Wednesday, April 30, 2008

Marsinah (Caping GM)

Untuk mereka yang tak punya nama, untuk mereka yang ketlingsut dalam arsip besar yang menumpuk, yang ditengok saat absensi dan terima gaji, untuk mereka yang senantiasa diawasi waktu, untuk mereka yang jadi “batubata” perusahaan-perusahaan raksasa, untuk mereka yang mengais hidup dengan keras, dengan atau tanpa perhatian.

Berbahagialah, wahai kaum buruh! Bapak-bapak presiden kini sedang pidato tentang kalian, tentang pentingnya peran kalian dalam memberikan sekian persen pendapatan negara, apalagi kalian yang entah ikhlas atau terpaksa, melancong jadi pahlawan devisa untuk negara yang terkadang tak bertanggung jawab kepadamu. Lihatlah, para tamu undangan tengah duduk, menyimak dan mendengar nasibmu dari Bapak yang sudah menyusun naskah pidato di hari-hari sebelumnya. Mereka mencoba menghayati garis takdir ketidaknyaman hidupmu dalam ruangan yang nyaman dan barangkali juga dengan perasaan yang nyaman bukan menyentuh-merasakan nasibmu dari suaramu yang serak, keringatmu yang sepah, atau perjuanganmu yang seolah-olah tak mengenal batas. Oh, Tuhan yang bahkan mengatur rizki dabbah, bilakah keping-keping kaca eksploitasi tercabut setelah sekian masa terhujam tanpa iba, tanpa? Oh, Tuhan yang mengatur garis hidup, bilakah kerasnya duri keserakahan itu membusuk dengan daging yang dilukainya, berubah menanah, mengalir tak terperi?

______________________________________________________________ Marsinah* (Catatan Pinggir Goenawan Mohamad)

Marsinah adalah sebuah petunjuk, mungkin lambang, yang terang dan perih. Ia yang ditemukan terbunuh di sebuah dusun di daerah Nganjuk itu telah menunjukkan bahwa hak asasi bukanlah sesuatu yang hanya dibicarakan sebagai sebuah benda yang datang dari luar, dan bergulir jadi percaturan antara orang-orang penting.

Hak itu bukan ibarat sebutir bola golf. Dunia tempat Marsinah tewas dalam umur 23 tahun bukanlah sepetak luas rumput yang tenteram. Apa yang dialami Marsinah adalah sebuah gambaran yang menyesakkan, tentang bagaimana seseorang yang memperjuangkan tuntutan yang bersahaja pada akhirnya tersangkut dengan masalah hak yang dasar: hak untuk punya suara, hak untuk punya harapan, bahkan hak untuk punya jiwa dan badan.

Kita tak tahu siapa yang membunuh Marsinah. Tetapi kita tahu mengapa ia dibunuh. Ia seorang buruh yang mengais-ngais dari remah-remah dunia yang dikenalnya secara terbatas. Ia tak punya pilihan lain. Ia bermaksud mengubah nasibnya. Ia pernah bekerja di pabrik Sepatu Bata selama setahun, dan akhirnya ia bekerja di pabrik arloji di Porong, Sidoarjo, itu. Upahnya Rp 1.700 sehari ditambah uang ''tunjangan'' Rp 550 yang hanya diberikan bila seorang buruh masuk bekerja. Untuk menambah penghasilan, ia berdagang kecil-kecilan. Kebutuhan dan harapannya sederhana.

Kita tahu, Marsinah tak bersalah karena itu. Tapi rupanya inilah yang berlaku: dengan cara kotor atau tak kotor, para pemilik modal boleh menghimpun kekayaan, para manajer dan para pemegang kekuasaan boleh menambah penghasilan, tapi buruh sebaiknya jangan. Pertumbuhan ekonomi kita, kegairahan investasi kita, telah dibuat bertelekan pada upah buruh yang kecil, untuk menghemat ongkos produksi. Tapi, sementara itu, kita tak pernah mengusik berapa besarnya biaya yang harus dikeluarkan pengusaha untuk menyogok para pemberi tender atau pemberi kredit. Keserakahan boleh berlangsung di atas, tapi buruh tak usah berteriak menuntut nafkah yang lebih baik dan tak boleh berteriak kesakitan. Itulah sebabnya Marsinah dibunuh dan tubuhnya dibuang. Ia bersama teman-teman sekerjanya menuntut agar ''tunjangan'' yang Rp 550 itu bisa diberikan secara

tetap. Bukan angka rupiah itu benar yang menjadi persoalan di sini, melainkan keberanian untuk menuntut itulah yang agaknya mengganggu. Para buruh di Porong, Sidoarjo, itu sudah mengganggu sebuah paham tentang ''ketenteraman'', ''keselarasan'', ''ketertiban'', dan ''kesatuan dan persatuan'' paham yang tengah diberlakukan dengan cara yang sering gampangan, kasar, dalam skala besar di Indonesia.

