Wednesday, December 19, 2007

Dari Sebuah Mimpi

Idul Adha berkumandang. Inilah moment yang tepat untuk tapak tilas riwayat hamba yang harus merelakan benda yang dikasihi untuk dikorbankan sebagai bukti bahwa dia mendaulat ada Dzat yang lebih dikasihi—dan harus dipatuhi pertama kali daripada ego di hati. Hamba itu Ibrahim, rasul Allah yang meletakkan batu pertama Ka’bah, bangunan berbentuk kubus hitam di jantung Makkah yang sekarang dikunjungi 3 juta lebih umat Islam dari sentaro dunia. Kita akan mengingatnya untuk beberapa jenak.

Ibrahim alaissalam tidur dan ia bermimpi bahwa ia menyembelih darah dagingnya sendiri—setelah ia baru mendapatkannya beberapa tahun dari istri keduanya, Hajar. “Apa gerangan pendapatmu, wahai anakku?” tanyanya meminta pertimbangan. Keraguannya lenyap saat ia mendengar tanggapan Ismail. Dengan pasrah penuh seluruh, ia berkata, “Lakukan apa yang diperintahkan kepadamu!” Keyakinan itu tergurat di paras Ismail bahwa perintah Tuhan—seberat apapun itu yang sekilas terkadang tidak masuk akal—mengandung hikmah yang tak terpermanai.

Hamba yang shalih itu teguh. Ia membaringkan anaknya di pelipisnya dan ia siap menyembelihnya—al Qur’an menyebutkan kondisi mereka tengah sampai di puncak “berserah diri”. Lalu subhânallâh, Ismail selamat dan “Kami tebus dengan sesembelihan yang besar”. Ibrahim berhasil menjalankan perintah Tuhan, sukses merajai iba dan perasaannya sendiri. Lalu kita yang hidup berabad-abad sesudahnya, mengamalkannya dalam ritus 10 Dzulhijjah. Ternyata, syariat tak hadir sekonyong-konyong dari langit, ia hadir oleh episode pengalaman manusia—atas arahan Tuhan—di satu sudut ruang dan waktu. Dengan arti lain, syariat Islam berasal dari pengalaman manusia dalam proses kesejarahan. Maka jauh dari tempat penyembelihan itu, tempat yang oleh orang-orang Eropa—karena pengaruh mitologi Yahudi—disebut sebagai “tempat pembuangan Adam dan Hawa dari surga”, tertebar ibrah dari perilaku yang “tak masuk akal” itu.

Barangkali di antaranya, bahwa keikhlasan (berasal dari khazanah arab, Ikhlâsh yang mempunyai makna: menyingkirkan segala jenis kekeruhan yang menyebabkan sesuatu kotor) pengabdian hamba butuh ujian. Dan hasil dari ujian adalah pengakuan atas kadar keimanannya. Karena iman yang tak syak, niat yang tak berpamrih berbanding lurus dengan ikhtiar yang tak menyisakan bisik-bisik pertanyaan, maka “aku iman, maka aku ada”.

Namun kita hidup jauh dari zaman itu dan acapkali sulit menangkap titik suluhnya dan menularkannya. Kita memang mengulangi ritus ini saban tahun tapi tahukah untuk apa kita dihimbau mengikuti dan mengenangnya? Mungkin salah satu jawabnya: itulah sebabnya kenapa kita diperintahkan (yang dalam fiqh dihukumi Sunnah) shalat dan ber-Qurban seperti menyembelih hewan Qurban sebagai ikhtiar mendekatkan diri kepadaNya. Pada saat inilah, seperti diwartakan koran dan majalah, si miskin bisa merasakan nikmatnya keselilitan daging. Aku iman maka aku ada karena iman menuntut pengorbanan.

Saya tak tahu apa beda antara “ber-korban” dengan “ber-qurban”. Yang saya ketahui, sejak masa Ibrahim yang silam sampai sekarang, idul adha yang menyedihkan (sebagian) umat Islam adalah 10 Dzulhijjah yang bertepatan dengan 30 Desember 2006. Saddam Husein dieksekusi di tiang gantungan dalam umur 69 tahun. Mengingatnya berarti mengingat moment di mana ada orang-orang Islam yang merayakan dua kemenangan sekaligus dan di saat yang sama, ada orang yang melewati hari ini dengan sedih. Cerita Saddam memang berakhir. Namun siapakah yang menjamin, dengan perginya orang nomor satu Irak sejak tahun 1979, maaf pun turut mengirinya saat seutas tali gantungan mematahkan lehernya?

