Friday, March 28, 2008

Humor Satire Dan

Seorang Arab tua sudah 40 tahun tinggal dekat New York, dan bernafsu menanam kentang di kebunnya. Tapi apa daya, ia sudah tidak kuat lagi bekerja sendiri mengolah tanahnya. Ia pun mengirim e-mail dan mengeluh kepada anaknya yang sekolah di Paris. Anaknya menjawab: “Bah, jangan diaduk-aduklah tanah di kebun. Kan Abah tahu saya menyimpan sesuatu di situ!”
Pukul 4 sore itu juga, FBI, yang menyadap segala saluran komunikasi warga negara Amerika keturunan Arab, dating ke rumah si Arab tua. Mereka membawa traktor, buldoser, dan sekitar 20 orang kekar bersenjata garpu tanah dan sekop. Habislah tanah si gaek dibongkar. Mereka tak menemukan apapun, dan pergi dengan rasa kecewa berat. Keesokan harinya sang ayah menerima e-mail lagi dari anaknya: “Bah, mudah-mudahan kebun sudah cukup digarap, dan siap ditanami kentang. Hanya itu yang dapat saya Bantu dari jauh, Bah! Cium tangan taat dari putramu, Ahmad!”
Diambil dari tulisan Nono Anwar Makarim, rubrik Obituari Majalah Tempo edisi 7 Agusus 2006

Monday, March 24, 2008

Selamat Tinggal Rubrik-rubrik

Selamat tinggal sebuah dunia yang pernah kumasuki tanpa pernah kusesali. Selamat tinggal dunia yang mengajarkan bahwa “menulis adalah berpikir secara teratur”—meskipun tulisan saya sangat-sangat berserak, tercecer tak teratur. Selamat tinggal dunia yang saya tak ketahui bagaimana di akhir pengabdian ini memberikan peran yang benar-benar berarti.

Selamat tinggal rubrik-rubrik. Ah, barangkali kedepannya saya memang kudu mengakui keterbatasan diri yang lemah; yang impoten menjadi leader. Dan dengan itu, mungkin orang tak akan tolol memilih orang yang berkarakter seperti itu untuk menempati posisi itu kedua kali.

Selamat tinggal rubrik-rubrik. Mulai hari ini dan seterusnya, saya hanya bisa melihatnya dan menatap tulisan yang mengisi kolomnya dan penulisnya—praktis barangkali jadi pembaca yang impoten ide dan inisiatif.

Selamat tinggal kekecewaaan. Selamat tinggal kebahagian. Selamat tinggal kekompakan. Selamat tinggal pemikiran ontologis yang dangkal. Selamat tinggal senyum penyap. Selamat tinggal kalender-kalender. Selamat tinggal loper. Selamat tinggal sekolahku…

Saya tak tahu. Penatku mengendap.

Dengan atau tanpa kehendak, “Selamat tinggal,” bisik saya, “dunia yang mendidik bahwa pelajaran pertama seorang yang hidupnya lekat dengan tanda kutip adalah belajar untuk tidak mengeluh atau menyerah”

Tapi, batin saya, “Saya bagian dari murid yang salah asuhan.” Bukan karena gurunya yang kurang inisiatif atau tempatnya yang tidak representatif, tapi memang tak ada jaminan bahwa “yang mengganti” lebih baik dari “yang diganti”—begitu juga sebaliknya.

Entahlah. Selamat tinggal dunia yang saya kecewakan. Terima kasih atas senyum ikhlasmu selama ini. Terima kasih atas gojlokanmu. Terimakasih atas kepercayaanmu. Terimakasih atas segala kelancangan menggunakan namamu. Terimakasih atas dua tahun ini. Terimakasih atas kesempatan itu. Dan terakhir, terimakasih atas ilmu-ilmu otodidaknya.

Tiba-tiba ada yang datang berbisik, “Kayaknya kamu tengah menyiapkan dua tali gantungan sekaligus...”