Marsinah mati karena tusukan benda runcing. Perutnya luka sedalam 20 sentimeter. Selaput daranya robek dan tulang kelamin bagian depannya hancur. Sekitar dua liter darah keluar dari tubuhnya yang disiksa dan dijarah. Barangkali bila kelak ada orang yang bisa berbicara tentang suatu semiologi pembantaian, kita mungkin akan lebih melihat dari jasad yang ditemukan di tepi jalan di Dusun Jegong itu bahwa luka-luka dan kematian Marsinah menandai dua macam agresi sekaligus: yang pertama adalah agresi terhadap Marsinah sebagai seorang buruh, dan yang kedua adalah agresi terhadap Marsinah sebagai seorang perempuan.

Dari sini kita pun bisa bercerita tentang hadirnya di antara kita sebuah ''ideologi'' (dan jalinan kepentingan) yang bisa begitu sewenang-wenang terhadap segala anasir yang selama ini sudah berada dalam posisi marjinal. Yang saya maksudkan di sini adalah kaum buruh dan kaum perempuan. Tentang buruh, kita tahu betapa lemah kedudukannya dalam sebuah kehidupan sosial-ekonomi yang berkelebihan tenaga kerja seperti Indonesia sekarang. Tentang perempuan, kita tahu betapa senantiasa genting posisinya dalam sebuah lingkungan budaya yang semakin memuja ''Ramboisme'' seperti sekarang. Dalam

''Ramboisme'', yang diagungkan adalah citra kewiraan, citra kelaki-lakian di medan laga, citra yang akhirnya menganggap ketegaran (rigiditas) sebagai sesuatu yang baik dan disamakan dengan keteguhan, citra yang melihat dunia dan orang lain dalam hubungan kalah atau menang, citra yang tidak toleran terhadap apa yang halus, subtil, kompleks, dan cerewet, dan karena itu harus ditampik dan dicemoohkan.

''Ideologi'' seperti itulah sebenarnya yang membunuh Marsinah. Siapa pun orang atau kelompok yang membantai Marsinah pasti mengira, kematian seorang buruh perempuan dari dusun itu tak akan menimbulkan heboh: sangka mereka mayat yang terpuruk di tepi jalan Desa Jegong itu akan hanya jadi berita satu kolom di koran lokal, meskipun cukup efektif buat menggertak para pengganggu ''ketertiban'' di sekitarnya.

Untunglah, para pembunuh itu pongah dan salah sangka. Mereka tak sadar bahwa ketika Marsinah dan kawan-kawan bangkit menuntut perbaikan nasib, pada saat itu kaum buruh tak bisa disepelekan terus, sebagaimana kaum perempuan tak bisa dimarjinalkan lagi. Industri tumbuh, buruh kian tampak, suara mereka semakin terdengar, dan juga perempuan mendapatkan lebih banyak kesempatan untuk bekerja dalam sektor yang lebih membuat mereka mandiri.

Maka, sesungguhnya suara Marsinah, baik suara protesnya yang terdengar maupun jerit kesakitannya yang tak terdengar, adalah satu dari gelombang pasang pembebasan yang sedang mendesak. Dalam gelombang pasang itu dengan nyata terlihat bahwa manusia memang punya hak-hak dasar, hak-hak asasi, dan ia akhirnya akan sadar tentang itu biarpun ia seorang gadis miskin yang jauh dari Jakarta yang bising ini.

Itulah sebabnya, bila kita menghormati Marsinah malam ini, kita juga menghormati mereka yang ikut membentuk gelombang pembebasan itu, terutama di kalangan buruh dan kaum perempuan. Pada saat yang sama juga kita menghormati seorang korban, seorang yang dianiaya, karena kita tahu bahwa dalam diri orang seperti inilah kita menemukan saksi yang tenggelam dalam ketakadilan dan kesewenang-wenangan yang terjadi.

