Sunday, November 25, 2007

Innalillahi wainnailahi raji’un…

Kini kau tinggalkan kami membuat sejarah sendirian

Sahabat, kau telah pergi mdeninggalkan kami semua..

Teman sebangkumu, sekelasmu, sepondokmu, seaktifitas bersamamu

Di sini, kesepian, meratapi kepergianmu…

Email terakhir yang kau lontarkan di milis Urwatul Wutsqo, angkatan IKAMARU 2006, pertengahan Oktober lalu, bahwa kau memberi ucapan happy birthday-ku yang ke-20 sekaligus, katamu, tak lama lagi engkau akan pergi ke Australia untuk sebuah agenda dari universitas tempat kau kuliah, yang belum sempat kau ceritakan dengan detail…

Aku tak tahu kapan terakhir kita chatting, kita bercerita…

Sedang beberapa bulan yang lalu, kau pun juga berangkat ke Malaysia. Di sana, engkau pernah bilang, “Di sinilah, di negri orang Jid, rasa nasionalisme kita akan benar-benar dipertanyakan sebagai pemuda Indonesia,” Dan kau belum sempat bercerita detail perjalananmu ke sana.

Mengingatmu mengantarkanku untuk kembali memegang album kenanganku… Kuingat ketidakseriusanmu saat guru-guru eksak masuk kelas kita, atensimu yang tinggi jika guru Akuntasi dan Bahasa Indonesia sedang mengajar, keberanianmu untuk menguak kontroversi Gerakan 30 September PKI sebagai tugas terakhir karya ilmiahmu di Raudlatul Ulum Guyangan—walau akhirnya tak dapat persetujuan…

Mengingatmu berarti mengingat saat kita bersama mendirikan Jamrud (Jam’iyyah Râfi’udda’wah), saya jadi ketua dan engkau tetap berbicara dan mengutarakan pendapat dengan bahasa arab yang pas-pasan, membentuk Firdaus (Forum Ilmiah Remaja Dakwah untuk Solidaritas) engkau jadi pimpinan redaksinya dan aku jadi reporternya, menerbitkan BANGKIT—majalah osis kita yang terbit satu tahun sekali—bersama-sama dengan pengalaman yang benar-benar sangat konvensional…

Saat dua Aliyah, di deret bangku belakang pojok sebelah kanan, bermula berbagai banyak cerita, gagasan dan kegilaan. Kita duduk bertiga: saya, kamu, satu kawan kita, Asyhari. Di sana, masih ingatkah engkau, kita pernah membuat satu perjanjian. Tapi kini, engkau tak bisa mengabulkannya…

Semoga engkau bahagia di Firdausmu, teman-teman di Urwatul Wutsqo, semuanya angkat topi atas dedikasimu selama ini, di Guyangan, di Pondok, bahkan ketika sudah kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Maafkan kami di sini, yang tak begitu cerdas memahamimu, menerima ide dan gagasanmu. Kau tenanglah di sana. Oh iya, kau pernah memberiku buku “Sosialisme Mao Ze Dong” setebal 500 halaman. Saya belum rampung membacanya, buku itu kini mungkin membusuk di rak bukuku di rumah…

Saya ingat waktu kita berlima jeprat-jepret bareng usai seminar Bahasa Arab Jamrud, empat tahun yang lalu, menjelang peringatan Haul Mbah Suyuthi. Kita berlima: saya, Musthofa (sekarang kuliah di UGM Jogja jurusan Hubungan Internasional), Teguh (kuliah di UNNES Jurusan Sastra Inggris), Khaled (kuliah di Universitas Azhar Fakultas Syari’ah Islamiyah), Mbah Khalel (aku belum tahu dia ngelanjutin di mana) dan kau sendiri.