More than this, Vanessa Carlton

“Anda soldiers and heroes come home... we will be gone…. Kantor Terobosan: 10.41 PM

Tuesday, March 18, 2008

Cermin Bahasa

Di musim semi awal bulan ini—cuacanya cerah. Pukul 4 sore dalam bis nomor 79. Saya tak tahu apa yang hinggap di kedua orang yang bertengkar dalam bis sesak warna hijau yang melaju ke Sayidah Aisyah itu? Dua orang ini sedang beradu mulut. Satu laki-laki separuh baya; berbadan besar dan satu lagi perempuan sedikit lebih tua; berbadan besar pula. Pasalnya, ibu yang kebetulan berdiri jauh dari pintu belakang bis, buru-buru hendak turun. Ia minta izin di antara penumpang yang berdiri agar melapangkan sedikit ruang. Ia sedikit mendesak. Eh, si laki-laki berbadan besar tadi merasa terdesak. Ia membentak ibu yang—sementara melangkah sulit menuju pintu—juga membentaknya.

Ada saja kalimat serapah meluncur dari ibu tadi dengan mudah: "Ya ragul gheir muhtaram, Ya Ibn Kalb..." Begitu juga timpalan baliknya: "Ya wahsyi, ya sarmuthoh..." Sementara mereka berdua tak berhenti saling mengejek, para penumpang tak bisa merelai. Sebagian dari mereka mengingatkan untuk membaca shalawat. Ya, yang bertengkar pun membacanya tapi adu mulut pun tetap tak reda—bahkan ketika si ibu turun dan bis berjalan.

Saya tak tahu adakah Tuhan dan Nabi, yang barusan disebutnya, hadir di tengah-tengah desakan para penumpang tadi? Siapa yang bisa bicara tulus di saat otak macet, hati mendidih dan badan letih? Karena sementara mereka bertengkar, penumpang yang lain mengalihkan perhatiannya entah kemana agar tak didera suasana menyakitkan di kala lalulintas macet. Dan ibu serta bapak tadi masing-masing bukan pelacur atau anak anjing. Mereka tetap manusia layaknya penumpang lain seperti saya yang kebetulan berdiri dekat kondektur.

"Pelacur" atau "anak anjing", dengan kata lain, merupakan bahasa oral untuk mengejek yang terbatas dalam ruang dan waktu. Bisa jadi, di tempat selain Mesir, untuk mengejek atau meremehkan orang lain, orang tak menyebut dua kata di atas. Seperti di Amerika, untuk menghina, mereka memakai kata "chicken". Patut juga ucapan Ludwig Wittgenstein, filsuf bahasa, "Jangan tanyakan makna sebuah kata, tetapi tanyakan pemakaiannya!". Atau istilah masyhurnya dalam bahasa Inggris: "Meaning is use". Karena asas penggunaan dan sifat bahasa yang memang "manasuka", kita bisa nalar betapa tepatnya pepatah yang berbunyi "bahasa menunjukkan bangsa".

Bahasa mencerminkan kepribadian, kreatifitas dan perkembangan sebuah bangsa. Guru besar linguistik Unika Atma Jaya, Soenjono Dardjowidjojo, pernah menulis, "Bahasa adalah produk sejarah pertumbuhan manusia dan bahasa hidup serta berkembang berdasarkan kreatifitas para pemakainya." Selama pemakai ini manusia, tulisnya lebih lanjut, "selama itu pula ada variasi yang berbeda dari satu manusia ke manusia lain."

Qoris Tajuddin, alumni Azhar yang jadi wartawan Tempo, memberi contoh menarik tentang bahasa prokem. Bahasa itu masyhur di Indonesia pada tahun 1973; diperkenalkan novelis Teguh Esha dalam Ali Topan Anak Jalanan dan Ali Topan Detektif Partikelir. Dalam bahasa prokem, tulis Qoris, "kata dibentuk dengan menyisipkan 'ok' di tengah kata yang bagian akhirnya dibuang." Oleh karena itu, kata "preman" disulap jadi "prokem" dan "duit" diganti menjadi "doku" yang lebih gaul. Di kalangan Masisir, kata "mediator" lebih terhormat dipergunakan sebagai ganti "broker".