Maka, Marsinah adalah sosok pahlawan dan juga korban, lambang kekuatan dan juga kelemahan. Keduanya tak bisa dipisah-pisahkan. Sebab, dengan kepahlawanan dan kekuatan semata-mata kita akan terus mengabaikan dan menyepelekan yang lemah, sebaliknya dengan kelemahan semata-mata kita akan mudah pasrah kepada keadaan.

Sari pidato untuk pemberian Penghargaan Yap Thiam Hien kepada almarhumah Marsinah, 10 Desember 1993, di Jakarta.

*Majalah Tempo, Edisi. 42/XXIII/18 - 24 Desember 1993

Monday, April 28, 2008

Korban Kecemasan Kekuasaan

Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun, ada batasnya...

—Soekarno

Saya tak mampu membayangkan suasana hati presiden pertama kita yang getir dan putus asa dalam kesenderiannya di Wisma Yaso sebelum ajal membebaskannya di pagi yang cerah, pukul 07.07, Minggu, 21 Juni 1970. Ia terpaku oleh kesunyian yang menyakitkan dalam belenggu “tahanan rumah”—selama empat tahun—yang dijatuhkan Orde Baru kepadanya. Kalimat di atas merupakan fragmen dari secarik surat yang ia tulis di usianya yang uzur untuk putri sulungnya, Megawati: “Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian...”

Dalam kesehatan yang rapuh, dalam derita itu—tubuhnya bengkak dan pucat, bicaranya gemetar, daya ingatnya kabur, ginjalnya kumat dan sementara itu, tak ditangani dokter ahli—ia tak hanya sekedar ingin menularkan penderitaan. Pesannya lebih mirip sebuah pengakuan atas ketidakkekalan kekuasaan seorang penguasa. "Karena kekuasaan yang langgeng," lanjut beliau, "hanyalah kekuasaan rakyat dan di atas segalanya adalah kekuasaan Tuhan YME..."

Pesan itu tentu tak mudah dilupakan terutama bagi yang mendapatkan pesan: sebuah pesan yang keluar tulus dari orang yang ditanggalkan kekuasaannya, sudah tak bertaut dengan kekuasaan; dari sosok yang hendak berpulang. Adakah Soekarno tengah bicara soal keangkuhannya saat berkuasa atau kepongahan pemimpin baru yang menggantikannya? Entahlah. Satu pertanyaan yang masih abu-abu dalam deretan sengkarut labirin sejarah bangsa kita. Tapi setidaknya, bagi saya, seorang rakyat yang lahir tujuhbelas tahun usai kepergiannya, Soekarno hendak bicara tentang orang yang duduk di puncak kekuasaan, yang memandang sekitarnya dengan cemas.

Kekuasaan presiden sekalipun ada batasnya—minimal karena dua hal. Yang pertama karena waktu. Kekuasaan abad 21 bukan kekuasaan tunggal nan absolut yang datang dari Tuhan seperti dalam dongeng Arabian Nights. Ia datang dari prosedur yang disepakati bersama serta dijabat dalam rentan waktu yang dapat dihitung. Oleh karena itu, sebuah "kursi" mengsyaratkan pemilu. Dalam pemilu si calon memamerkan rancangan program—dan dalam kadar tertentu, ia mengobral janji. Si calon berbuat demikian karena tahu bahwa "kursi" adalah sebuah rebutan dan suatu saat, mau tak mau, ia akan dicopot.

Yang kedua, ia naik karena dipilih rakyat. Kekuatannya tak datang dari atas, ia naik lantaran menjumputi satu persatu suara-suara rakyat bawah: kekuatan yang berlandaskan kesadaran untuk selalu merunduk ke bawah. Menurut orang alim, pada titik inilah sebuah kekuasaan tak lebih dari konotasi angkuh dari istilah yang lebih tepat disebut "amanat"—yang menuntut laporan pertanggungjawaban baik secara birokrasi maupun moral. Dan wakil rakyat adalah amir yang "bersedia untuk menjadi yang terakhir dalam menikmati kemakmuran dan orang pertama yang merasakan penderitaan." Karenanya, dialog jadi urgen sebelum membuat sebuah keputusan.

