Friday, February 29, 2008

5000 Masisir

Saya bagian dari limaribu lebih mahasiswa yang studi di Universitas al Azhar. Saya bagian dari mereka yang ditantang bertaruh masa depan oleh jangka masa 4-5 tahun. Atau untuk sekarang ini, saya bagian dari akumulasi angka-angka yang disusun oleh sebuah birokrasi dalam tabel statistika prestasi akademik—penilaian yang memegang asas zero-sum. Satu orang gagal, grafik kelulusan kehilangan satu angka.

Saya mungkin secuil nuktah dari semesta pencerahan bangsa dan agama di masa mendatang; bagian dari jembatan raksasa transformasi khazanah keilmuan dan keislaman dari Asia Barat ke Asia Tenggara. Atau bisa jadi bagian dari sederet generasi linglung yang tak ada akuisisi intelektual selain materi-materi kuliah. Saya bagian dari mereka yang duduk was-was, bertaruh di meja judi takdir.

Karena dengan begitu, saya, sebagaimana yang lain, agar mengetahui bahwa Mesir hanya mengisi beberapa tahun dalam sejarah kehidupan kita. Limaribu lebih mahasiswa tentu bukan Imam Syafii yang menjadikan Mesir tempat peristirahatan yang damai, tak gaduh segaduh pergulatan politik Daulah Abbaseah di Baghdad dekat abad ketiga Hijriyah. Mereka datang dan mencari untuk kembali.

Kembali ke Tanahair. Karena semakin lama seseorang menunda kepulangan, semakin lama dia mempersiapkan diri untuk menata hidup di masa mendatang. Bukan kekal jasadiyah yang menjamin seseorang dikenang dan diapreasiasi. Aforisme dari Mesir Kuno bertutur, "Lakukan kebaikan agar kekal dirimu di bumi ini."

Semasa saya duduk di bangku dua Tsanawy (SMA-nya Mesir), guru sejarah saya yang orang Mesir tulen menolak menyebut negrinya hadiah Sungai Nil. Mesir bisa semegah begini, tempat beberapa peradaban menancapkan panji keemasannya, tempat artifak-artifak sejarah banyak ditemukan, justru karena kegigihan dan kemauan Bangsa Mesir untuk berkembang. Tak hanya Mesir yang dilewati sungai Nil yang tawar itu. Banyak tanah negri lain yang dialiri air Nil. Tapi toh, kata guru saya, mereka tak semampu dan tak semaju Mesir.

Ucapan guru saya tak beda dengan ucapan begini: "Indonesia bukan hadiah garis katulistiwa." Indonesia, seharusnya, negri tropis yang subur, salah satu koordinat paru-paru dunia. Indonesia, seharusnya, makmur dan bangkit ekonominya seperti China dan India. Indonesia, seharusnya, jadi prototipe ideal bangsa yang bermartabat dan bermoral tinggi mulai dari pejabat sampai rakyat. Indonesia, seharusnya, jadi Granada-nya Asia.

Tapi pada mulanya bukan hadiah. Kemakmuran atawa kesengsaraan sejatinya bukan ditentukan oleh Tangan yang tak terlihat, seperti kata Adam Smith. Ia berjarak dekat dari tangan manusia sendiri. Misalnya, Indonesia—masya'allah—mendapat predikat sebagai negara penghancur hutan terbesar di dunia, seperti dicatat Guinness Book of World Records 2008. Indonesia tidak memiliki hutan yang cukup untuk menyerap air hujan. Akibatnya, pada musim hujan, melandalah metamorfosis hujan: dari rahmat menjadi bencana, menjalar ke sudut-sudut pemukiman, sungai-sungai mapet tersendat sampah: musim dimana orang-orang tengah menjemput nujum yang kelam.

Kepada negri seperti itulah, 5000 Masisir akan kembali—dengan atau sonder tepat waktu. Kepada negri yang rakyatnya lebih suka "menanam jagung daripada menanam kelapa" itulah, mereka mengisi jaring-jaring peran. Kepada bangsa yang banyak dari pejabatnya didera phobia kecemasan kekuasaan itulah, mereka datang bercampur dan bekerjasama. Kepada bangsa yang bukan Mesir dengan kemudahan dan keterlenaannya, tapi peta kepulauan yang lebih mirip "Air Selokan"-nya Sapardi Djoko Damono. Di selokan itu mengalir air dari rumah sakit, mengalir pula air yang digunakan untuk memandikanmu waktu kau lahir. Dan senja ini ketika dua anak bermain di tepi selokan itu, tiba-tiba dari mereka menuding, "Hore, ada nyawa lagi terapung-apung di air itu—alangkah indahnya!". Tapi sayang sekali, kita mungkin tak menyaksikan yang berkilau-kilauan hanyut di permukaan air yang anyir baunya itu.

Memang gambaran bangsa yang lengkap kegawalannya. Jika Tuan, para "pemangku kepentingan" mual dengan gambaran itu, mohon maafkan si pengutip ini. Apa boleh buat, untuk negri seperti itulah, 5000 lebih mahasiswa harus berbenah diri. Pada awalnya bukan hadiah karena hadiah mensyaratkan sebuah ikhtiar. Dan Mesir sejak zaman Fir'aun dapat membuktikannya, sedikit-banyak. "Seseorang yang tak mengumpulkan kayu bakar di musim panas, akan sengsara menggigil di musim dingin." kata pepatah klasik Mesir.

