Friday, January 18, 2008

Ujian

Saya tak tahu sudah berapa banyak ujian, seperti ujian di hari-hari ini, saya jalani. Duduk di ruang yang tenang, sendirian, disodorkan pertanyaan-pertanyaan, menulis jawabannya di lembar lain yang tersedia. Dan untuk itu, harus belajar melawan suntuk di malam ujiannya. Agar bisa menjawab soal dengan tepat. Saya tak tahu sudah berapa banyak ujian-ujian seperti itu saya jalani dalam hidup ini.

Ada yang membisiki saya: tak ada gunanya kamu tahu. Menghitung berapa kali sudah otak kamu diperas ketika mendekati ujian, sama halnya menghitung detak jantung perhari. Intinya, ujian memang keniscayaan dalam hidup. Apalagi kamu, seorang pelajar, pencari ilmu.

Lantas untuk apa?

Saya mencari ilmu bukan untuk persiapan menghadapi ujian. Saya belajar, membaca buku bukan untuk menjawab soal-soal yang berderet di secarik kertas HVS A4. Saya menulis, mengingat, berangkat tiap pagi ke kuliah, sejatinya, bukan untuk menyabet ijazah dengan barisan nilai-nilai tinggi menjulang. “Untuk menghilangkan kebodohan,” pesan bapak tempo dulu. Tapi Bapak, untuk menghilang Kebodohan (dengan “K” besar) orang tak cukup hanya makan bangku sekolah.

Lantas untuk apa, dua kali dalam satu tahun ajaran, saya kudu datang pagi-pagi ujian?

Suara lain menegur saya: untuk mengukur kemampuan kamu. Untuk mengetahui prestasi kamu. Lalu nilai kamu dibandingkan dengan kawan-kawanmu. Kemudian disusunlah peringkat. Siapa yang tertinggi, dialah si bintang kelas, penyabet nilai tertinggi—kedudukan yang hanya bisa dicapai dengan ujian.

Untuk apa prestasi itu? Toh, prestasi seorang pelajar, tak bisa hanya dipandang dari berapa banyak soal-soal yang ia jawab dengan benar. Kehidupan seorang pelajar tak berhenti di ruang kelas yang dimulai pukul tujuh pagi. Saya sangsi, benarkah sekolah merupakan “pabrik” yang mencetak masa depan buat perkepala anak didik. Dengan demikian, untuk apa saya ujian?

Ada yang mengirimkan sandek ke saya. Bunyinya kira-kira sangat tepat untuk menjawabnya: “kadang kita membutuhkan pengakuan” (saya tak tahu, pengakuan atas apa dan dari siapa). Dia menyarankan saya, yang menilai bahwa saya menganggap ujian seperti mangsa menstruasi perempuan, untuk menjadikan ujian itu sebagai jalan untuk meraih pengakuan itu. Dan sifat ujian, tambahnya, memang memaksa.

Pendapatnya, menurut saya, ada benarnya. Ujian itu memaksa saya untuk belajar, membaca diktat kuliah. Memaksa setiap anak didik untuk mempersiapkan diri seratus persen. Tak ada kesungguhan belajar andai institusi tak mewajibkan ujian. Agar mereka sungguh mengukur prestasi sebaik-baiknya dengan usaha yang paling maksimal untuk mendapatkan "pengakuan". Ada ceritanya, di Jepang, pernah anak didik didera pobia sekolah, lantaran apa yang disebut prestasi adalah mereka yang lulus sekolah atau universitas dengan angka tinggi. Sebab angka tinggi adalah jaminan hidup di masa depan.

Tapi saya sungguh tak tertarik dengan itu semua. Atau seperti anak Jepang, harus siap mengguyur kepala mereka dengan air dingin ketika diinjak kantuk. Saya tak tahu lagi, bagaimana harus "menggatuk-gatukkan" prinsip luhur "untuk menghilangkan kebodohan" dengan duduk di bangku kuliah. Saya mencemooh diri saya sendiri: berapa sih dari jumlah seluruh mata pelajaran yang pernah saya lahap, materi yang saya butuhkan dalam hidup ini?

saya teringat Ivan Illiach. Dia pernah bilang, "Ada dua hal yang berharga dalam masa-masa di bangku sekolah: teman dan pertemuan,"

Sedihnya, saya baru membaca kalimat itu beberapa hari yang lalu. Saya menyadari, sekarang kesempatan untuk mendapatkan dua hal itu adalah perjuangan yang paling berat. Justru datang sekolah bukan untuk mengoleksi prestasi.