Kedua hal itu akan mengantarkan seorang pemimpin kepada pemahaman tentang arti, memakai bahasa Didik Hardiaono, pengamat sosial kemasyarakatan, "filsafat kemiskinan". Kemiskinan di sini bukan berarti papa tanpa keberpunyaan sama sekali. Kemiskinan merupakan cerminan sikap sederhana dalam hidup; tidak berlebih-lebihan. Kaitannya dengan pemimpin, ia sederhana saat berkampanye, ia merealisasikan program yang tak muluk-muluk, toh sementara itu terasa manfaatnya. Memperkaya diri lewat jabatan yang ia sandang, sementara rakyatnya hidup miskin sengsara hanya membohongi hati nurani.

Filsafat kemiskinan menarik diri dari sifat dusta (misalnya mencanangkan program untuk formalitas semata). Ia menjanjikan apa-apa yang sekiranya mampu dilakukannya. Ia berniat melangkah menjadi pemimpin, tapi pemimpin yang mengerti arti amanat. Ia pemimpin yang sadar bahwa kekuasaannya hanya sebentar dan di luar dirinya ada Dzat yang selalu mengawasi gerak-geriknya. Dengan arti lain, filsafat ini setengah senti jaraknya dari filsafat kejujuran.

Seorang pemimpin perlu memahami "filsafat kemiskinan" agar tak teraliensasi oleh materialisme, hedonisme; agar terhindar dari "kemiskinan filsafat". Ceritanya berubah apabila seorang pemimpin melanggar batas kekuasaannya. Seorang koruptor adalah yang menyunat definisi “kepemilikan bersama yang utuh tak terbagi-bagi” menjadi pengertian egois “kepemilikan seolah-olah pribadi yang mumpung menjabat, mumpung berbohong”.

Tentu itu hanya satu gejala dari akar pemahaman yang lebih menakutkan: “pembenaran ontologis”, meminjam istilah Susan Buck-Morss. Pembenaran jenis ini adalah yang mengatakan, “Karena aku seorang pemangku kebijakan, maka keputusanku pasti selaras dengan keinginan rakyat,” atau yang berucap, “Karena aku pro Masisir, maka kegiatan yang aku canangkan selalu sepakat dengan kebutuhan mereka.” Pembenaran ini menegasikan dialog dan kemungkinan untuk hanya belum tahu. Dalam “pembenaran ontologis” ini, karena “aku” didefiniskan sebagai pemangku kebijakan, maka keputusan yang bersumber dari “aku” senantiasa bijaksana.

Berbeda dengan “pembenaran epistemologis” yang bilang, “Karena keputusanku bermaslahat bagi hajat ribuan rakyat, maka aku seorang pemangku kebijakan,” dan seterusnya… karena ia memungkinkan untuk dipikirkan ulang, terbuka untuk ditetiti dan diperdebatkan.

“Aku” dengan “pembenaran ontologis”-nya adalah penguasa yang tertutup dan cemas—ketika sedang dan sesudah berkuasa. Sementara ia tidak menyiapkan calon pengganti, ia malah susah menemukan jalan untuk turun.

Wednesday, April 23, 2008

Titik titik titik

Saturday, April 19, 2008

EDiSi BrOkEn HeArT

Love of my life, i hurt you, I broken your heart, now you leave me. Love of my life please forgive me, Light my heart up, bring it back, Dont take it away from me, Because i just know what it means to me.
-------
Love of my life dont leave me, Youve stolen my love now desert me, and i am like flower in the desert, alone
---------
Love of my life please forgive me, Light my heart up, bring it back, Dont take it away from me, Because i just know what it means to me.
--------- You will remember when this is blown over, And everythings all by the way, When I grow older, I will be there by your side, To remind how I still love you, I still love you.
---------- Light my heart up, bring it back, Dont take it away from me, Because i just know what it means to me.
----- Love of my life, Love of my life.
Aku akan mencari tahu apa itu kedewasaan...
—otak atik dari lirik "Love of My Life"-nya Queen
Abbasea at Zahra's Home, 2:13 PM

Tuesday, April 15, 2008

Masisir, Kau Bukan Dirimu Lagi

Pernahkah saudara menemukan para stake holders gelisah melihat 5083 Masisir tengah dalam penyakit akut—ketika masih di sini atau sepulangnya nanti ke Tanahair? Jika belum, itu terjadi, puncaknya, pada Lokakarya 2 hari 12-13 April pekan lalu. Pernahkah saudara melihat langsung "wajah" limaribu lebih mahasiswa ketika angin-angin segar berderai menerpa wajah mereka? Jika belum juga, itu terjadi pada saat penutupan acara Lokakarya, malam 13 April. Tepatnya, ketika mereka melemparkan pertanyaan-pertanyaan...