Selamat jalan kawan,

Ya Allah terima segala amal kebaikannya,

Hapus kusut-kusut keburukannya,

Mudahkanlah langkahnya,

Dari Cianjur sampai Surga Firdaus-Mu…

—Ilâ rûhihî al fâtihâh…

Saturday, November 17, 2007

Pleidoi untuk Muslim Minoritas

“Masjid tampak megah bila dilihat dari dalam, namun akan tampak lain bila dipandang dari pucuk menara gereja,” kata seorang teman. Sedikit mengernyitkan dahi, saya turut mengamini penuturannya. Kalimat itu lebih patut kita taruh sebagai asosiasi. Tentu, “Masjid” sebenarnya menjangkau banyak simbol Islam, sebagaimana “Gereja” meraup segala anasir di luar lingkaran Islam. Masalahnya sekarang, bukan pada munculnya keragaman interpretasi orang-orang—terutama nonmuslim—saat memandang masjid, tapi ketika mereka mulai “memandang dari jauh”.

Apalagi sekarang kita hidup di abad 21. Artinya, Islam tak lagi bisa dilihat sebagai “organisme” yang berkembang dalam puak kesukuan padang pasir. Mau tak mau, ia juga tertabrak arus globalisasi. Islam akan defensif dan ofensif dalam masa yang berbarengan—karena sifat arus global “gado-gado”. Dengan begitu, Islam adalah kekuatan untuk melakukan reasonable-approaching bagi mereka yang memandang Islam dari jauh, yang biasanya merawat dendam dan skeptisime.

Islam dalam hal ini diakui beberapa pakar, menyimpan peran pokok. Tuntutan adanya jembatan komuniksi antara “Masjid” dan “Gereja”—dan asosiasi-asosiasi yang lain—makin urgen semenjak babak baru milenium ketiga, tujuh tahun silam: sejak dunia memaklumkan tahun 2000 sebagai “tahun persatuan peradaban-peradaban”.

Tapi dunia makin dibuat bimbang dan gentar tentang Islam oleh 11 September 2001. Sejak saat itu, praktis dunia kehilangan pijakan bagaimana memahami Islam, memandangnya dari dekat—dan tentu saja proporsional. Bagi kita yang notabenenya hidup di negara yang mayoritas muslim (bukan negara Islam), gesekan itu tak begitu kentara. Namun bagi ikhwan-akhawat kita yang tinggal di sebrang sana, misalnya di sebuah negara “sekuler” di Eropa atau Amerika, kehidupan mereka, yang memang minoritas, selalu ditelikung apriori kelompok mayoritas. Saya pernah melihat karikatur yang mencemaskan, yang menggambarkan kisi-kisi kehidupan mereka: selembar daun asing yang diikatkan dengan peniti ke salah satu lembar daun bunga yang tertanam utuh dalam pot.

Ada satu contoh. Di sebuah pagi, 6 September lalu, parlemen Belanda di Den Haag menggelar debat tentang Islam. Geert Wilders, pemimpin partai untuk kebebasan PVV, menyerukan keinginannya agar al Qur’an dilarang di Belanda. Bila perlu, dengan Undang-Undang. Baginya, al Qur’an sejajar dengan Meint Kampf (Perjuangan Saya)-nya Adolf Hitler yang mengajarkan rasialisme. Tanpa rasa kikuk, ia memandang Islam sebagai ideologi yang haus kekuasaan dan pengikut, seperti jawabnya sendiri kepada Radio Netherlands Worldwide, “agama yang memaksa orang, yang menaklukkan, submission”.

Tokoh partai anti-imigran yang masih senang meneguk bir itu sudah dikenal sebagai sosok yang tak toleran dengan kaum minoritas muslim. Ia memiliki pengalaman panjang yang mengantarkan pandangan—yang terlalu jauh—untuk menafsirkan Islam dan al Qur’an. Lebih dari 10 tahun ia menggeluti Islam. Ia telah mempelajari al Qur’an, ia sudah membacanya lebih dari 15 kali. Sampai akhirnya ia mencapai konklusi bahwa kitab yang membatasi kebebasan harus dilarang demi memperkuat kebebasan beragama. Tendensi yang kerap digulingkannya, bahwa di al Qur’an ada titah suci untuk langsung menghukum mati orang yang murtad. Dan Kitab Suci itu memberi inspirasi kepada umat Islam di seluruh dunia.