Keadilan memang menuntut hak dengan secepat-cepatnya. Tapi bukan keadilan namanya, kalau keadilan menyebabkan efek samping ketidakadilan. Barangkali peristiwa setahun silam itu, kita akan menyebutnya sebagai konspirasi. Sangat menyakitkan bagi mereka yang kalah dan dipojokkan—seperti yang terjadi saat kita memperingati Hari Kemerdekaan pada Agustus di tahun ini.

Kisah Ibrahim bisa terjadi di zaman-zaman lain, zaman kita. Dan di hari id ini, adakah yang merangsang kita untuk “ber-korban” dan "ber-qurban" untuk mengulang peristiwa yang miris itu? Wallahu a'lam

Friday, December 7, 2007

Antara Kasih Tuhan dan Ikhtiar Manusia

Sejenak mari kita berdoa untuk Indonesia. Untuk sebuah harapan, agar segala cengkraman preseden buruk lepas dari Tanah Air kita. Kita paham bahwa Allah, Pemilik alam semesta, tak akan menguji suatu kaum kecuali kaum itu sanggup memundak ujian itu. Tapi yang tak kita pahami adalah: sampai batas mana ujian itu untuk negri di koordinat katulistiwa sana? Dan sampai kapan? Tak ada yang tahu.

Cobaan itu memang menghujam bertubi-tubi. Karena kita alpa, menurut petuah orang alim, untuk apa kita diciptakan di alam candradimuka yang, dalam tembang sinom Syeikh Siti Jenar, “dilingkupi dengan surga dan neraka”. Sejenak mari kita berdoa seperti Ibrahim alaihissalam: “Ya Tuhanku, jadikan negri ini negri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya,” Kita meminta, sebagaimana rasul ulul azmi itu, dua hal: kestabilan politik-sosial dan kemakmuran ekonomi.

Kita kudu meminta karena kondisi politik dan sosial Indonesia (sebagai kesatuan pulau, etnis, suku, ras, agama dari Sabang sampai Merauke) tak selalu merayap tenang. Ekonomi kita hampir berhasil lepas landas. Lalu tiba-tiba jatuh terseok-seok—sampai sekarang. Dan kita mengingat bahwa Indonesia, sejak saat itu, tak henti-hentinya gundah dan gelisah. Mulai pemimpin yang korup, ulah rakyat yang tak bertanggung jawab sampai predikat dari luar negri.

Misalnya kabar duka dari Guinness Book of World Record April silam. Indonesia, versi penilaian dunia paling bergengsi ini, menyandang rekor baru: sebagai negara penghancur hutan tercepat. Dengan sendirinya, predikat prestise “Zamrud Khatulistiwa” langsung lapuk. Kini, buku rekor itu mencatat kalau dalam sehari hutan seluas 300 lapangan sepak bola hancur. Itu berarti, dalam 10 tahun mendatang, hutan seluas pulau Jawa ludes. Data statistik dari Departemen Kehutanan menyajikan perbandingan terbalik yang getir. Tahun 1950 luas hutan kita 162 juta hektare, sekitar 84 persen. Sedangkan di tahun 2005, hutan kita tinggal tersisa 85 juta hektare, hanya 43 persen dari luas wilayah daratan Indonesia. Posisi strategis Indonesia sebagai paru-paru dunia, disulap kedalam kategori negara penghasil karbon dalam skala besar. Akibatnya adalah pemanasan global. Diramalkan, pada tahun 2050, seluruh pesisir Indonesia akan tenggelam air laut sampai 4,17 meter.

Alangkah malangnya bangsa kita! Bangsa bekas Zamrud Khatulistiwa ini sedikit demi sedikit tertumpuki beban yang berat. Indonesia yang terdaftar sebagai satu dari 10 negri pemilik hutan alam paling perawan sejagat, sekarang hanya memiliki hutan yang tak sampai separuh dari luas daratannya. Bangsa kita secara tidak sadar mulai membangun—untuk memakai istilah Imam Prasodjo—“bahtera Titanic Indonesia”.

Zamrud Khatulistiwa memang satu kebanggaan. Untuk sejenak, tak berdosa bila kita melihat bagaimana kereta sejarah memboyong Tanar Air kita sebagai kepulauan surgawi yang dikunjungi negara-negara asing berabad-abad silam. Anggaplah ini semua sebagai bagian dari proses pembentukan sadar kesejaharan kita untuk membangun kembali Indonesia seperti dulu. Seperti “kue tart ulang tahun” bukan “kapal Titanic”.