Mereka, para tokoh dan undangan yang tak semuanya datang serta tak semua yang datang menyempatkan duduk mendengar, berbicara dan mengikuti sidang-sidang, dipaparkan permasalahan-permasalahan sedih mahasiswa mulai dari awal tes, pemberangkatan, pembinaan studi sampai orientasi dan jaminan hidup setelah lulus dari Universitas al Azhar. Mereka berdebat dalam komisi mereka masing-masing. Sebagian komisi ada yang adem-adem saja, sebagiannya lagi ada yang sampai keluar arogannya sehingga akhirnya keputusan pun berakhir dengan voting. Sebagian anggot sidang berkomentar, inilah beban demokrasi: ketika semua orang berebut bicara dan mengklaim bahwa opsi pilihannya saja yang tepat dan keputusan menjadi sebuah spekulasi. Seorang ibu, dalam kebisingan anggota komisi yang tunjuk jari meminta giliran bicara, mengeluh, "negara kita sudah susah dengan demokrasi, Pak"

Demokrasi adalah satu hal dan kebisingan forum adalah hal lain. Permasalahannya, tentu, bukan pada demokrasi yang jadi beban sejarah Indonesia. Lebih dari itu, tak adakah yang mempertanyakan bahwa para tamu undangan betul-betul mengetahui permasalahan mahasiswa, toh sementara itu, mereka melihat mahasiswa dari draft TOR yang telah disediakan panitia di pintu registrasi. Barangkali, hal itu salah satu sebab mengapa sebagian tamu undangan minta izin keluar saat sidang berlangsung dan forum lokakarya seolah-olah disulap menjadi "Rembuk Masisir 2".

Ada anekdot menarik. Seorang panitia mempersilakan seorang tamu undangan untuk segera memasuki ruangan karena sidang pleno Kemesiran akan segera dimulai. "Silakan masuk, Pak! Sidang sebentar lagi dimulai," ujarnya sopan. Orang yang dipersilakannya balik tanya, "Lho, tentang Kemesiran ya dek! Itu kan urusan adek. Adek sajalah yang masuk.." Seketika raut muka panitia yang kebetulan mahasiswa itu sembab. Begitu juga kejadian lain dari seorang panitia (kalau nggak salah: dia ini bapak) yang bilang bahwa acara penutupan dan dialog diperuntukkan peserta dan para undangan saja—seperti pembukaan di hari pertama. Alasannya: karena porsi makan yang disediakan terbatas (kalau nggak salah dengar, tersedia 1000 porsi makan malam). Nah, pikirnya kalau dibuka untuk umum, pastilah mahasiswa berlomba datang duluan, berebut makan malam, dan.... dikhawatirkan terjadi adu jotos lantaran sebagian tidak kebagian jatah karena kuponnya terbatas. Aduh-aduh! Demi alasan agar tidak menjadi GR, ceritanya koq bisa berubah dan acara dibuka untuk umum, tak jadi saya lanjutkan...

Saya hanya ingin bilang kepada mahasiswa: ada stereotipe yang sayup-sayup mengukuhkan bahwa Masisir datang acara karena makan, urusan perut doank, dan apabila nggak kebagian, dikhawatirkan terjadi dua kemungkinan: yang pertama, adu jotos dan yang kedua, demo...

Sudah! Sudah! Lupakah dulu Lokakarya!

Sidang pleno 3 sudah diketuk. 44 butir kesepakatan forum (rekomendasi atau acuan kerja) sudah dibacakan secara gamblang sebelum dialog. Saat mendengarnya, para hadirin memiliki insting alamiah kapan mereka riang tepuk tangan, kapan mereka serempak bilang "hhuuu" sambil melongsorkan badan agak ke bawah. Saya kebetulan bertanya kepada teman yang tak menghadiri penutupan di malam itu. Jawabnya: aku sudah bosan dengan janji-janji....

Puaskah mahasiswa mendengar 44 butir itu? Saya jawab: tidak tahu. Itu sama sulitnya menjawab, apakah Lokakarya itu berhasil atau tidak. Dan pada saat dialog, mahasiswa benar-benar memanfaatkan kesempatan bertanya yang bagi saya menunjukkan bahwa masisir memang "kritis tapi tidak proporsioal" atau dengan arti lain, masisir "manja".