Mungkin dengan begitu, menimba ilmu tidak selalu dipamrihkan dengan prestasi. Cerita bapak, ia tak sekolah tinggi-tinggi amat. Ia hanya rajin ngaji Senin-Kamis di Kajen. Ia tak bawa buku. Hanya modal mendengarkan. Sang kyai membacakan kitab, menerangkan, menjawab kalau ada beberapa pendengar yang bertanya. Ngajinya tak menuntut ujian. Waktu kecil, beberapa kali saya diajaknya meski saya tak bisa mengerti pikiran orang-orang yang kebanyakan umurnya di atas 40 tahun.

Tapi semangatnya tak menua. Mereka tetap istiqomah. Apakah dengan pertemuan seperti itu, justru "ilmu yang berguna" bisa didapat untuk menjalani hidup ini— setidaknya "untuk menghilangkan kebodohan"?

Saturday, January 5, 2008

Catatan Akhir Tahun untuk Negri Tercinta

Tahun 2007 berlalu. Resume raut Indonesia dalam usia kesembilannya pasca reformasi, tak saya temui di surat-surat kabar—entah saya yang mungkin malas. Jika pun ada, itu mungkin tak sepolos email yang terkirim ke milis angkatan sekolah saya, Urwatulwutsqo pada hari Senin, 31 Desember 2007 pukul 15:09:06 WIB. Surat itu masuk dari teman saya, Indah. Saya langsung menebak: suratnya pasti panjang, isinya meluap ke segala penjuru yang dapat disauh akalnya, bahasanya lebih mirip seseorang yang menulis diari...

Barangkali itu kado terindah Happy New year 2008: hadiah yang mengajak bertafakkur. Dia bercerita banyak hal seputar Indonesia. Emailnya mencerminkan kegelisahan, harapan dan munajat seorang mahasiswi UGM semester 3. Walaupun dia tak yakin 100 persen email panjangnya itu akan dibaca seluruh members.

"Kita memang harus berani bermimpi. Kita memang tidak bisa meremehkan kekuatan dari mimpi-mimpi kita. Mimpi adalah suplemen bagi langkah kita ke depan. Ada quote dari novel Laskar Pelangi, 'Bermimpilah karena Tuhan akan memeluk mimpi itu!'... Jika kita semua bersatu dan solid, pasti negara kita akan mampu menyaingi Amerika."

"Negara tetangga kita, Malaysia, hobi mengklaim properti-properti bangsa Indonesia. Kita boleh merasa muak dengan tingkah laku malaysia yang menyebalkan itu. Tapi kita juga perlu memberikan sedikit ucapan terima kasih untuknya yang telah memberi 'tamparan' bagi bangsa kita. Selama ini kita cuek. Para petinggi Negara lebih sibuk mengurusi perbedaan pendapatan. Budaya kita yang subhanallah jumlah dan jenisnya, kurang mendapatkan perhatian serius. Nah, begitu Malaysia mengklaim budaya 'asli Indonesia' menjadi 'truly Malaysia', kita semua baru sadar, baru melek dari tidur panjang... Kenapa?"

"Saya tahu, ini bukan waktunya bertanya dan menyalahkan. Saya tahu pemerintah juga sibuk dengan berbagai masalah yang menimpa negeri ini: banjir, tanah longsor, kemiskinan, kesenjangan sosial, pengangguran, korupsi, narkoba, AIDS, global warming, dan seabreg masalah kompleks. Tetapi, belum ada perbaikan yang berarti. Bahkan, keadaan bangsa Indonesia terasa semakin menyedihkan. Kita memang terkenal sebagai bangsa yang lalai dan lupa. Begitu alpa begitu lupa. Saya prihatin dan sedih melihat carut marut negeri kita."

