Belajar dari Ahmadiyah
Tentu frase di atas bisa kita teruskan: bukan hanya negara, tapi juga sekelompok orang yang menyebut dirinya penjaga syariat Islam dan ribuan massa yang mengkapling kebenaran hanya bersemayam dalam kelompoknya dan kelompok di luar dirinya adalah murtad, kotor, berbahaya seperti parasit yang harus dibasmi...
Barangkali negara yang “bertindak melebihi Tuhan” itu memiliki alasan. Karena Ahmadiyah mengganggu ketertiban umum, misalnya. Atau mereka yang alim yang berhak memutuskan mana agama yang sah dan yang tidak, berargumentasi: ini masalah keyakinan, tak ada sangkut pautnya dengan demokrasi. Demokrasi memang menjaga kehidupan manusia—entah mau beragama atau tidak—tapi keyakinan yang “salah” selalu digiring ke pilihan yang sulit (dan mustahil): kembali ke jalan yang “benar”, atau keluar dari keyakinan umum dan mendirikan agama baru—demokrasi tak berkutik duduk di bawah keyakinan yang tak mengakui keyakinan lain.
Adakah pergulatan seperti itu yang terjadi pada hari itu? Tuhan memberikan kebebasan—dan kebebasan memungkinkan perbedaan—seperti seni atau estetika kepada manusia untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya. Adakah Ia melarang menikmati sesuatu yang telah diberikan-Nya? Teknologi, komputer, internet, seni kaligrafi, kemegahan dan segala kemudahan hidup mungkin bak ubi jalar yang merambat senyap-senyap di mimpi tiap umat Islam yang mengoyak kemurnian keislaman mereka. Karena teknologi dkk tak ubahnya limbah duniawi yang mengikis kedekatan dan perhatian kita dengan alam, dengan lingkungan. Semakin modern suatu zaman yang ditandai globalisasi ruang dan waktu, kemurnian agama “terancam”. Adakah demikian agama memandang zaman?
Perlakuan menyedihkan yang menimpa pengikut Ahmadiyah mungkin berasal dari gema penyesatan dan pengkafiran yang gemuruh segemuruh gema pemurnian (puritanisasi). Bak gelombang yang saling berkejaran, bergulung-gulung, ia hendak melahap seluruh kemungkinan untuk berbeda—tentang tafsir dalam beragama—dari pikiran dan hati kita. Pemahaman ini menyerupakan kita seperti anak kecil yang hanya boleh mengambil apa yang diberikan kepada kita. Tapi kepada mereka yang terbersit keyakinan bahwa Ahmadiyah sesat, apa yang sesat dari gerakan yang masuk di Indonesia pada tahun 1924 itu? Lantaran tuduhan bahwa keyakinan merekakah yang mengangkat Mirza sebagai “nabi”? Ataukah Tadzkirah yang mereka posisikan kitab suci bukan al Qur’an? Ataukah kita memang mendahulukan kekerasan daripada dialog? Bahasa apa yang mereka teriakkan?
Bahasa kekerasan; bahasa yang tak mengapresiasi dialog; bahasa yang tak menerima konsep kenabian Ahmadiyah; bahasa yang meneriakkan bahwa menghancurkan Ahmadiyah bagian amar ma’ruf nahi munkar; bahasa yang sonder menyediakan kesempatan untuk mendengar.
Wahai Ahmadiyah, inikah takdirmu yang selalu diburu-buru di negri dimana tokoh-tokohmu turut andil dalam perjuangan pembebasan bangsa ini? Puluhan Masjid dibakar, rumah-rumah pengikutnya dirusak, ratusan penduduk terpaksa mengungsi. Inikah riwayatmu yang secara jelas engkau menyatakan bahwa Nabi Muhammad tetap nabi pamungkas—dengan konsep kenabian yang berbeda dengan yang diyakini kaum suni, syi’ah atau kelompok yang membakar masjidmu—dan membuka masjidmu untuk siapapun juga? Kepada engkau yang minoritas, yang dinyatakan sesat itu, apa yang bisa kita katakan?
Jauh sebelum kamu, di Baghdad pada abad 10, ada seorang alim bernama Al Hallaj. Seperti kamu, karena pemahaman yang berbeda dengan ulama mayoritas, beliau, di bawah pedang inkuisisi khalifah Al Muqtadir, memperteguh apa yang diyakininya.
Syahdan, Al Hallaj berkata pada salah seorang khadamnya, “Kudengar banyak yang meributkanku. Ada yang bilang aku ini orang suci. Ada juga yang bilang aku telah ingkar pada Tuhan. Aku lebih suka yang kedua itu... karena mereka yang mengatakan aku mengingkari Tuhan adalah mereka yang begitu gigih mencintai agama mereka.” “Orang yang mencintai agamanya lebih berharga bagiku dan bagi Tuhan pula ketimbang orang yang mengagungkan sesama makhluk...” lanjutnya.
Tapi beliau wafat dipancung dan 11 abad berlalu tanpa pernyataan kalau keyakinan yang mengvonisnya lurus dan beliau sendiri sesat. Kini, apa yang bisa katakan? Apakah mereka alpa dan sejarah yang muram harus terperanjat untuk kedua kali? Jika alpa, pasti mereka alpa sajak-sajak Al Hallaj berikut ini:
"Dengar dukaku, ya Engkau!
Bagi mereka yang akan lenyap dan tiada,
Seperti kaum 'Ad yang alpa atau
Taman Duniawi yang telah lama sirna!
Dan kemudian kelompok yang ditinggalkan pun mengelana,
Tersaruk-saruk dan buta, lebih buta dari kawanan domba."
Dari kasus Ahmadiyah, kita peroleh pengetahuan tentang kita, bangsa kita, sikap kita menghadapi perbedaan.


0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home