Sunday, October 21, 2007

Anomali

Saya tak tahu, haruskah bangga atau tidak, saat membaca laporan Merril Lynch dan Capgemini. Selasa, 16 Oktober lalu, hasil survei dua lembaga yang dirilis di di Hongkong itu menyebutkan bahwa jumlah orang makmur (high net worth individual) Indonesia pada 2006 mencapai 20 ribu orang. Ini berarti, tak lebih satu persen dari rakyat Indonesia, memiliki kekayaan lebih dari US$ 1 juta (sekitar Rp 9,2 miliar). Di bandingkan dengan negara lain, jumlah miliarder Indonesia masih kalah dengan Singapura dan India.

Angka itu, walau sedikit dari negara-negara Asia lainnya, tetap tak membuat saya senang. Alih-alih berpengaruh pada pengurangan angka kemiskinan dan pengangguran, saya malah merinding, membaca kabar Indonesia dari situs berita yang lain. Di antaranya, hampir 200-an kabupaten di Indonesia tertinggal, Papua malah provinsi terbusung lapar, BBM dinaikkan dan jumlah warga miskin makin bertambah...

Saya tak punya pretensi untuk mencela sedikit pun si kaya negri saya sendiri. Yang ada di ubun-ubun kepala saya saat ini hanya anomali: beban Indonesia makin tahun bertambah berat, para koruptor tetap lenggang tak ditangkap, partai-partai mulai sibuk “berbenah diri” menyambut 2009, angka kemiskinan yang katanya berkurang toh tetap tak sebanding dengan jumlah miliarder. Indonesia kini penuh ambivalensi.

Indonesia di mata rakyat barangkali tak semanis nilai-nilai moral di buku-buku PPKN atau Pedoman P4. Cita-cita luhur yang termaktub di Undang-Undang Dasar, di Pancasila tentang keadilan sosial, demokrasi, jati diri kemanusiaan, prinsip kerakyatan, semuanya itu sudah mati, hanya simbol yang terus diritual ketika momen Agustusan datang: ritual kering yang banyak membuat kantong pejabat basah dengan rentetan anggaran dana yang terkucur tidak sedikit.

Yang perlu dilakukan seluruh pejabat pemerintah Indonesia, di manapun berada tak hanya menerima gaji tiap awal bulan lantas—seperti lirik lagu Iwan Fals—“tidur waktu sidang soal rakyat”. Meskipun sekarang, mencari pejabat yang bersih bak mencari jarum di tumpukan jerami, namun sebagai “penghayat” asas negara sekaligus pelaku utamanya, mereka harus sesekali (karena tak ada yang “sering”) menengok ke bawah. Gaji boleh besar dan tinggi, namun yang mengasih mereka makan bukan tuhan yang mereka sembah, tapi rakyat yang mereka atur lewat peraturan-peraturannya.

Thursday, October 18, 2007

Detik Pengakuan Dosa

Lebaran berlalu begit cepat. Pun Ramadlan, 30 hari itu. Tapi umat muslim, setiap tahun, terus menerus mengulang ritual itu. Menyapa kerabat, datang ke para sesepuh, sanak famili dan kawan-kawan untuk menghaturkan "Minam aidin wal faizin", untuk mengaturkan dosa dan kesalahan, untuk mengakui keterbatasan diri sebagai seorang manusia yang saban kali bernafas, dirinya memiliki banyak cacat dan aib—atau jangan-jangan ingin menggenapi formalitas idul fiti yang hampa tanpa keliling-keliling. Lebaran adalah sebuah pengakuan untuk meminta maaf dan memaafkan.

Seakan semuanya sudah lebar. Saya tak tahu makna detailnya "lebaran". Apakah dia merupakan turunan dari kata "lebar" (rekannya "panjang" dalam rumus matematika persegi panjang) atau, barangkali, ia adopsi dari bahasa Jawa "lebar" yang berarti selesai. Di hari ini, orang-orang muslim, ingin melepaskan badan dan pikiran dari segala beban penundaan pemberian permaafan dan permohonan permintaan maafnya seperti kebanyakan kata mereka: "Yang lalu biarlah berlalu, mari mulai hidup baru,"

Tapi manusia juga memiliki kekuatan lebih dahsyat ketimbang robot. Ia mampu merawat, misalnya, "dendam" dan "perasaan sakit hati" akan kemadlluman yang menimpanya. Bukan karena ia sudah berkeras hati, tapi tak mudah masa depan yang cerah hanya bisa dibangun lewat jalur pragmatis politik "melupakan". Sewaktu-waktu, seperti sekarang ini orang tak serta-merta dengan mudah membiarkan sedikit demi sedikit memorinya dikerat masa dan petuah bijak yang penuh nawaitu-nawaitu komersil.

