Dari Sebuah Mimpi
Ibrahim alaissalam tidur dan ia bermimpi bahwa ia menyembelih darah dagingnya sendiri—setelah ia baru mendapatkannya beberapa tahun dari istri keduanya, Hajar. “Apa gerangan pendapatmu, wahai anakku?” tanyanya meminta pertimbangan. Keraguannya lenyap saat ia mendengar tanggapan Ismail. Dengan pasrah penuh seluruh, ia berkata, “Lakukan apa yang diperintahkan kepadamu!” Keyakinan itu tergurat di paras Ismail bahwa perintah Tuhan—seberat apapun itu yang sekilas terkadang tidak masuk akal—mengandung hikmah yang tak terpermanai.
Hamba yang shalih itu teguh. Ia membaringkan anaknya di pelipisnya dan ia siap menyembelihnya—al Qur’an menyebutkan kondisi mereka tengah sampai di puncak “berserah diri”. Lalu subhânallâh, Ismail selamat dan “Kami tebus dengan sesembelihan yang besar”. Ibrahim berhasil menjalankan perintah Tuhan, sukses merajai iba dan perasaannya sendiri. Lalu kita yang hidup berabad-abad sesudahnya, mengamalkannya dalam ritus 10 Dzulhijjah. Ternyata, syariat tak hadir sekonyong-konyong dari langit, ia hadir oleh episode pengalaman manusia—atas arahan Tuhan—di satu sudut ruang dan waktu. Dengan arti lain, syariat Islam berasal dari pengalaman manusia dalam proses kesejarahan. Maka jauh dari tempat penyembelihan itu, tempat yang oleh orang-orang Eropa—karena pengaruh mitologi Yahudi—disebut sebagai “tempat pembuangan Adam dan Hawa dari surga”, tertebar ibrah dari perilaku yang “tak masuk akal” itu.
Barangkali di antaranya, bahwa keikhlasan (berasal dari khazanah arab, Ikhlâsh yang mempunyai makna: menyingkirkan segala jenis kekeruhan yang menyebabkan sesuatu kotor) pengabdian hamba butuh ujian. Dan hasil dari ujian adalah pengakuan atas kadar keimanannya. Karena iman yang tak syak, niat yang tak berpamrih berbanding lurus dengan ikhtiar yang tak menyisakan bisik-bisik pertanyaan, maka “aku iman, maka aku ada”.
Namun kita hidup jauh dari zaman itu dan acapkali sulit menangkap titik suluhnya dan menularkannya. Kita memang mengulangi ritus ini saban tahun tapi tahukah untuk apa kita dihimbau mengikuti dan mengenangnya? Mungkin salah satu jawabnya: itulah sebabnya kenapa kita diperintahkan (yang dalam fiqh dihukumi Sunnah) shalat dan ber-Qurban seperti menyembelih hewan Qurban sebagai ikhtiar mendekatkan diri kepadaNya. Pada saat inilah, seperti diwartakan koran dan majalah, si miskin bisa merasakan nikmatnya keselilitan daging. Aku iman maka aku ada karena iman menuntut pengorbanan.
Saya tak tahu apa beda antara “ber-korban” dengan “ber-qurban”. Yang saya ketahui, sejak masa Ibrahim yang silam sampai sekarang, idul adha yang menyedihkan (sebagian) umat Islam adalah 10 Dzulhijjah yang bertepatan dengan 30 Desember 2006. Saddam Husein dieksekusi di tiang gantungan dalam umur 69 tahun. Mengingatnya berarti mengingat moment di mana ada orang-orang Islam yang merayakan dua kemenangan sekaligus dan di saat yang sama, ada orang yang melewati hari ini dengan sedih. Cerita Saddam memang berakhir. Namun siapakah yang menjamin, dengan perginya orang nomor satu Irak sejak tahun 1979, maaf pun turut mengirinya saat seutas tali gantungan mematahkan lehernya?
Keadilan memang menuntut hak dengan secepat-cepatnya. Tapi bukan keadilan namanya, kalau keadilan menyebabkan efek samping ketidakadilan. Barangkali peristiwa setahun silam itu, kita akan menyebutnya sebagai konspirasi. Sangat menyakitkan bagi mereka yang kalah dan dipojokkan—seperti yang terjadi saat kita memperingati Hari Kemerdekaan pada Agustus di tahun ini.


