa yang sesat dari gerakan yang masuk di Indonesia pada tahun 1924 itu? Lantaran tuduhan bahwa keyakinan merekakah yang mengangkat Mirza sebagai “nabi”? Ataukah Tadzkirah yang mereka posisikan kitab suci bukan al Qur’an? Ataukah kita memang mendahulukan kekerasan daripada dialog? Bahasa apa yang mereka teriakkan?

Bahasa kekerasan; bahasa yang tak mengapresiasi dialog; bahasa yang tak menerima konsep kenabian Ahmadiyah; bahasa yang meneriakkan bahwa menghancurkan Ahmadiyah bagian amar ma’ruf nahi munkar; bahasa yang sonder menyediakan kesempatan untuk mendengar.

Wahai Ahmadiyah, inikah takdirmu yang selalu diburu-buru di negri dimana tokoh-tokohmu turut andil dalam perjuangan pembebasan bangsa ini? Puluhan Masjid dibakar, rumah-rumah pengikutnya dirusak, ratusan penduduk terpaksa mengungsi. Inikah riwayatmu yang secara jelas engkau menyatakan bahwa Nabi Muhammad tetap nabi pamungkas—dengan konsep kenabian yang berbeda dengan yang diyakini kaum suni, syi’ah atau kelompok yang membakar masjidmu—dan membuka masjidmu untuk siapapun juga? Kepada engkau yang minoritas, yang dinyatakan sesat itu, apa yang bisa kita katakan?

Jauh sebelum kamu, di Baghdad pada abad 10, ada seorang alim bernama Al Hallaj. Seperti kamu, karena pemahaman yang berbeda dengan ulama mayoritas, beliau, di bawah pedang inkuisisi khalifah Al Muqtadir, memperteguh apa yang diyakininya.

Syahdan, Al Hallaj berkata pada salah seorang khadamnya, “Kudengar banyak yang meributkanku. Ada yang bilang aku ini orang suci. Ada juga yang bilang aku telah ingkar pada Tuhan. Aku lebih suka yang kedua itu... karena mereka yang mengatakan aku mengingkari Tuhan adalah mereka yang begitu gigih mencintai agama mereka.” “Orang yang mencintai agamanya lebih berharga bagiku dan bagi Tuhan pula ketimbang orang yang mengagungkan sesama makhluk...” lanjutnya.

Tapi beliau wafat dipancung dan 11 abad berlalu tanpa pernyataan kalau keyakinan yang mengvonisnya lurus dan beliau sendiri sesat. Kini, apa yang bisa katakan? Apakah mereka alpa dan sejarah yang muram harus terperanjat untuk kedua kali? Jika alpa, pasti mereka alpa sajak-sajak Al Hallaj berikut ini:

"Dengar dukaku, ya Engkau!

Bagi mereka yang akan lenyap dan tiada,

Seperti kaum 'Ad yang alpa atau

Taman Duniawi yang telah lama sirna!

Dan kemudian kelompok yang ditinggalkan pun mengelana,

Tersaruk-saruk dan buta, lebih buta dari kawanan domba."

Dari kasus Ahmadiyah, kita peroleh pengetahuan tentang kita, bangsa kita, sikap kita menghadapi perbedaan.

Saturday, May 10, 2008

3 Menit 47 Detik

Kucabut bunga musim semi di pekarangan rumah

Merah dan kuningnya berganti pasir kering yang pucat

Tandus, panas, sunyi, disayat denting piano Vanessa

Bersama waktu yang murung

Tamanku menjadi padang keputusasaan, kehampaan

-----------------------------------------------------

Ular-ular merayap, berdesis melingkari kakiku

Pelan, sakit, rahangnya terbuka

Aku tergigit, bisanya menjalar, nadiku membengkak nanah

Hatiku tak merasainya

Bak karikatur, menyembunyikan cemoohnya

-----------------------------------------------------

Kubangun tembok, harap terik terhalau

Dan tak kutengok lagi dunia yang kupilih tanpa pernah kusesali

Derai angin mandeg, harapanku patah

Tembokku telinga masa lalu

Suara-suara merambat gelap

Berpagar petis menunggu jawab

-----------------------------------------------------

Aku takut, tak tahu

Jika tembok adalah telinga, yang tegar menancap bumi

Di mana aku mengubur kenangan?