Bagi saya, pendapat Wilders sudah sepantasnya dibantah. Persoalannya menjadi lebih dari sekedar kesimpulan yang ia capai, yakni bagaimana dia “membaca” al Qur’an sampai-sampai menemukan “yang lain” ketika memandang Islam dari jauh. Ia telah melanggar etika kebebasan yang diusungnya sendiri saat mengecam umat muslim Belanda—jumlahnya hanya 1,5 juta—untuk harus merobek separoh al Qur’an jika masih ingin tinggal di Belanda. Meminjam statemen orientalis Ignaz Gholdizer, ia, sebagaimana semua orang, memang bisa mendapatkan pembenaran dan justifikasi ideologi dalam al Qur’an.

Dan tak semua justifikasi itu sah, tentu. Ia laiknya orang-orang ekstrim kanan Kristen, juga kaum radikal Islam, membentuk dunianya sendiri yang tak kenal kompromi. Sejatinya, mereka lepaskan teks Kitab Suci dari konteks sosio-historis yang membentuknya. Selanjutnya kita tahu akibat paling buruk dari paradigma berpikir demikian, seperti contoh di atas. Mereka mendirikan tembok baru yang terbagi dua stereotipe: “Darul Harb” dan “Darul Amn”. Dan cara pandang seperti inilah yang malah menggiring dunia ke belantara rimba modern. Tak boleh ada sejengkal pun tanah yang dihuni beragam kultur, etnis atau agama, haram ada dialog, semuanya mengisolasi diri, saling menaruh purbasangka di depan pintu hati—seperti impian Wilders yang hendak membangun Belanda yang absen dari kaum imigran dan muslim.

Hanya saja, saya ingin memberikan tiga catatan. Pertama, seradikal apapun beleid Wilders, toh belum keluar dari pandangan subjektifnya sendiri. Mulai umur 17 sampai 19 ia tinggal di Israel, di Tepi Barat Sungai Yordan. Hari-harinya diselimuti perang Palestina-Israel. Lalu ia hirau untuk memahami Timur Tengah secara menyeluruh. Ia jelajahi negara-negara arab. Ia temukan pemerintah dan agama mereka brengsek. Rakyat diperlakukan seperti binatang. Islam adalah masalah terbesar. Semakin penting peranan Islam, semakin buruk nasib orang di sana. Satu-satunya negara demokrasi di kawasan itu, katanya, adalah Israel—dan itu harus ditiru.

Kedua, ia lupa bahwa Islam tak bisa diwakili oleh hanya segelintir kelompok radikal yang memilih jalan suci dengan merakit bom atau meledakkan diri. Wilders memang membaca al Qur’an tetapi ia tak membaca konteks kesejarahan al Qur’an. Ia tak mengira bahwa sekarang umat Islam tengah mengamini “konsensus in absentia” bahwa tak ada satu kelompok pun yang absah mengkapling sebagai wakil tunggal umat Islam. Saya sangsi, adakah dia juga membaca ayat lain yang mengajarkan kearifan sabda “Tak ada paksaan dalam beragama”—untuk masuk atau keluar. Ia alpa bahwa pluralitas dan multikultural merupakan keniscayaan. Dengan begitu, manusia bisa “saling mengenal dan berkompetisi untuk jadi lebih unggul di depan Tuhan mereka”.

Ketiga, yang perlu dicamkan oleh mereka yang seide dengan Wilders adalah bahwa tembok stereotipe mustahil dibangun. Cita-cita membentuk masyarakat yang homogen tak bakal terkabulkan oleh naluri kehidupan kontemporer dan kontras dengan syariat itu sendiri. Jawaban yang mencerahkan saya peroleh dari Abdullah An Na’im, penulis Islam dan Negara Sekuler: Menegosiasikan Masa Depan Syariah (penerbit Mizan, Agustus 2007). Ia menegaskan bahwa syariat itu sekuler, manusia juga sekuler. Kita memang memperoleh bimbingan dari Sumber yang kudus, tapi Islam datang kepada kita yang manusia bukan malaikat. “Dan intelektual harus belajar tentang sejarah syariat berkembang. Inilah konstruksi manusia,” katanya.

Justeru karena kita manusia yang penuh kekurangan, kita tak bisa hidup mengacuhkan orang lain. Betapapun bedanya mereka—yang terakhir ini, catatan bagi mereka yang ingin meniru Wilders, yang hendak mendirikan negara Islam. Wallahua’lam.