Entah hati orang, siapa yang tahu. Namun apriori juga bukan mutlak salah lalu pantas diganjar neraka, jika misalnya untuk kali ini saja, saya melakukannya untuk sekadar usaha jaga-jaga diri. Jaga-jaga diri supaya langkah kaki saya tak tertelikung, orang lain tidak berani macam-macam lagi, dan tentu supaya tak bisa semau gue lagi. Ya, sama halnya dengan misalnya, Anda turun dari saqqah, melihat dua pemuda Mesir tengal ngobrol dengan kebulan asap Cleoptara, lalu Anda mulai pasang "apriori sindrom", mengambil jarak sejauh-jauhnya, soalnya pikiran kita sudah keduluan menempelkan label "jangan-jangan dia penjambret atau perampok" ketika bayang-bayang wajah orang seperti itu seakan-akan mendekap cepat mencekam perasaan.

Melupakan. Nasihat ampuh yang berulang-ulang saya dengar enam hari ini. Di mana-mana. Di As-Salam, di KBRI, di rumah-rumah, di obrolan-obrolan, di offline-offline messages, di sms, bahkan di kartu lebaran dan iklan kecik buletin-buletin yang memaanfaatkan momen idul firi untuk menyediakan ruang bagi organisasi-organisasi bila ada yang hendak meminta maaf kepada publik: menyediakan ruang berarti mendulang duit. Rasa iba dan wibawa mungkin diukur dari berapa besar space dia berani bayar dan para pembaca akan sibuk menghitung, siapa-siapa saja yang pasang iklan hari ini sambil menilai-nilai mana ucapan yang paling cakep. Lihat tak gilakan kehidupan globalisasi manusia abad 21 saat hari raya, hari suci dikomersialkan.

Siapa yang dengan mudah melupakan sebuah dosa dan kesalahan, akan mudah pula mengulanginya lagi. Dan bagi para madllumers, jika air mata Anda masih belum kering, silakan lapangkan dada Anda karena mereka (hanya) mengatakan kata maaf di saat dimana pengampunan (menuntut) sebanding dengan permintaan maaf. Saat itu, Anda sudah mengobral harga diri dan rasa iba Anda. Sudahlah, mari kita mulai hidup baru lagi!

Barangkali, sebab ritual ini ditentukan satu tahun sekali tiap 1 Syawal, momen hakiki pengakuan diri akan keterbatasan diri, kealpaan sikap, ucapan dan tindak-tanduk ini kehilangan kesegarannya. Yang rame-rame bukanlah istighfar dari palung hati yang terdalam, namun acara-acara yang menyisipkan halal bihalal di kemasan pamlet dan undangannya. Yang ribuk penuh ketawa-ketiwi, tetap di meja makan, di open house, di jalan-jalan bahkan di atas kasur soalnya siang hari, sudah tak ada halangan yang bernama puasa. Yang rame adalah orang rame peluk-pelukkan, minta maaf sementara surat kabar, disesaki iklan lebaran "mohon maaf lahir dan batin".

"Mohon maafkan dosa saya. Di hari yang fitri ini, mari jalani hidup hari". Iya, jangan salahkan Tuhan kalau misalnya yang engkau maafkan tetap menendang kepala kamu lantas lebaran tahun depan, dia datang merengek dan berkata: maafkan kesalahanku....

Maaf, saya punya satu kata untuk orang yang seperti itu: bangsat! Maaf pula, saya penuh apriori kali.

Bagi saya, tak akan mudah memaafkan mereka sebelum udelnya disate di depan publik. Atau jika tidak ada pilihan lain, misalnya mereka mengubah sikap dan mau insyaf lantas adil antara omongan, perbuatan dan gaji, lebih baik saya ucapkan selamat lebaran kepada para sarmuthoh dan para anak-anak tak bersalah di pinggir jalan. Mungkin saya bersalah, kalau dulu-dulu mengambil duit musa'adah yang sebenarnya lebih pantas engkau terima daripada saya. Masalahnya satu: kalan stand dan lincah saja dari saya dan dari kawan-kawan saya yang lain.