-----------------------------------------------------

Denting piano Vanessa menyayatku

Liriknya tajam menghujam hati

Aku tak bisa menolong gadis yang menatap wajah yang mengecewakan

Aku terkapar dalam irama 3 menit 47 detik

Menengok Rigoberta Menchu

Adakah kini yang menengok Rigoberta Menchu—seperti menengok album kenangan yang tersimpan di sebuah sudut? Perempuan Indian dari suku Maya itu bersaksi atas secarik babak gelap hidupnya dan negaranya: kesaksiannya di usia 23 tahun tentang penindasan penguasa keturunan imigran Eropa di tanahairnya, Guatemala. Ia tak gentar bicara masa kelam yang sedih. Lewat bukunya yang terbit pada 1983, I Rigoberta Menchu, mata dunia menatapnya. Tahun 1992, anugerah tokoh perdamaian jatuh di pundaknya waktu berumur 33 tahun.

"Kisahku adalah cerita tentang semua kaum papa Guatemala. Pengalaman pribadiku adalah kenyataan dari keseluruhan pengalaman masyarakat... Aku tak pernah bersekolah…”

"Aku berasal dari masyarakat suku Quiche [salah satu dari 23 etnis di Guatemala]… Aku datang dari San Miguel Uspantan, di barat daya Provinsi El Quiche. Aku tinggal di dekat Chayul di utara El Quiche… Tempatku bermukim berpemandangan surgawi, daerah kami sangat elok. Tak ada jalan besar, dan tak ada mobil…Orang tuaku pindah ke sana di tahun 1960. Tak seorang pun tinggal di sana, di gunung…."

Ayahku, Vicente Menchu, anak yatim [anak tertua dari 3 bersaudara]. Masa kanak-kanaknya adalah masa yang sangat menderita. Nenekku (ibu ayahku) bekerja sebagai pelayan keluarga kaya di kota, setelah kematian Kakek… Setelah anak-anaknya agak besar, majikan Nenek keberatan memberi makan. Karena itu Nenek harus merelakan anak tertuanya (ayahku) bekerja pada keluarga lain agar tidak kelaparan…Tapi ia tak dibayar, karena cuma numpang hidup.Ia cuma diperlukan untuk bekerja, dan hidup terpisah…Setelah punya cukup uang, Ayah mengambil Nenek secepatnya, karena tahu bahwa Nenek juga merangkap sebagai gundik majikannya (meski sang majikan punya istri). Nenek terpaksa melakukannya, karena tak ada tempat lain yang menampungnya...”

“Nenek dan anak-anaknya tinggal di Finca, perkebunan pantai selatan bagian dari Escuintla tempat kopi, kapas, gula ditanam… Celakanya, itulah masa ketika militer mencari pemuda untuk direkrut. Dan Ayah pun masuk wajib militer. Ayah belajar banyak hal buruk selagi di ketentaraan, termasuk belajar menjadi laki-laki. Saat Ayah pulang, Nenek sekarat... dan akhirnya Nenek meninggal. Setelah kematian Nenek, Ayah dan adik-adiknya terpaksa berpencar. Ayah lalu bekerja di sebuah biara dengan gaji sangat minim. Waktu itu upah buruh 30 atau 40 sen per hari. Saat itulah Ayah bertemu Ibu, kemudian kawin, lalu menetap di sebuan dusun jauh di gunung... Untuk bermukin di situ, harus punya izin menetap...”

“Masa kecilku yang bisa kuingat kebanyakan adalah masa setelah usiaku lima tahun. Kami tinggal di rumah kecil di Altiplano empat bulan dalam setahun, dan sisanya kami harus ke pantai. Aku punya lima kakak, lelaki dan perempuan. Aku menyaksikan kematian dua abangku karena rawan pangan. Kebanyakan keluarga Indian merana kurang makan. Banyak di antaranya tak sampai mencapai usia 15 tahun…”

“Setelah hari pertama menuai kapas, saya terjaga di tengah malam dan menyalakan lilin. Aku melihat wajah abang dan kakak perempuanku dipenuhi nyamuk. Aku raba wajahku sendiri, mukaku pun dirubung nyamuk. Nyamuk-nyamuk itu ada di mana-mana, di mulut orang sekalipun. Melihat hama penyedot darah ini saja sudah bisa membuatku gatal-gatal. Itulah dunia kami. Aku merasa keadaannya akan selalu sama, selalu sama. Keadaan belum pernah berubah…”