Bahasa Mesir pun demikian. Mereka tentu tak mungkin bicara arab fusha saban hari. Arab fusha hanya dipakai dalam kondisi tertentu, misalnya ketika pidato kenegaraan atau menulis artikel di surat kabar. Seperti orang Indonesia, tak bakalan bercakap dengan bahasa resmi Indonesia. Bahasa amiyah satu sama lain berbeda-beda. Amiyah Mesir berbeda dari amiyah Arab Saudi; tak sama dengan amiyah Irak. Lihat saja bahasa oral mereka! Orang Mesir mengganti huruf "Jim" dengan "G" atau mengawali setiap kata kerja dengan huruf "Bi".

Penggunaan bahasa dalam percakapan sehari-sehari mencerminkan watak dan sikap mereka. Kali ini kita teringat bahwa watak orang Mesir itu mudah marah tapi juga mudah memaafkan, tempramental, kasar, bicaranya keras, banyak bicara dan kalau baik, subhanallah, baiknya tak ketulungan. Kebiasaan tatkala marah-marah, membentak-bentak, orang Mesir tak pakewuh memakai kata-kata cercaan seperti yang dipakai dua penumpang bis tadi—bahkan kepada suami atau istrinya sendiri. Tapi, untungnya, habis marahnya, lenyap pula ingatannya. Orang Mesir tetangga saya memanggil istrinya dengan namanya langsung.

Bahasa juga mencerminkan kepribadian dan watak seseorang. Kedua penumpang bis tadi mungkin hidup di lingkungan menengah ke bawah, yang suntuk tapi tak menyerah terhadap tantangan ekonomi Mesir yang akhir-akhir ini mengalami krisis. Mereka bagian dari komunitas yang berbenturan langsung dengan hidup yang keras. Aming dkk bercakap dengan sering menyebut "anjing", "monyet", "pecun", "tahi babi" dalam film Get Married, melakonkan gaya hidup orang-orang frustasi se-Indonesia. Begitu juga bahasa yang meluncur di mulut laki-laki separuh baya yang memarahi Aisya lantaran mempersilakan perempuan tua Amerika yang kecapekan dalam Ayat Ayat Cinta. Tampak pula bagaimana sikapnya ketika kalah berdialog dengan Fahri.

Meski bahasa kadang dipakai untuk menipu, ia tak dapat ditipu.

Friday, March 14, 2008

Sibawaih

Kisah ini datang dari Baghdad pada abad 8 M: tentang perdebatan dua ulama yang termasyhur.

Syahdan, si alim yang baru menginjakkan kaki di Baghdad, datang menemui Al Kisâ`i, pakar kondang di bidang nahwu-sharf dari "Madrasah Kufah". Al Kisâ`i bertanya, "Kalimat manakah yang benar: dzanantu-l `aqrab asyadda las'ah min-z zunbûr, 'faidza huwa hiya' atau 'faidza huwa iyyâhâ'?" Yang ditanya menjawab, "Yang benar adalah 'faidza huwa hiya'. Harus rafa', tak boleh nashab." "Kamu salah," kata Al Kisâ`i, "orang-orang Arab biasa mengatakannya baik dalam kondisi rafa' maupun nashab."

Satu versi meriwayatkan bahwa kemudian si alim terpukul. Usai kekalahannya beretorika, niatnya melancong ia gugurkan. Bergegas ia kembali ke Persia menyusuri tepi pantai Bashrah. Ia tulis sepucuk surat kepada murid sekaligus temannya Al Akhfasy al Ausath pengalaman yang ia alami di Baghdad. Akhirnya ia pulang ke Syiraz, tak kembali lagi ke Bashrah sampai meninggal pada 180 H.

Si alim itu adalah Sibawaih. Konon nama itu susunan dua kata dalam bahasa Persia; sib (buah Apel) dan waih (tanda nisbat dalam bahasa Persia yang sudah tak dipakai lagi). Nama aslinya Amr ibn Utsman ibn Qanbar. Laki-laki yang "kedua pipinya seperti Apel segar" ini dilahirkan dari kaum ajam Persia di desa Syiraz pada masa ketika tampuk kekhalifahan beralih ke tangan Bani Abbasiyah. Masih kecil, ia sudah pergi ke Bashrah—kota yang masa itu lebih ramai geliat keilmuannya ketimbang Kufah dan Baghdad. Sejak kecil ia sudah tertarik dengan halaqah-halaqah Nahwu. Wawasan nahwunya matang di bawah asuhan Al Khalil ibn Ahmad, alim Bashrah yang meletakkan batu dasar ilmu arudl wal qafiyah. Jika ia datang, Al Khalil menyambutnya penuh mesra, "Selamat datang pengunjung yang tak bosan-bosan..."