Saturday, November 3, 2007

Mengemis

Jauh sebelum datang ke negeri utara tengah ini, saya terlalu congkak untuk menyebut Mesir sebagai negeri yang sonder kemacetan; tempat segala ketidaksempurnaan hidup dengan mudah ditepis; bak apresiasi seorang Herodotus: “Mesir adalah hadiah Sungai Nil”. Mesir dengan tera pengalaman si penjelajah Yunani itu, bagi saya, jadi musykil belakangan ini. Bahkan mungkin, jadi takhyul sosial. Dengan kata lain, “hadiah Sungai Nil” itu hanya didapati secuil dari 70-an juta penduduk negeri ini. Nyaris, saya menyebut Mesir sebagai surga—seperti dongeng yang masuk ke telinga saya. Atau minimal sebuah asrama dimana kedisiplinan, kerapian dan jadwal waktu yang kokoh dihafal lengkap seperti menghafal nama sendiri. Premis saya salah: Mesir bukanlah Mesir. Dalam artian, Mesir yang saya pikirkan bukan Mesir yang saya lihat. Mesir ternyata masih bagian dari kehidupan dunia modern tempat optimisme dan pesimisme bergulat memasuki relung pikiran setiap orang. Mesir, juga negeriku, dibingkai dalam figura “Negara Dunia Ketiga” (dengan demikian, kita terus-menerus manut di hadapan dua level negara di atas kita) dimana persoalan kemiskinan, pendidikan, anomali sosial, kriminalitas selalu jadi topik hangat dalam surat-surat kabar, pun bekal menggaruk suara saat pemilihan umum. Agaknya, apa yang saya simpulkan memang tampak basi. Namun, benang merah itu akhir-akhir ini mungkin jadi relevan saat Maba datang. Gelombang harapan datang berduyun-duyun, bergabung menumpuki stok lama yang tak semuanya berkualitas. Barangkali di antara jumlah kawan-kawan (karena saya juga baru tingkat satu kuliah) Maba yang tiba, di pinggir malam yang pekat usai shalat dua rakaat, ada yang menulis kesan ketus negeri ini di diarinya. Menangis tapi ia tak menyesal. Dengan begitu, kita terjaga bahwa Mesir bukan peti mati yang sudutnya sama. Selain bentangan panorama yang tersingkap di hadapan mata, masih ada 1001 macam kenyataan yang tersangkut, terbuang namun masih ada dan jadi misteri yang kian lama kian terungkap dengan arif penuh kesadaran. Berarti, Mesir penuh pertanyaan dan kita lazim menyodorkannya dan menangkap jawab—dengan cara kita sendiri. Anak kecil itu bergegas naik ke bus. Rambutnya ikal, matanya besar, tatapannya serius, tubuhnya baik laiknya anak-anak yang lain namun kusut seperti baju yang dikenakannya dan ia berpikir, semakin sesak penumpang, semakin banyak peluang untuk mengemis. Dengan tekun ditambah penghormatan ala kadarnya, ia sodorkan secarik kertas fotocopy-an ke tiap deret kursi duduk dari depan sampai belakang. Jika Anda pernah mendapatinya, kira-kira kalimat itu berbunyi begini: Tuan yang baik, saya sampaikan kepada Anda bahwa ayah saya sudah meninggal. Kini ibu merawat saya dan tiga saudara saya. Kami tak punya bekal yang cukup untuk menyambung hidup dan meneruskan sekolah. Mohon santunan Tuan... Kita tahu anak kecil itu mengemis meski tanpa menengadahkan tangan. Ia lakukan itu untuk sesuatu yang sangat berharga namun ia sendiri tak yakin sanggup menggapainya: masa depan yang kian sulit diprediksi. Atau malahkah sempat terpikir orang-orang yang menjadikan mengemis sebagai profesi itu memiliki masa depan walau secercah? Kaum yang pesimistik akan nasib dunia yang tak kunjung membaik ini akan berteriak bahwa salah satu dosa besar Tuhan adalah membiarkan orang-orang melarat, bahkan pengemis tetap hidup sementara dunia menjajakan bursa optimisme di gedung-gedung tinggi nun megah. Teriakan itu, dengan atau sonder serak, tentu saja tidak benar. Tuhan absen dari dosa besar. Tuhan tak pernah berbuat salah seperti orang yang berteriak itu. Siapakah yang salah, lantas? 2000 ribu tahun silam, Pangeran Siddhartha mengutarakan jawaban lain. Baginya, usai menanggalkan kekayaan dan kekuasaan, tugas pokok manusia dalam kehidupan dunia ini adalah apa yang harus dia lakukan jika hidup hanya penderitaan. Oleh karena itu, seorang Budha yang taat, tak perlu muluk-muluk mengunyah nikmat dunia. Cukup hidup dari pemberian orang dengan bekal piring seng, memiliki dua baju biasa, memegang satu tongkat dan haram memakai kasur empuk waktu tidur. Bagi mereka, miskin dan mengemis bukanlah hal yang cacat 100 persen. Ia memang menjadi masalah akut di Negara Dunia Ketiga, seperti Mesir dan Indonesia, tapi toh di mata Budha, ia jadi simbol protes atas ketimpangan birokrasi. Ia jadi jalan licin menuju nirwana. Meski terkadang anak-anak mengemis dengan nada memaksa dan menarik-narik baju. Ia lebih baik ketimbang kepicikan jalan pintas orang dewasa. Misalnya, kemarin saya menerima warta rumah mahasiswi di H-10 dibobol. Betapa menjemukannya mengemis, betapa menjemukannya jalan pintas, dan betapa lebih menjemukannya sistem ekonominya. Di sini, kita tiba untuk belajar. Membaca buku-buku, berdiskusi tanpa hirau atas negri orang ini. Karena kita mengiktikadi bahwa Tanah Air kita adalah sepetak tanah yang baru saja kita tinggalkan. Dan anak kecil itu akan terus mengemis, mungkin ke hadapan kita sambil berucap lirih: Silakan tertawa mendapati kami mengemis Tetapi kami tetap menghormati Bapak Walau engkau masuk neraka sekalipun...