“Saat aku lebih dewasa, aku bertemu lagi dengan tuan tanah, dan ia memintaku kepada orang tuaku. Itulah saat aku dikirim ke ibu kota. Itu tahap lain dalam hidupku. Aku ingat, malam pertama aku tidak tahu mau melakukan apa. Tak lama nyonya memanggil. Makanan yang diberikan padaku adalah buncis dan tortilla (keripik jagung). Ada seekor anjing di rumah, cantik, putih, dan gemuk. Ketika aku lihat pembantu membawa makanan anjing—daging, nasi, sama dengan yang dimakan keluarga—dan mereka memberi aku buncis dan tortilla, aku sangat terluka. Aku merasa dihina. Aku lebih rendah ketimbang binatang.”

“Jika nyonya pulang, ia tidak melakukan apa pun selain mengeluh. Belakangan aku tahu mengapa nyonya suka kesal pada babu masak. Itu karena babu itu tidak mau menjadi ‘kekasih’ anaknya. Temanku bilang, anak nyonya perlu belajar berhubungan seks saat muda agar tak mengalami kesulitan ketika dewasa. Jadi ia buat di kontrak babu masak itu bahwa ia akan membayar lebih jika ia mengajari berhubungan seks pada anaknya. Saat Ayah berkunjung, Nyonya mengatakan: Pergi lihat ayahmu tapi jangan bawa masuk…”

“Aku tidak mampu untuk tidak patuh karena begitulah cara orangtuaku membesarkanku. Dan para majikan mengeksploitasi kepatuhanku… Aku putuskan untuk pergi, pulang ke rumah dengan bekal tabunganku. Sialnya, saudaraku datang, bilang: Ayah dipenjarakan.”

“Tuan tanah memberi segepok uang kepada hakim. Mereka mengambil tanah kami. Ayah berjuang selama 22 tahun melawan tuan tanah. Di Guatemala, jika berhubungan dengan pemerintah, tak ada yang bisa dilakukan. Kepada petani, mereka memberi surat yang menyatakan kami tidak perlu meninggalkan tanah kami. Mereka minta Ayah menandatangani surat, tapi Ayah tak tahu apa isinya karena ia buta huruf. Ternyata surat itu menyatakan bahwa petani akan meninggalkan tanah. Ayah kembali protes, kali ini lewat pengacara.”

“Pertama kali mereka mengusir kami, kalau ingatanku benar, pada tahun 1967... Oh Tuhan, mereka membuang dan menghancurkan semuanya. Semua tanaman jagung mereka buang dan kami harus mengumpulkan kembali. Aku ingat waktu itu hujan turun dan kami tak punya apa pun untuk melindungi diri. Ayah berkata, ‘Jika mereka membunuh kita, biarkan saja, tetapi kita akan kembali ke rumah kita… Kalau mereka ingin punya tanah, silahkan pergi ke gunung-gunung.’”

“Ketika Ayah mulai mendapat dukungan, tuan tanah mulai menawarkan uang kepada hakim yang mengurus tanah, dan Ayah ditangkap. Mereka menuduh Ayah merongrong kedaulatan Negara. Banyak masalah yang dihadapi untuk mengeluarkan Ayah dari penjara. Ibu harus kembali bekerja sebagai pembantu dan kami semua bekerja di perkebunan. Sepanjang tahun kami berulang kali ke pengadilan.”

“Akhirnya kami berhasil mengeluarkan Ayah dari penjara. Ayah dipenjarakan selama satu tahun dua bulan. Musuh-musuhnya sangat marah ketika ia keluar. Ayah gembira dan menegaskan untuk berjuang. Kata Ayah, ‘Nenek moyang kita tak pernah menjadi pengecut. Penjara adalah hukuman untuk orang miskin, tapi penjara tidak makan orang. Aku harus pulang dan berjuang.’ Tapi Tahun 1977 Ayah kembali masuk penjara. Mereka tidak pernah membiarkan kami hidup damai. Ayah tinggalkan rumah supaya ia tidak melibatkan kami. Ia tinggalkan keluarga dan bekerja dengan petani di tempat lain.”