"Jelas kita kalah di mahkamah internasional dari Malaysia. Karena kita tidak memiliki cukup bukti otentik yang menguatkan bahwa Pulau Sigitan dan Lipadan milik kita. Kita yang punya pulau, namun yang membangun infrastruktur malah Malaysia... Dalam pelajaran Sistem Informasi Geografis yang saya dapatkan di kuliah, setiap Negara harus merilis foto udara yang memuat seluruh wilayah negaranya untuk diakui secara internasional. Dan perlu kalian tahu, biaya untuk untuk membuat foto udara itu adalah puluhan miliar rupiah!... Malaysia tidak segan-segan mengeluarkan budget yang banyak untuk selalu merilis dan mengupdate foto udara demi keutuhan negaranya (bahkan untuk ekspansi)."

"Bandingkan dengan negara kita yang notabene taraf perekonomiannya sekarat. Foto udara belum diupdate, old fashioned, sehingga masih banyak pulau-pulau kecil belum terinventaris... Sebenarnya negara kita mampu, ANDAI TIDAK ADA KORUPSI!"

"Baru-baru ini saya mengamati iklan terbaru jamu Tolak Angin yang dibintangi Butet Kertaradjasa dan Agnes Monica dengan tempat syuting di Bali. Iklan ini sangat menarik menurut saya, sesuai dengan masalah yang dihadapi bangsa Indonesia. Dalam iklan tersebut Agnes dan Butet menyanyikan lagu Rasa Sayange, lagu kita yang diklaim Malaysia. Dalam iklan tersebut ada juga yang lain: Reog Ponorogo, Tari Pendet, Batik, dll. Agnes mengatakan itu semua adalah 'TRULY INDONESIA' Menurut saya ini bermaksud untuk menyindir Malaysia... sekaligus pengingat bagi bangsa Indonesia. Semoga pemerintah semakin memberi perhatian. Pemerintah harus rajin, promosi dan pengenalan budaya kepada dunia internasional harus lebih ditingkatkan."

Ia juga bicara tentang bahasa daerah yang kian punah. "Saya pernah membaca bahwa setiap hari, ratusan kosa kata bahasa daerah hilang. Bahasa daerah semakin tertatih-tatih. Saya terkejut membaca bahwa Candi Borobudur sudah dihapus dari daftar tujuh keajaiban dunia. Ini sungguh tidak adil. Bangunan yang didirikan Wangsa Syailendra tersebut sangat eksotik dan artistik. Tetapi lagi-lagi Indonesia hanya bisa gigit jari menerima kenyataan. Apa karena kita lemah dan remeh dalam dunia internasional? Saya tidak habis pikir... sebagai negara berkembang, kita memang harus sabar."

"Tetapi kita masih harus bersyukur: Indonesia mampu mempertahankan prestasi yang membanggakan. Dalam bidang bulutangkis, kita masih jagoan. Dalam bidang musik, dunia Indonesia jauh lebih bagus dibandingkan Malaysia. Banyak musisi berbakat kita sukses mengadakan tour di negara-negara tetangga. Album musisi Indonesia juga laris manis di Malaysia... Dalam tahun 2007, telah banyak diproduksi film-film baru yang meramaikan teater Indonesia. Kita harus mengacungkan jempol untuk film Nagabonar Jadi 2 dan Denias yang menyabet beberapa award baik nasional maupun internasional, yang ternyata sedang digemari di Malaysia sekarang. Makanya, jangan heran kalau Malaysia itu sebenarnya sirik berat sama kita!"

"Saya suka iklan rokok Gudang Garam yang memperlihatkan betapa eloknya negeri kita. Lautan biru terhampar. Gunung yang gagah tinggi menjulang. Saya sedih, keindahan itu akan pudar padahal saya belum sempat menyaksikannya secara langsung. Bumi yang kita huni sudah semakin renta. Global warming dan kenaikan permukaan laut akibat es di kutub yang mencari bukan lagi omong kosong. Ancaman lingkungan sudah benar-benar serius. Stop global warming!"

"Tahun baru tinggal menunggu hitungan menit. Semoga kita, negeri kita, dan bumi kita mempunyai masa depan yang lebih baik..

"Salam cinta atas nama perjuangan, dan salam perjuangan atas nama cinta."

Ia terus mendoakan tanahairnya. Ia masih menaruh Indonesia "di sudut hati, di tepi mimpi, di pojok otaknya".