Rata-rata mereka mempertanyakan jaminan-jaminan hidup baik di sini atau lebih jauh lagi, nanti ketika mereka sudah mengabdi di Tanahair. Kira-kira mereka sepakat ingin bilang: apa saja yang negara sediakan—sebut saja lapangan kerja—saat kita lulus dan pulang. Kasih tahu kami, pemetaan jaminan hidup di Tanahair! Inilah, yang menurut saya, dipertontonkan kepada tokoh-tokoh itu...

Tuntutan mahasiswa lebih banyak kepada segera mempersiapkan sarana dan prasarana hidup. Betapa senangnya mereka ketika mendengar rencana akan dibangunnya asrama Indonesia. Apakah mereka lupa bahwa watak orang Indonesia itu "makan nggak makan, asal kumpul"? Tambahan tunjangan hidup buat mereka yang berprestasi, baik dari KBRI, pemerintah daerah, ormas, bahkan bila memungkinkan dari Depag bagi mereka yang secara khusus diberangkan plus beasiswa dan dari Azhar sendiri. Sehingga mereka yang gagal, semakin terperanjat ke bawah tanpa perhatian sama sekali.

Iya, pembicaraan dan permintaan mereka sangat besar-besar. Dan lacurnya, mereka melalaikan hal-hal kecil yang mendesak: mentalitas dan pola pikir. Tak ada yang mempertanyakan apa dan bagaimana mentalitas dan pola pikir kita. Dan tak ada riset pula! Andaikan asrama sudah dibangun dan mahasiswa menempatinya, tapi mental dan pola pikirnya masih ajeg, maka kokohlah gairah mahasiswa sebagai harapan mereka terhadap lokakarya: gairah untuk rakus terus menerus, gairah untuk senang tak putus-putus dan gairan untuk selalu mendapatkan jaminan, gairah untuk selalu jadi "maf'ul bih"...

Jika ini benar, betapa murungnya Pak Dubes. Dan malam itu, para hadirin penuh sesak keluar. Mencari-cari tamu-tamu undangan untuk jeprat-jepret penuh keriangan. Lampu ACC dipadamkan, AC dimatikan, dan pagar ditutup.

Ditulis dengan segala hormat!

Monday, April 14, 2008

Dilema Kreatifitas dan Tantangan Masisir

Dalam pandangan sebagian pihak, terutama mereka yang kerap disebut stake holders, limaribu lebih mahasiswa Indonesia di Bumi Kinanah ini, dikanvaskan seperti Crassa Minerva yang gemuk, tambun, berbadan besar dan berwajah keriput. Adapun Crassa Minerva, dalam mitologi Yunani adalah Dewi Kesenian dan Ketrampilan yang cantik, ramping lagi anggun. Karena kualitas akademik—apalagi prestasi peran dan kiprah di Tanahair—masih "jauh panggang dari api", maka 5000 lebih Masisir kini seperti rupa Sang Dewi yang gembrot. Dalam tataran ideal, alumni Azhar tidak bisa mengimbangi kebesaran nama universitas tempat ia studi: buah ternyata jatuh terlalu jauh dari pohonnya.

Masisir yang belum optimal memanfaatkan visi studinya selama hidup di sini seperti Dewi yang gembrot lantaran ia tak merawat tubuhnya. Orientasi studi mereka di Azhar baik dari sisi waktu atau kualitas, setidaknya, terbengkalai oleh beberapa faktor (atau kondisi) penghambat. Sebuah draf bisa ditulis setelah kita membaca problem yang telah diakomodir dalam beberapa lampir TOR Lokakarya yang akan diselenggarakan pada 12-13 April nanti: Masisir sulit adaptasi baik secara bahasa maupun budaya; kurangnya optimalisasi membaca dan penelitian; prosentasi kehadiran di kuliah sebagai faktor terpenting dalam menunjang keberhasilan studi; menjamurnya puluhan organisasi mengakibatkan sebagian Masisir aktif secara tidak proporsional... Intinya, seperti tersebut dalam TOR, "Mereka harus diarahkan dan dibina agar aktifitas mereka dilakukan secara proporsional dengan memperhatikan studi."

