Ujian
Saya tak tahu sudah berapa banyak ujian, seperti ujian di hari-hari ini, saya jalani. Duduk di ruang yang tenang, sendirian, disodorkan pertanyaan-pertanyaan, menulis jawabannya di lembar lain yang tersedia. Dan untuk itu, harus belajar melawan suntuk di malam ujiannya. Agar bisa menjawab soal dengan tepat. Saya tak tahu sudah berapa banyak ujian-ujian seperti itu saya jalani dalam hidup ini.
Ada yang membisiki saya: tak ada gunanya kamu tahu. Menghitung berapa kali sudah otak kamu diperas ketika mendekati ujian, sama halnya menghitung detak jantung perhari. Intinya, ujian memang keniscayaan dalam hidup. Apalagi kamu, seorang pelajar, pencari ilmu.
Lantas untuk apa?
Saya mencari ilmu bukan untuk persiapan menghadapi ujian. Saya belajar, membaca buku bukan untuk menjawab soal-soal yang berderet di secarik kertas HVS A4. Saya menulis, mengingat, berangkat tiap pagi ke kuliah, sejatinya, bukan untuk menyabet ijazah dengan barisan nilai-nilai tinggi menjulang. “Untuk menghilangkan kebodohan,” pesan bapak tempo dulu. Tapi Bapak, untuk menghilang Kebodohan (dengan “K” besar) orang tak cukup hanya makan bangku sekolah.
Lantas untuk apa, dua kali dalam satu tahun ajaran, saya kudu datang pagi-pagi ujian?
Suara lain menegur saya: untuk mengukur kemampuan kamu. Untuk mengetahui prestasi kamu. Lalu nilai kamu dibandingkan dengan kawan-kawanmu. Kemudian disusunlah peringkat. Siapa yang tertinggi, dialah si bintang kelas, penyabet nilai tertinggi—kedudukan yang hanya bisa dicapai dengan ujian.
Untuk apa prestasi itu? Toh, prestasi seorang pelajar, tak bisa hanya dipandang dari berapa banyak soal-soal yang ia jawab dengan benar. Kehidupan seorang pelajar tak berhenti di ruang kelas yang dimulai pukul tujuh pagi. Saya sangsi, benarkah sekolah merupakan “pabrik” yang mencetak masa depan buat perkepala anak didik. Dengan demikian, untuk apa saya ujian?
Ada yang mengirimkan sandek ke saya. Bunyinya kira-kira sangat tepat untuk menjawabnya: “kadang kita membutuhkan pengakuan” (saya tak tahu, pengakuan atas apa dan dari siapa). Dia menyarankan saya, yang menilai bahwa saya menganggap ujian seperti mangsa menstruasi perempuan, untuk menjadikan ujian itu sebagai jalan untuk meraih pengakuan itu. Dan sifat ujian, tambahnya, memang memaksa.
Pendapatnya, menurut saya, ada benarnya. Ujian itu memaksa saya untuk belajar, membaca diktat kuliah. Memaksa setiap anak didik untuk mempersiapkan diri seratus persen. Tak ada kesungguhan belajar andai institusi tak mewajibkan ujian. Agar mereka sungguh mengukur prestasi sebaik-baiknya dengan usaha yang paling maksimal untuk mendapatkan "pengakuan". Ada ceritanya, di Jepang, pernah anak didik didera pobia sekolah, lantaran apa yang disebut prestasi adalah mereka yang lulus sekolah atau universitas dengan angka tinggi. Sebab angka tinggi adalah jaminan hidup di masa depan.
Tapi saya sungguh tak tertarik dengan itu semua. Atau seperti anak Jepang, harus siap mengguyur kepala mereka dengan air dingin ketika diinjak kantuk. Saya tak tahu lagi, bagaimana harus "menggatuk-gatukkan" prinsip luhur "untuk menghilangkan kebodohan" dengan duduk di bangku kuliah. Saya mencemooh diri saya sendiri: berapa sih dari jumlah seluruh mata pelajaran yang pernah saya lahap, materi yang saya butuhkan dalam hidup ini?
saya teringat Ivan Illiach. Dia pernah bilang, "Ada dua hal yang berharga dalam masa-masa di bangku sekolah: teman dan pertemuan,"
Sedihnya, saya baru membaca kalimat itu beberapa hari yang lalu. Saya menyadari, sekarang kesempatan untuk mendapatkan dua hal itu adalah perjuangan yang paling berat. Justru datang sekolah bukan untuk mengoleksi prestasi.
Mungkin dengan begitu, menimba ilmu tidak selalu dipamrihkan dengan prestasi. Cerita bapak, ia tak sekolah tinggi-tinggi amat. Ia hanya rajin ngaji Senin-Kamis di Kajen. Ia tak bawa buku. Hanya modal mendengarkan. Sang kyai membacakan kitab, menerangkan, menjawab kalau ada beberapa pendengar yang bertanya. Ngajinya tak menuntut ujian. Waktu kecil, beberapa kali saya diajaknya meski saya tak bisa mengerti pikiran orang-orang yang kebanyakan umurnya di atas 40 tahun.
Tapi semangatnya tak menua. Mereka tetap istiqomah. Apakah dengan pertemuan seperti itu, justru "ilmu yang berguna" bisa didapat untuk menjalani hidup ini— setidaknya "untuk menghilangkan kebodohan"?