Tapi pengunjung (majlis ilmu) yang tak bosan-bosan itu tak berusia panjang. Usianya kira-kira 40 tahun. Pada tahun 1965, terbit buku anggitan Dr. Syauqi Dhoif yang secara sistematik-geografis menelaah peta epistemologi ilmu Nahwu. Empat dari pusat-pusat studi ilmu Nahwu adalah "Madrasah" di Bashrah. Dan Sibawaih termasuk ulama generasi ketiga di "Madrasah" tersebut ketika nahwu merangkak ke fase ketika "mengapa fail harus rafa'" atau "maf'ul kudu nashab" bahkan "mengapa susunan inna dkk beserta isim dan khabar dianalogikan dengan fiil yang maf'ul-nya didahulukan dari fail-nya" mencari jawabnya. Syauqi menulis, "Sibawaih tak hanya menulis bentuk-bentuk (shighat) bahasa Arab... ia mulai menganalisa sesuatu yang sekiranya masih berupa dugaan dan susunan-susunan yang memungkinkan dengan bersandar pada analogi dan ta'lil."

Semua uraiannya ia tulis dalam karya kanonikalnya, Al Kitâb—buku yang tak dimukadimahi pendahuluan dan tak diakhiri kesimpulan. Risalah yang belum sempat diberi judul oleh Sibawaih sendiri ini bukan buku pertama yang meneliti sintaksis atau morfologi bahasa Arab. Jauh sebelumnya pada pertengahan pertama abad 2 H, Isa ibn Umar at Tsaqafy (morfolog generasi pertama di Bashrah) menulis Al Jâmi' dan Al Mukmil; Al Khalil, Leksikolog dengan magnum opusnya, Al `Ain. Tetapi seperti tulis Syauqi bahwa Al Kitâb adalah kitab pertama yang merangkum perbendaharaan teori-teori nahwu-sharaf-`arudl Madrasah Bashrah. Bahkan Al Kitâb tetap menjadi referensi penting dalam studi morfologi-fonologi semisal Ibn Malik, musta'rib yang sangat masyhur di dunia pesantren Indonesia dengan karyanya Alfiyah yang tersusun dalam nadzam berjumlah 1002 bait. Morfolog Andalusia kita ini hidup pada awal abad 7 H.

Sibawaih tak memberi judul bukunya karena ia ingin membacanya ulang. Namun ajal menjemputnya lebih awal. Ia kirimkan tulisannya kepada Al Akhfas Al Ausath. "Ketika selesai menetapkan dasar-dasar di kitabnya," kenang Al Akhfas seperti tertulis dalam Mu'jam al-Udabâ`, "Sibawaih selalu memperlihatkannya kepada saya." Karena di mata sang guru, "Saya lebih mengetahui persoalan tersebut padahal saya betul-betul tahu bahwa beliau lebih alim dari saya..."

Syahdan, Al Akhfash—nama lengkapnya Abul Hasan Said ibn Mas'adah—yang menerakan karya gurunya dengan Al Kitâb. Nama yang menegaskan dua penegasian: "Al Kitâb" adalah isyarat kepada buku Sibawaih bukan ulama lain sekaligus satu-satunya karya Sibawaih semasa hidupnya. Praktis setelah wafatnya sang guru, ia—memakai kata-kata Al Sîrafy, penyarah termasyhur Al Kitâb yang hidup pada pertengahan pertama abad 4 H—adalah "satu-satunya perantara untuk mempelajari karya Sibawaih karena kita tak tahu siapa yang mempelajari langsung buku ini kepada sang empunya yang sementara ia pun tak mengajarkannya kepada siapapun." Ketika Sibawaih wafat, Al Kitâb lalu dimasyhurkan ke khalayak oleh Al Akhfasy sampai ia wafat pada 221 H. Bahkan satu riwayat mewartakan kalau Al Kisai pun mempelajarinya diam-diam kepada Al Akhfasy.