“9 September 1979 adikku itu diculik. Nama adikku itu Petrocinio Menchu Tum (Juana Tum, nama ibu kami). Adikku telah dikhianati oleh seseorang dalam kelompok kami. Di tubuh adikku darah keluar. Badannya sudah tidak berbentuk. Mukanya bonyok. Bajunya tak keruan. Sesampainya di kamp, sepanjang kaki adikku penuh luka, ia tak sanggup lagi berjalan. Dan wajahnya, jangan dikata. Ia pun tak sanggup melihat sekelilingnya. Mereka memasukkan kerikil ke dalam matanya, mata saudaraku. Dan neraka ini masih berlanjut untuk memaksa adikku mengatakan di mana para gerilyawan dan keluarganya bersembunyi. Apa yang dilakukannya dengan Injil. Mengapa para pendeta bergerilya. Mereka bertanya pada adikku bagaimana hubungan para gerilyawan dengan para pendeta.”

“Lebih dari 16 hari adikku dianiaya. Mereka mencopoti kukunya, lalu menebas jari-jarinya, menyayat kulitnya, dan membakar beberapa bagian kulitnya. Kepala dan wajahnya tak terlewatkan. Mula-mula kepalanya dipelontos, lalu dikuliti. Menyusul bagian-bagian mukanya dikerati. Namun, mereka berhati-hati agar pisaunya tak mengenai nadi, supaya ia tetap bertahan dalam siksaannya, dan tidak mati.”

“Kami tak dapat berbuat apa-apa. Kalau kami ke sana untuk meminta adikku kembali, mereka akan menculik kami saat itu juga. Tapi ibu tetap pergi. Mereka mengancamnya. ‘Jangan khawatir, anakmu masih disiksa, belum mati,’ kata bajingan itu.”

“Ya, beberapa menit kemudian 3 lori tentara tiba. Yang tengah membawa orang-orang yang telah disiksa, dan yang ketiga mengangkut penjaga. Orang-orang di lori kedua satu per satu diturunkan. Ibu saya maju ke dekat lori untuk mengenali anaknya. Masing-masing orang hukuman punya luka yang berbeda di wajahnya. Tapi ibuku mengenali wajah anaknya, adik kecilku, di antara mereka. Mereka disuruh berbaris. Beberapa di antaranya benar-benar setengah mati atau sangat kesakitan. Semua tawanan tak punya kuku dan mereka mengiris sejumput telapak kakinya. Mereka bertelanjang kaki. Mereka memaksa pejuang-pejuang ini untuk berjalan dan tetap dalam barisan. Bergantian yang jatuh. Tapi mereka diangkat lagi. Ada satu skuadron tentara yang siap untuk melakukan secara tepat apa yang diperintahkan komandannya.”

“Semua orang menangis. Setiap kali aku menuturkan peristiwa ini, aku tak dapat menahan air mata. Untukku itu adalah sebuah kenyataan yang tak terlupakan, meskipun tak gampang mengutarakannya. Ibu terisak, ia menatap putranya. Tak disangka adik mengenali kami… Setelah selesai bicara, sang perwira memerintahkan pasukan membawa tawanan ini, dan menelanjanginya. Tentara menyeretnya karena mereka tak sanggup lagi berjalan. Mereka dibariskan di depan begitu banyak orang. Lalu mereka disiram bensin dan tentara-tentara menyalakan api ke tubuh mereka satu per satu…”

“’Kita [Ayah dan saya] barangkali tidak akan saling bertemu untuk jangka waktu yang panjang, Tapi ingatlah, hidup atau mati, saya akan selalu menolong kamu dengan cara apa pun.’ Ia kemudian mengatakan pada kami untuk menjaga ibuku. Kemudian kuucapkan selamat tinggal pada ayah.”

“Situasi hanya dapat berubah bila kebanyakan dari kami bersedia mempertaruhkan hidupnya. Akan ada demonstrasi lain yang melibatkan mahasiswa, pekerja, serikat buruh, petani, orang-orang Kristen, semua memprotes penindasan di El Quiche. Unjuk rasa ke ibu kota, Kota Guatemala, diorganisasikan untuk meminta tentara meninggalkan El Quiche. Mereka membawa sejumlah anak yatim piatu sebagai bukti penindasan. Mereka mengambil alih beberapa stasiun radio, Mereka pikir mereka harus membuat gerakan ini diketahui dunia internasional dengan cara menduduki sebuah kedutaan yang duta besarnya dapat menjadi juru bicara. Pertama kali mereka menduduki kedutaan Swiss di Guatemala. Para petani datang dari berbagai penjuru. Dari pantai selatan, dari timur, tapi kebanyakan mereka berasal dari El Quiche karena di situlah pusatnya penindasan.”