Di Palembang pada abad ketiga. Seorang ahli matematika dan astronom dari Iskandariyah, Calude Ptolemeus melakukan transaksi perdagangan di sana dan menyebut kota itu dengan nama Barus karena ia menukar keramik Yunani dan winyak wangi dengan kapur barus, hasil utama Palembang waktu itu. Lalu disusul petualang Eropa Marcopolo dan Magellans. Sebelumnya beredar keyakinan bahwa Asia ialah daratan luas yang sambung menyambung dan tak mungkin ditempuh dengan jalur laut. Merekalah orang pertama yang membuktikan adanya jalur laut menuju wilayah Asia Tenggara, terutama Indonesia.

Abad 15 sampai 17 adalah abad dimana orang-orang Eropa mulai berlomba-lomba berekspansi ria mencari rempah-rempah ke Nusantara. Sampai akhirnya pada abad 16, jalur pelayaran (yang sekarang dikenal dengan selat) Sunda berhasil dipetakan oleh seorang Belanda, Jan Huygen van Linschoten. Dengan menyamar menjadi sekretaris biarawan di seminari di Gowa, ia berhasil mengeruk informasi pelayaran yang ditempuh Portugis untuk sampai ke Gowa. Dengan ditemukannya “jalan rahasia timur” Portugis inilah, Cornelis de Houtman, seperti yang kita baca di buku sejarah sekolah, adalah orang Belanda pertama yang menginjakkan kaki di nusantara. Inilah cikal bakal penjajahan Eropa—Portugis, Inggris dan Belanda—di Tanah air.

Sementara nusantara adalah surga rempah-rempah yang melimpah—dengan letak geografinya di garis Khatulistiwa, beriklim tropis, kaya hutan dan tanah yang subur—Eropa tengah menapaki masa kebangkitan dari kegelapan. Saat Indonesia di mata bule-bule asing itu, adalah arti harfiah dari gemah ripah loh jinawe, Eropa sedang gemilang dalam zaman gold, glory dan gospel. Betapa murungnya bangsa kita sejak ia berdiri, bahkan semenjak kolonialisme Eropa datang membawa pedih empat abad silam.

Kolonialisme hengkang separuh abad yang lalu. Namun Bung, pada hakikatnya kita terjungkal dalam masa paradoksial. Kemerdekaan itu—hadiah Tuhan dengan ongkos yang besar—tak pernah kita enyam dan nikmati bersama. Banyak rakyat sanksi: adakah kemerdekaan hanyalah ilusi? Karena kita sudah dan sedang mengalami metamorfosis kolonialisme. Kita beralih dari satu kolonialisme ke kolonialisme yang lain. Bukan lagi negara asing yang menginjak tengkuk kita, tetapi orang kita sendiri yang melakukan itu, merampok kekayaan alam sendiri. Misalnya ketika banyak pembalak liar yang menyelundupkan kayu ke luar negri, polisi yang malas operasi karena kekenyangan suap bahkan sampai kejahatan birokratis yang dengan nama “negara”, Orde Baru dengan bebas membabat jutaan hektare hutan. Akumulasi dari penjumlahan semua itu berujung pada “dosa ekologis” yang menjalar pada perubahan alam yang labil.

Jangan-jangan, karena itulah mengapa malaikat-malaikat memprotes Allah saat Dia hendak menjadikan di bumi ini khalifah. Seperti termaktub di al Qur’an, malaikat bertanya dengan menaruh syak: “Akankah Kau jadikan di bumi makhluk yang menebar kerusakan dan menumpahkan darah sedangkan kami selalu bertasbih dan mengsucikannya?” Dengan demikian, bukankah malaikat lebih berhak didaulat sebagai khalifah—toh ternyata benar bahwa kerusakan tampak di darat dan di laut karena ulah tangan manusia? Namun Allah menjawab singkat: “Aku tahu atas apa yang kalian tak ketahui.”

Dalam hal ini, gerangan apa yang Dia ketahui atas rahasia “manusia sebagai khalifah”—bukan malaikat? Sebagian jawabannya, wallahua’lam. Sebagiannya lagi karena manusia memiliki nafsu, hasrat, ikhtiar, cita-cita dan harapan. Dengannya manusia berupaya mengarahkan nafsu, menata kehidupan dan peradaban. Dan ujian kita terjemahkan sebagai kasih Tuhan yang diiringi ikhtiar manusia. Meski nyata-nyata Indonesia telah dirusak oleh tangan manusia, barangkali ada sisa manusia yang berikhtiar menata pembangunan Indonesia yang belum pernah tegak itu agar tak terjatuh lagi—gara-gara kelalaian seperti Granada di tahun 1492.