Dukungan untuk meningkatkan prestasi Masisir tentunya sangat kita sambut dengan lapang dada. Sebagai perwakilan pemerintahan Republik Indonesia sekaligus orangtua bagi Masisir, seyogyanya KBRI senantiasa memberikan motivasi dan semangat bagi peningkatan prestasi akademik anak-anaknya. Dan berpijak dari sini, Masisir secara umum diharapkan memiliki kesadaran kolektif lagi reflektif bahwa wajah mereka dalam kacamata "bapak" mereka sendiri, tambun dan gembrot.

Lantas, bagaimana dengan Masisir sendiri? Gerangan siapa yang mereka lihat ketika menatap cermin yang bernama "studi-dan-organisasi"? Mahasiswa tentu bukan mereka yang "buruk muka cermin dibelah". Dalam menjawab pertanyaan ini, kita harus berani dekonstruktif-rekonstruktif. Satu kali kita harus berani menelanjangi segala segi negatif aktifitas kita selama jangka hidup di Mesir dan di kali lain, harus secara proporsional memberikan alternatif atau mempertahankan identitas-kreatif (baca: kreatifitas dan independensi) laiknya mahasiswa yang berpikir inovatif dan berjiwa kritis. Bahasa singkatnya: Kita, Masisir ternyata tak merosot studi saja, kita juga belum mengoptimalkan kecakapan dan ketrampilan "organisasi".

"Studi" dan "organisasi" bukan sebuah kontradiksi. Untuk meningkatkan kualitas akademik, untuk menyediakan porsi besar waktu untuk bangku kuliah, usaha yang dilakukan tidak harus membatasi ruang gerak organisasi. Patut dicatat bahwa salah satu kritikan Dubes mengenai hal ini adalah bahwa kegiatan organisasi yang diselenggarakan bersamaan dengan jam kuliah sudah mengganggu prestasi akademis. Dengan kata lain, intensitas kehadiran di kuliah, secara tidak langsung, memiliki dampak positif pada kelulusan.

Tapi ada sedikit catatan: bahwa intensitas atau daftar absensi saban hari tidaklah mutlak. Jika dijadikan tolak ukur dan faktor terpenting dalam menunjang keberhasilan studi, seyogyanya ia perlu dipikirkan ulang untuk konteks sistem perkuliahan di Azhar dan Masisir sendiri. Ada fenomena menarik yang menimpa beberapa kawan: sebagian mereka datang ke kuliah dengan intensitas yang bisa dihitung dengan jari, sebagian yang lain saban hari pergi kuliah dari pagi sampai siang. Walhasil, kawan pertama ada yang mendapatkan predikat jayyid jiddan sedangkan kawan yang kedua malah, maaf, ada yang tak naik kelas. Kawan pertama yang jayid jiddan, aktif di satu organisasi dimana ia dapat mendongkrak kualitas dirinya. Sedangkan yang kedua, sudah berkali-kali khatam muqarrar. Di sini, teori lama yang mengatakan bahwa sebelum ujian harus khatam berkali-kali muqarrar, datang tiap hari ke kuliah merupakan sebagian teori relatif yang tak dapat dipaksakan kepada 5000 lebih Masisir. Sampai poin ini, visi misi studi kita belum optimal jika kerangka berpikir kita masih seperti seseorang yang dihantui ujian.

Masisir bukan anak kecil yang geraknya diatur dan selalu dituntun. Pada dasarnya, yang perlu dicamkan adalah bahwa sebuah isi, kualitas patutlah mendapatkan porsi utama ketimbang sebuah kuantitas. Azhar tidak menuntut santri-santrinya untuk membaca sekian lembar dalam sehari atau menyelesaikan sekian kali dalam tempo seminggu. Ia menuntut anak didiknya untuk mengerti dengan benar kandungan diktat-diktat kuliah. Lebih jauh lagi, Azhar menghimbau agar mereka berani mengeksplorasi khazanah keilmuan yang lebih dalam dan luas, sebanyak-banyaknya, yang berceceran di luar Azhar. Nah, seandainya teori lama di atas menghegemoni limaribu lebih Masisir, maka alumnus yang tercetak dalam satu generasi adalah alumnus yang unggul dalam edukasi kognitif yang mengacu pada teori dan hafalan. Padahal fakta riil menyebutkan bahwa seorang sukses akademis tak menjamin dirinya sukses di bidang lain. Dan terbukti bahwa orang yang predikatnya standar, biasa-biasa saja mampu mengadaptasikan dirinya dengan lingkungan sosialnya lebih cermat dan sukses.