Thursday, November 1, 2007

Senyum buat Bapak*

Ma'afkan kami, anak-anakmu, Bapak Kesalahan kami di matamu jelas: kami marah dan mencercamu Dengan begitu, kami memberontak dengan cara yang tak engkau restui Tapi percayalah, Pemberontakan yang anak-anakmu lakukan, Merupakan wujud cinta yang paling dalam, Cinta kami bukan amplop birokrasi Kasih sayang kami tak terikat masa pensiun Cinta kasih kami tanpa sekat, namun punya batas Justru karena kami percaya, engkau bisa menjadi suri tauladan Bapak yang bisa mendengar karena sayang, Dan mendera karena sayang Di antara kami, anak-anakmu Kami tak membenci saudara-saudara sendiri, Karena agama Bapak mencelanya Seperti yang Bapak katakan sebelum rapat keluarga Dan kami diam merunduk, menyimak Tapi geram mengeremus jantung hati, Soal Bapak yang tak lihai memetik buah Dan kami sedikit percaya pada Bapak lagi Ingin pergi dan berlepas diri, membasuh penat Lalu lihatlah Bapak: banjir datang, menggenangi sudut-sudut pikiran kami Kami mengadu tapi engkau menyambut penuh cibir Seraya kecewa dengan polah kami yang penuh gawal Dan engkau menyindir kami untuk meminta maaf, Tapi tunggu dulu Bapak, Meminta maaf berarti mengakui kesalahan Kami tak perlu mundur selangkah demi melihat Bapak tersenyum Kami terus maju, menghadap, bahkan memberontak Karena cinta kami cinta antarmanusia, Karena manusia senantiasa rindu sistem yang membela korban Bukan mengokohkan feodalisme Silakan tertawa mendapati kami mengemis Tapi kami tetap menghormati Bapak Walau engkau masuk neraka sekalipun... *Coretan ini bakal disusul tulisan berkutnya dengan judul 'Mengemis'. Masih tetap ditemani Vanessa Carlton.