Minal Aidin wal Faizin.

Tuesday, October 9, 2007

Buku

Tak selamanya buku jadi tiang pembangun cinta dan kasih sayang. Barangkali, sebuah harapan yang buta dapat lahir dari gagasan yang termaktub di dalamnya, bahkan juga dari rahim Kitab Suci—misalnya al Qur’an yang akhir-akhir ini kerap kita lantunkan. Pada dasarnya, ide si pengarang akan masuk ke dalam cakrawala pemikiran si pembaca. Di sana ada proses mengisi, mengunyah dan tak jarang bertabrakan. Dan saya punya cerita menarik tentang buku. Syuhada itu digilas tank tapi tak mati, mungkin karena Allah belum mengizinkan. Di tempat lain, gemuruh suara takbir menyelimuti makam para syuhada setiap Senin dan Kamis. Di bab lainnya, ada pasukan mujahidin yang terkurung di bukit tanpa makan-minum. Tiba-tiba datang helikopter yang melemparkan makanan bagi tentara Rusia yang juga terkurung di bukit yang lain. Sebuah mukjizat! Makanan itu malah jatuh di tempat mujahidin. Buku itu dibaca Imam Samudra sejak kelas 2 SMP. Ia dapatkan buku tersebut dari sepupunya yang juga gugur syahid di Afghanistan. Ketertarikannya akan medan perang negri Asia Selatan itu mengantarkan ia berjihad ke sana pada 1990. Seperti dikatakannya, buku Allah Turun di Afghanistan mengubah gaya berpikirnya dan cepat-cepat membuang ajaran Syiah dan Muktazilah—yang sempat digandrunginya sebelum menyentuh buku itu—ke tong sampah. Dengan penuh keyakinan tanpa syakwasangka, ia baca buku itu dan mengantarkannya memermak jihad dalam bentuknya yang paling menakutkan: sebuah bom meledak di Legian Bali 12 Oktober 2002 yang menewaskan 202 orang, 209 terluka, 88 orang di antaranya warga Australia. Ia percaya bahwa mereka harus terus diperangi sampai takut. Ia juga dapatkan “surat kerja” legitimasi itu dari Kitab Suci dan Sirah Nabi—dengan pembacaan yang picik—ketika Qur’an ia kutip: “Dan perangilah mereka sampai tidak ada fitnah,” dan Hadits ia comot: “Aku diutus oleh Allah menjelang hari kiamat dengan membawa pedang,”. Ia yakin, pengadilan yang menjatuhkan vonis mati kepadanya sama busuknya dengan pemerintah kafir yang harus terus dilawan. Pada akhirnya, arti buku lebih mirip meja bundar konvensi. Di ruang imajiner, kita mencari tahu, menyelami motif, membenturkan argumen dan berdesak-desakkan. Kita dihadapkan dua tawaran: menerima atau menolak. Dari bacaan yang dikoleksi, seseorang mungkin bisa jadi individu paling “fundamentalis” atau bahkan paling “liberal”. Tapi sampai sejauh mana arti sebuah buku memberikan ruh manusia untuk tak sekedar dianggap seonggok daging yang dungu dan acapkali sombong? Yaitu ketika “tanda tanya terus hidup dan kerendahan hati memegang peran.” Kata Goenawan Muhammad, bahkan kepada orang yang mencoba memaksakan diri lantas mampu menutup tanda tanya itu

Monday, October 8, 2007

Over Respecting

Saya tak tahu sampai sejauh mana seseorang laik dihormati orang lain. Sebagai sama-sama manusia, di mata Tuhan, yang saya ketahui dan tetap saya pegang sampai nanti, tak ada bedanya antara orang sembahyang memakai celana dengan yang memakai jubah. Tapi “mata” Tuhan berbeda jauh dengan penglihatan manusia. Sejauh mana orang laik dihormati lebih—dengan penuh kesahajaan dari lubuk palung kalbu? Saya malah takut, kalau tiba-tiba muncul benih-benih apriori di hati saya bahwa orang tersebut sudah dilepaskan jati dirinya sebagai “manusia”, lantas didudukkan lebih dari itu, sebagai “tuhan” sendiri. Sehingga saya hormat bukan karena dorongan hati nurani, namun karena paksaan yang munafik karena “tuhan” macam ini tak bakal tahu isi hati saya.