Happy New Year, Indonesiaku

Saturday, December 1, 2007

Life is Money

Life is, kata teman yang seorang mahasiswa al Azhar, money. Hidup adalah uang. Saya langsung sedikit menolaknya. Jika hidup hanya berisi uang—dengan demikian, orang tak henti-hentinya bekerja—betapa tak berartinya hidup berorganisasi, betapa bodohnya mereka baik para tokoh maupun mahasiswa pinggiran yang capek berdiskusi dan bergerak, menyebarkan pamlet atau buletin tentang “keterpurukan akademis” Masisir, betapa tak bermaknanya hidup yang dijalankan ratusan mahasiswa Kairo ini: mereka menjejali deretan aktifitas, mengurusnya, menghidupinya—tanpa gaji dan upah. Hanya apresiasi dan ucapan terima kasih...

Mungkin saya salah, terlalu cepat melontarkan balasan. Apalagi saya tahu, dia bilang seperti itu sambil bercanda. Seberapa besar prosentase jawaban saya tidak benar, sebesar itu pula ucapan dia tidak salah. Dengan bahasa lain, mungkin dia ingin melengkapi ucapan saya yang bolong-bolong: orang-orang tentu bisa melakukan itu semua, seandainya hidup tidak butuh makan...

Tapi hidup butuh makan dan dia benar: mahasiswa manapun, dia dan saya, butuh makan, butuh sesuatu yang kudu dikonsumsi saban hari. Untuk menyediakan sesuatu itu, beberapa mahasiswa dan teman saya terpaksa bekerja. Tapi adakah ia lupa bahwa tugasnya di sini bukan bekerja tapi belajar—pekerjaan yang tak mengubah keringat dengan simsalabim menjadi duit?

Saya yakin dia, seperti yang lain, ingat tujuan mengapa harus ke sini. Dia sadar waktunya di sini sangat terbatas dan aktifitas pun mendesak agar segera dituntaskan. Namun apa daya, seperti ucapan saya yang dia amini, tuntutan akademis kita di sini makin sayup-sayup terdengar dan kalah oleh tuntutan politik dan ekonomi. Mau tak mau, seperti lanjutnya, ketika dihadapkan pilihan antara tuntutan akademis dan tuntutan ekonomi, dia menjalankah pilihan yang kedua. Dengan terpaksa karena ia sadar bahwa hidup butuh makan dan keberadaannya di sini terbatas waktu, tidak selamanya.

Tuntutan ekonomi yang memaksanya bekerja, apa boleh buat, mencegat dirinya agar tidak cawe-cawe dengan segala agenda intelektual yang mau diakui atau tidak, tak pernah jelas bagaimana dan dimana kita belajar dengan tipe ideal seorang mahasiswa Indonesia yang studi di al Azhar, di Mesir, di Timur Tengah. Tidak pernah jelas berarti kabur. Karena perbandingan yang diamati adalah perbandingan lulusan mahasiswa Timur Tengah dengan mahasiswa lokal di Indonesia sendiri dan mahasiswa jebolan barat dekat, seperti Eropa dan barat jauh di Amerika. Atau jangan-jangan kekaburan itu tampak justru ketika tidak banyak dari kita yang membuat perbandingan dengan jenis aneh begini.

Sehingga dia pun, entah terpaksa atau tidak, harus menanggalkan tuntutan akademis itu. Apa boleh buat? Membagi-bagi, hasilnya hanya setengah-setengah. Tak enak dimakan, tak banyak diraup. Toh banyak dari kita yang dikibuli negri ini, ternyata hidup memang butuh makan. Sampai akhirnya yang tersisa dari orang-orang yang dirundung kegelisahan seperti itu adalah kompromi: memilih prinsip ekonomi atau menjalankan tugasnya seperti semula dengan terus-menerus bergantung, menunggu dan menjadi beban...

Tapi saya lihat teman saya tidak ingin menjadi beban. Sampai sekarang, ia enak dengan pilihan pertamanya. Ia ambil kompromi itu dan tak menyesal tidak alpa segala konsekuensinya di masa depan, misalnya tiga-empat tahun mendatang...

Tapi, seperti yang dikatakannya, bukankah itu lebih baik dari yang tak bisa melakukan apa-apa, hanya mendengkur diam di rumah?

Yang terakhir ini, saya sepakat. Dan Anda?

Jika Anda tak tergores tuntutan ekonomi, jalankan tugas tak-terbatas Anda dalam rentang waktu yang amat terbatas. Silakan berkreasi model apapun asal jangan mati di kamar. Bahkan bila Anda termasuk orang yang sedikit bosan dengan tuntuan akademis terus lari ke tuntutan politik Masisir. Terserah, tak ada yang bakal mengadili kita. Kita yang menulis nasib kelak jadi siapa. Dan nasib tak berjeda seperti jam kuliah. Ia tak kembali.

Saya akan terus ingat: life is money—jika hidup tak butuh makan...