Dari kesadaran seperti inilah, Masisir dituntut untuk selalu berkreasi, mencari ilmu-baru yang tidak didapatkan di bangku kuliah. Artinya, kreatifitas tak buntung lantaran tugas utama kuliah. Saya tak memiliki definis teoretis untuk kata itu, hanya saja dalam dinamika Masisir akhir-akhir ini, bibit-bibit kreatifitas itu semakin cepat berkembang. Berbagai kegiatan disajikan. Sebut saja seperti rihlah maktabah yang diselenggarakan DP KSW beberapa pekan lalu. Patutkah kegiatan yang menunjang efektifitas studi Mahasiswa Baru disamakan dengan kegiatan lainnya semacam pekan olahraga lintas marhalah? Laikkah kegiatan yang bertujuan memperkenalkan perpustakaan-perpustakaan di Kairo kepada Maba tidak mendapat dukungan, toh pada saat yang sama, Bapak Dubes senantiasa mengatakan bahwa beliau akan mendukung segala bentuk kegiatan yang yang acuan dan kerangkanya menunjang kesuksesan akademis seseorang? Sejatinya, kegiatan di atas merupakan salah satu tradisi tahunan KSW yang secara khusus diselenggarakan untuk bekal anggota barunya. Dan mengapa KBRI tak turut andil dalam mengsukseskan agenda akademis ini? Bukan maksud tulisan ini "mengemis" KBRI agar proposal yang mental dipertimbangkan lagi. Setidaknya kita bisa bercermin bahwa KBRI seolah-seolah mulai membunyikan sirine ultimatum.

Memang motivasi lebih penting ketimbang bantuan dana. Namun bukan berarti, kontribusi KBRI beralih pada motivasi saja. Kreatifitas (dalam bidang apa saja) mahasiswa akan jadi taruhan. Jika bantuan finansial dari KBRI, kurang-lebih, tak bisa diharapkan banyak, lantaskah mereka jadi mandul? Apakah KBRI ingin mengebiri kreatifitas yang diapriorikan sebagai faktor penghambat kelulusan studi? Entahlah. Beberapa kawan berkomentar bahwa sikap KBRI ini bertujuan positif; agar Masisir lebih selektif. Dan tentang KBRI yang bersikap tegas mengenai hal ini, kita tak tahu secara pasti. Mungkinkah karena Lokakarya? Atau secara tidak langsung, KBRI ingin mengkritik kalau organisasi di Masisir memang "gembrot". Taruhlah satu pengandaian: jika masing-masing dari 16 kekeluargaan menyelenggarakan kegiatan—baik jenisnya sama atau tidak—dalam jangka waktu sebulan dan semuanya mengantarkan proposal ke KBRI . . .

Jika hal ini benar, bila Dewi Minerva kini gembrot, barangkali kita diingatkan bahwa ada "mala" dalam pribadi atawa organisasi kita. Nah, di sinilah kreatifitas kita dihadapkan pada sebuah "dilema" atau tantangan baru. Bisakah Masisir membuktikan bahwa kreatifitas mereka tak mati-mati, dengan atau sonder proposal sementara mereka tetap tak acuh pada kualitas studi mereka?

Inilah taruhan Masisir. Atau jangan-jangan ada pandangan lain: saat KBRI hendak "memangkas" kegiatan non-kuliah dan menyarankan mereka untuk back to campus dengan persepsi Bapak Dubes, mengeremus kreatifitas yang mestinya didukung, pada saat yang bersamaan, lahir gelombang Masisir jenis baru yang tak tersentuh dan tak hirau akan "kreatifitas-prestasi akademis-lokakarya". Gelombang Masisir yang intens di rumah dengan fasilitas internet yang mewah, tak aktif di organisasi . . .

Ah, siapa peduli dengan jangan-jangan . . .

Thursday, April 10, 2008

Ooh, Waktu

Ooh, Waktu Ingin sekali kumeludahimu, lalu mengikatmu erat tak bergerak untuk selanjutnya kusimpan di bawah bantal dan aku bisa tidur sampai kepulasan membangunkanku.. Usai edisi magang Terobosan

Tuesday, April 1, 2008

Tunda

Maaf, Ucapan Selamat Tinggal Rubrik-rubrik ditunda....