5000 Masisir
Saya bagian dari limaribu lebih mahasiswa yang studi di Universitas al Azhar. Saya bagian dari mereka yang ditantang bertaruh masa depan oleh jangka masa 4-5 tahun. Atau untuk sekarang ini, saya bagian dari akumulasi angka-angka yang disusun oleh sebuah birokrasi dalam tabel statistika prestasi akademik—penilaian yang memegang asas zero-sum. Satu orang gagal, grafik kelulusan kehilangan satu angka.
Saya mungkin secuil nuktah dari semesta pencerahan bangsa dan agama di masa mendatang; bagian dari jembatan raksasa transformasi khazanah keilmuan dan keislaman dari Asia Barat ke Asia Tenggara. Atau bisa jadi bagian dari sederet generasi linglung yang tak ada akuisisi intelektual selain materi-materi kuliah. Saya bagian dari mereka yang duduk was-was, bertaruh di meja judi takdir.
Karena dengan begitu, saya, sebagaimana yang lain, agar mengetahui bahwa Mesir hanya mengisi beberapa tahun dalam sejarah kehidupan kita. Limaribu lebih mahasiswa tentu bukan Imam Syafii yang menjadikan Mesir tempat peristirahatan yang damai, tak gaduh segaduh pergulatan politik Daulah Abbaseah di Baghdad dekat abad ketiga Hijriyah. Mereka datang dan mencari untuk kembali.
Semasa saya duduk di bangku dua Tsanawy (SMA-nya Mesir), guru sejarah saya yang orang Mesir tulen menolak menyebut negrinya hadiah Sungai Nil. Mesir bisa semegah begini, tempat beberapa peradaban menancapkan panji keemasannya, tempat artifak-artifak sejarah banyak ditemukan, justru karena kegigihan dan kemauan Bangsa Mesir untuk berkembang. Tak hanya Mesir yang dilewati sungai Nil yang tawar itu. Banyak tanah negri lain yang dialiri air Nil. Tapi toh, kata guru saya, mereka tak semampu dan tak semaju Mesir.
Ucapan guru saya tak beda dengan ucapan begini: "Indonesia bukan hadiah garis katulistiwa." Indonesia, seharusnya, negri tropis yang subur, salah satu koordinat paru-paru dunia. Indonesia, seharusnya, makmur dan bangkit ekonominya seperti China dan India. Indonesia, seharusnya, jadi prototipe ideal bangsa yang bermartabat dan bermoral tinggi mulai dari pejabat sampai rakyat. Indonesia, seharusnya, jadi Granada-nya Asia.
Tapi pada mulanya bukan hadiah. Kemakmuran atawa kesengsaraan sejatinya bukan ditentukan oleh Tangan yang tak terlihat, seperti kata Adam Smith. Ia berjarak dekat dari tangan manusia sendiri. Misalnya, Indonesia—masya'allah—mendapat predikat sebagai negara penghancur hutan terbesar di dunia, seperti dicatat Guinness Book of World Records 2008. Indonesia tidak memiliki hutan yang cukup untuk menyerap air hujan. Akibatnya, pada musim hujan, melandalah metamorfosis hujan: dari rahmat menjadi bencana, menjalar ke sudut-sudut pemukiman, sungai-sungai mapet tersendat sampah: musim dimana orang-orang tengah menjemput nujum yang kelam.
Kepada negri seperti itulah, 5000 Masisir akan kembali—dengan atau sonder tepat waktu. Kepada negri yang rakyatnya lebih suka "menanam jagung daripada menanam kelapa" itulah, mereka mengisi jaring-jaring peran. Kepada bangsa yang banyak dari pejabatnya didera phobia kecemasan kekuasaan itulah, mereka datang bercampur dan bekerjasama. Kepada bangsa yang bukan Mesir dengan kemudahan dan keterlenaannya, tapi peta kepulauan yang lebih mirip "Air Selokan"-nya Sapardi Djoko Damono. Di selokan itu mengalir air dari rumah sakit, mengalir pula air yang digunakan untuk memandikanmu waktu kau lahir. Dan senja ini ketika dua anak bermain di tepi selokan itu, tiba-tiba dari mereka menuding, "Hore, ada nyawa lagi terapung-apung di air itu—alangkah indahnya!". Tapi sayang sekali, kita mungkin tak menyaksikan yang berkilau-kilauan hanyut di permukaan air yang anyir baunya itu.
Memang gambaran bangsa yang lengkap kegawalannya. Jika Tuan, para "pemangku kepentingan" mual dengan gambaran itu, mohon maafkan si pengutip ini. Apa boleh buat, untuk negri seperti itulah, 5000 lebih mahasiswa harus berbenah diri. Pada awalnya bukan hadiah karena hadiah mensyaratkan sebuah ikhtiar. Dan Mesir sejak zaman Fir'aun dapat membuktikannya, sedikit-banyak. "Seseorang yang tak mengumpulkan kayu bakar di musim panas, akan sengsara menggigil di musim dingin." kata pepatah klasik Mesir.
Semakin banyak "kayu bakar" yang dikumpulkan 5000 mahasiswa di Mesir, semakin besar peluang bagi Indonesia untuk tidak terjungkal. Mahasiswa mempertaruhkan dirinya masing-masing. Masa depan tak lain adalah gejolak samudera perih. Masa depan bisa jadi adalah lautan bencana. Masa depan barangkali para Ismail, bayi Ismail renta, Ismail kanak Ismail pemuda yang dibantai. Sanggupkah bahtera Nuh berlayar? Sanggupkah tongkat musa menyibaknya? Sanggupkah bayi-bayi Ismail diselamatkan?—di masa depan bangsa kita.
Sesudah itu, tinggal doa. Seperti doa Sutardji Calzoum Bahri, "Ya Tuhan, kuatkan selamatkan bangsaku dari derita beberapa Nabi!"