Al Kitâb terdiri dari 80 bab. Di halaman pertama, mata kita dicegat oleh bab kalam dan taksonominya. Karena ilmu jenis ini sebagian besar bersandar pada metodologi "mengambil apa yang didengar dari orang Arab", dalil yang dipakai Sibawaih mayoritas dikutip dari syiir bukan al Qur'an. Dalam risalah magister yang ditulis pada 1980 dengan judul Syawâhid as Syi'r fi Kitâb Sibawaih, Dr. Khalid Abdul Hakim Jum'ah menulis "Ia mendapatkan teks-teks morfologis-fonologis dari gurunya Al Khalil dan orang-orang Arab yang dipercayainya."

Dari kategori syi'ir Arab, Sibawaih mengutip 1050 bait; dari ayat Al Qur'an, ia mengutip lebih dari 400 ayat; dari prosa Arab, ia mengambil ratusan natsr mulai dari pidato, amtsal, cerita dan sebagainya; dan dari Hadits—inilah yang paling sedikit—ia hanya mengambil 6 buah. Alasannya karena jalur periwayatannya bukan lewat teks namun saripati maknanya.

Sibawaih tak memiliki banyak murid. Ia meninggal muda tanpa sempat menyempurnakan karyanya. Ia ibarat bangunan yang belum selesai. Ia pokok yang penuh bolong-bolong yang kemudian Al Akhfasy menyempurnakannya selama 40 tahun. Lalu datang Al Mubarrid, As Sakaky, As Sirafy, Al A'lam, Ar Rumany, Ibn Malik...

Syahdan, pernah ada dosen yang mengusulkan agar Al Kitâb dijadikan buku pegangan supaya mahasiswa dapat mengetahui metodolgi riset para sarjana morfolog Islam klasik. Namun dosen lain menolaknya, "Apa manfaatnya? Buku itu lahir lantas mati, adakah kau ingin menghidupkannya di abad 20 ini?"

"Selain Anda, adakah orang lain yang berani bilang demikian?" tangkis si pengusul, "dosen Sastra Arab pun tak berani berujar seperti itu. Al Kitâb tak akan lapuk. Ia terus dikenal laiknya matahari mengelilingi belahan bumi dan orang-orang menaruh perhatian besar untuknya. Buktinya, tidak sedikit ulama yang menuliskan syarah, hasyiyah bahkan juga tafsir atas syahid di dalam karya Sibawaih."

"Justeru itu menunjukkan kalau buku itu tak layak diapresiasi," ia menyangkal, "karena sudah tak butuh akan penjelasan dan penelitian lagi."

Usulan itu ditolak. Dan satu abad sebelumnya, pada 1881, untuk pertama kalinya Hurtwigz Dernburgh, orientalis Perancis mencetak Al Kitâb di Paris.

Saturday, March 8, 2008

Buat Korban Kecemasan Kekuasaan

Kisah Usang Tikus-tikus Kantor

Yang Suka Berenang Di Sungai Yang Kotor

Kisah Usang Tikus-tikus Berdasi

Yang Suka Ingkar Janji

Lalu Sembunyi Di balik Meja Teman Sekerja

Di dalam Lemari Dari Baja

Kucing Datang

Cepat Ganti Muka

Segera Menjelma

Bagai Tak Tercela

Masa Bodoh Hilang Harga Diri

Asal Tidak Terbukti Ah

Tentu Sikat Lagi

Tikus-tikus Tak Kenal Kenyang

Rakus-rakus Bukan Kepalang

Otak Tikus Memang Bukan Otak Udang Kucing Datang

Tikus Menghilang

Kucing-kucing Yang Kerjanya Molor

Tak Ingat Tikus Kantor

Datang Men-teror

Cerdik Licik

Tikus Bertingkah Tengik

Mungkin Karena Sang Kucing

Pura-pura Mendelik

Tikus Tahu Sang Kucing Lapar

Kasih Roti Jalanpun Lancar

Memang Sial Sang Tikus Teramat Pintar

Atau Mungkin Si Kucing Yang Kurang

Ditatar !

___________

Tikus Tikus Kantor By Iwan Fals lirik dicopy dari septianka.web.ugm.ac.id dan gambar diambil dari mazirwan.blogspot.com