“Namun, apa yang terjadi setelah itu adalah sesuatu yang tak pernah kami bayangkan. Mereka semua terkubur dalam api. Yang tinggal hanya abunya. Ini pukulan berat bagi kami. Untukku, itu bukan dukacita untuk Ayah. Sangat mudah bagiku menyadari bahwa Ayah telah tiada, karena ia telah dipaksa untuk memimpin kebrutalan, kejahatan yang sama yang kami alami. Aku bahagia karena ia tidak menderita sebagaimana bila aku bayangkan ia berada di tangan musuh hidup-hidup. Tidak, apa yang sangat menyakitkanku adalah nyawa begitu banyak companero, para pejuang yang baik, yang tidak berambisi sedikit pun untuk berkuasa. Yang mereka kehendaki hanya sebatas tetap hidup…”

“Ibuku diculik pada 19 April 1980. Ia diperkosa oleh tentara berpangkat tinggi di kota. Lalu ia diperkosa oleh penculik-penculiknya, oleh perwira-perwira yang memimpin pasukan. Setelah itu ia menjadi subjek penyiksaan yang mengerikan.”

“Hari pertama mereka menggunduli kepalanya, memakaikan seragam ke tubuhnya. Sambil menghajarnya mereka menanyakan di mana kami dan mengatakan kalau ia mau mengaku, mereka akan membebaskannya. Tapi ibuku tahu benar bahwa mereka meminta itu supaya dapat menyiksa anaknya yang lain, dan ia tak akan pernah melepaskannya. Ia berpura-pura tak tahu apa-apa. Ia mempertahankan kami sampai titik darah penghabisan.”

“Di hari ketiga penganiayaannya, mereka memotong telinganya. Tangan-tangan si baju loreng itu menyobeki tubuhnya sedikit demi sedikit. Mulai dari luka kecil, dan meningkat ke penyiksaan yang paling keji. Tak ada saat di mana ia diperlakukan sebagai manusia. Berhari-hari lewat tanpa makanan. Dari kepedihannya, dari luka-luka di sekujur tubuhnya, cacatnya, dan kelaparannya, ibuku mulai kehilangan ingatan dan menghadapi sakratulmaut. Lalu, perwira yang bertugas memanggil tim medis tentara. Mereka menyuntiknya dan cukup banyak serum untuk memulihkannya. Ketika ia mulai membaik, tentu saja, ia minta makan. Mereka memberinya makan. Setelah itu mereka memperkosanya lagi.”

“Ketika mereka melihat tak seorang pun anaknya datang mengambil baju ibunya, tentara membawa ibu ke tempat yang dekat dengan kota, daerah yang sangat berbukit-bukit. Itu harapanku. Bahwa ibuku akan mati dikelilingi alam yang sangat dicintainya. Mereka menggeletakannya di bawah pohon dan membiarkannya di sana, dalam keadaan antara hidup dan mati. Mereka membiarkan ibuku sekarat untuk empat atau lima hari, ditimpa terik matahari, hujan, dan malam. Ibuku berselimut kawanan ulat, karena di pegunungan, serangga akan langsung menyerbu luka apa pun.”

“Akhirnya ibuku mati dalam penderitaan yang tak terkatakan. Ketika napasnya berhenti, tentara-tentara itu berdiri di depannya dan mengencingi mulutnya.Kemudian mereka menempatkan penjaga untuk mengawasi mayatnya agar tak seorang pun bisa membawa jenazahnya, meski pun cuma sisa-sisanya. Tentara-tentara biadab itu tinggal di sana sampai empat bulan, sampai mereka melihat tak sekeping pun tubuh ibuku yang tersisa, tak juga tulang-tulangnya, baru mereka kemudian pergi.”

Demikian wanita teguh yang suka tersenyum lebar itu bertutur. Entah kenapa, saya ingin membacanya—dan menularkan suaranya meski kedengarannya usang. Mungkin karena didorong keseriusan "seorang sedih membaca kesaksian hidup yang sedih". Ya, bagi seorang sedih—apalagi yang sebentar lagi mau ujian—sepatutnya lebih banyak mendengar kisah daripada bertutur.