Semakin banyak "kayu bakar" yang dikumpulkan 5000 mahasiswa di Mesir, semakin besar peluang bagi Indonesia untuk tidak terjungkal. Mahasiswa mempertaruhkan dirinya masing-masing. Masa depan tak lain adalah gejolak samudera perih. Masa depan bisa jadi adalah lautan bencana. Masa depan barangkali para Ismail, bayi Ismail renta, Ismail kanak Ismail pemuda yang dibantai. Sanggupkah bahtera Nuh berlayar? Sanggupkah tongkat musa menyibaknya? Sanggupkah bayi-bayi Ismail diselamatkan?—di masa depan bangsa kita.

Mungkin bisa misalnya bila mahasiswa dididik mandiri untuk tak lagi menghamburkan uang rakyat dari proposal yang tak jelas juntrung kegiatannya. Mungkin dapat seperti jika para wakil rakyat membuat keputusan yang tak memberatkan orang bawah. Mungkin bisa andai studi banding luar negri ditata dengan cermat dan transparan.

Sesudah itu, tinggal doa. Seperti doa Sutardji Calzoum Bahri, "Ya Tuhan, kuatkan selamatkan bangsaku dari derita beberapa Nabi!"

Wednesday, February 6, 2008

Waktu yang Baik untuk Memulai

Tak sengaja pagi ini, sekitar pukul setengah enam, saya berpapasan dengan guru saya. Beliau online di Indonesia dengan selisih waktu 5 jam lebih awal. Beliau bercerita banyak tentang perihal sekolah dan mondok tempat saya dan beliau dulu pernah menimba ilmu, alumni-alumni Kairo seangkatannya yang dahulu jadi “teman” berdebat bahasa Arab bersama kami. Dan laiknya guru juga orang tua, sebelum offline, wejangan-wejangan penting berkali-kali ia tulis—meski di tiap akhir pesannya, beliau bubuhkan sign :-P.

Saya teringat tempo 3 tahun silam: saya duduk di bangku dua Aliyah Raudlatul Ulum Pati, hari Senin sampai Kamis saban minggu selalu pake dasi, menggerakkan ISRU (semacam OSIS), menggarap buletin Firdaus dan majalah Bangkit dan mendirikan Jamrud.

Adapun Jamrud adalah organisasi bahasa arab kami. Ia singkatan dari Jami’iyyah Rafi’ud Dakwah. Namanya sungguh berkelas memang. Kegiatannya hanya ber-cas cis cus, berdiskusi, muhawarah dengan bahasa Arab. Kenangan paling berkesan, tentunya saat kami mengadakan debat bahasa arab (Nadwah Ilmiyah), secara khusus mengundang guru-guru kami lulusan Universitas Al Azhar (di antaranya beliau), berhadap-hadapan. Tak kepalang tanggung persiapan kami, delapan orang, bagaimana agar kami tak “dibantai” oleh beliau-beliau yang jelas sudah di atas angin. dulu, hampir malam kami berlatih, mengumpulkan bahan rujukan. Dan siang itu, di auditorium sekolah kami, dengan pengeras suara, kami berdebat dengan beliau-beliau. Tema waktu itu lumayan berat untuk ukuran anak-anak selugu kami: “Apakah Al Qur’an Merupakan Sumber dari Sains?”

Sejak saat itu, tak sekali pun saya mengulang nostalgia semacam itu—meski sudah 2 tahun hidup di bumi kinanah ini. Mata saya goyah oleh besutan iklim dinamika mahasiswa Kairo yang tak memberi input lebih untuk pengembangan bakat yang satu ini: berkualitas dalam berbicara dan menulis Arab.

Dari sini, obrolan saya dan beliau berlanjut. Wejangannya tulus nan kontemplatif: aku terlanjur menyesal tidak (cukup) mendalami menulis dan muhawarah bahasa Arab... Jangan seperti kita! Kelemahan mahasiswa Kairo terletak pada minimnya kemampuan mereka untuk berbicara, menulis, menuangkan ide dengan wasilah bahasa Arab.

Pesan serupa pun dilontarkan oleh guru saya yang lain. Saat ini universitas-universitas Islam Indonesia, kata beliau, tengah membutuhkan alumni-alumni Timur Tengah yang mahir berbahasa arab fusha. Hanya yang kapabel yang dipilih tentu.

Sudah dua guru yang mengingatkan saya untuk hal yang satu ini. Sehingga pagi ini, aku menyusun beberapa pertanyaan.

Apa yang sudah kamu tuai selama dua setengah tahun di sini?

Karya apa yang telah kauhasilkan?

Berapa tahun lagi kau ingin“membusuk” di sini?

Jangan jadi cacing yang tak jelas mana ekor mana kepala

Jangan buat sepatu lamamu meski kau punya sepatu baru

Jangan pernah mengkhianati doa dan harapan mereka

Jika bercermin, saya pasti melihat wajah yang dungu...