Konon, aforisme bijak bertutur kalau “surga berada di telapak kaki ibu”—maaf, saya tak mengimani kalimat tadi sebagai Hadits Nabi. Seorang anak menghormati ibu-bapaknya lantaran dari beliaulah sang anak lahir ke dunia ini, tumbuh-berkembang menjadi insan terdidik, diayomi, dilindungi, dikasihsayangi, bahkan tak jarang dibuat bangga oleh orang tuanya sendiri. Saya teringat satu kisah tentang seorang Sahabat yang bertanya kepada Nabi, perihal siapakah orang pertama yang layak dihormati. Nabi menjawab: ibu. Selanjutnya? Ibu. Lanjut Nabi. Lalu? Ibu lagi. Kemudian? Baru ayah. Tutup Nabi. Saya tak berbicara keutamaan ibu di atas ayah, hanya saja manusia dari awal, sudah diajari untuk mengalami pembelajaran khusus betapa laku menghormati juga punya rute dan tingkatan—sekaligus batasan. Ketika misalnya perintah orang tua menabrak perintah Tuhan.

Sampai sejauh mana orang berhak dihormati? Batasan itulah yang aku rasakan sangat kabur malam ini, di perempatan bensin Rabea el Adawea dimana lebih dari 30 prajurit dari empat penjuru berbaris menghadang jalan—masing-masing berbaris mengambil jarak kira-kira dua langkah kanan-kiri—dan angkutan-angkutan diam menggerutu, dengan mesin yang belum dimatikan, kapan para tentara itu berhenti dan menyingkir dari depan kami?

Kata orang yang berdiri di halte bis depan pom bensin, presiden sebentar lagi akan melintasi jalan ini—dari arah sebrang pon bensin. Jadi, untuk jaga-jaga, pasukan keamanan sedari awal menurunkan pasukan, men-stop sementara kendaraan-kendaraan, menanti dengan hormat bapak presiden lewat. Selang beberapa menit kemudian, beberapa mobil yang di bagian depan tertancap bendera Mesir, melintas cepat melalu lalang membilah memasuki ruang kosong yang sudah disediakan—dan dengan demikian “mengorbankan” puluhan mobil untuk berhenti sejenak, membikin sebentar lalu lintas macet.

Saya tak tahu bagaimana harus menyebutnya. Apakah harus bilang bahwa presiden sebagai kepala negara, bapak dari rakyat-rakyat, harus dihormati, dijaga, dilindungi, lalu pantas didahulukan untuk segala hal—bahkan urusan transportasi sekalipun? Ataukah memang sudah terlalu jauh tradisi negri ini menghormati setiap pimpinan hingga untuk urusan-urusan manusiawi manusia modern—seperti kemacetan dan menunggu penuh bosan dalam kendaraan—harus sekuat tenaga ditepis dari muka presiden, bahkan ingatan atau pikirannya? Mobil presiden tak boleh macet, kulitnya tak boleh kena sengat matahari, makanannya tak boleh banyak mengandung kolestrol, dan juga tak boleh menyetir sendiri. Sebab rakyat makin “pandai” kalau semua itu bukan tugas presiden zaman sekarang.

Saya benar-benar takut kalau saya berburuk sangka. Tapi, aduh, alangkah lucunya kalau misalnya presiden tak pernah sesekali mengalami kemacetan, misalnya dalam kendaraan menuju istana negara? Toh, tak selamanya, sebuah negri selalu mulus berkembang di berbagai bidang. Dan Kairo sebagai salah satu kota metropolitan Egypt, sudah tak menyisakan ruas jalan lagi, bagi siapapun, terutama bagi yang tiap pagi melingkarkan dasi besar di kerah lehernya, untuk menghindari diri dari kemacetan.

Lucukah kalau presiden misalnya membuka diri, melonggarkan ruang di sudut kecil pemikirannya, untuk berlaku dan bertindak normal seperti rakyatnya sendiri? Tak perlu menganggap presiden sebagai pesakitan yang tiap kali hendak makan, alat canggih dan segala macam mendeteksinya sampai tak ada bakteri seupil yang melekat di santapannya. Presiden juga bukan undang-undang negara yang harus diberlakukan kaku dan formal setiap hari. Sebab, presiden adalah manusia yang bisa bosan dan jemu dengan ritual-ritual semacam itu.

Namun adakah dari sekian presiden negara di belahan dunia ini yang mementingkan rasa kebosanan sebagai wujud kreatifitas diri untuk mencari gaya hidup yang lebih manusiawi, lebih dekat dengan gaya hidup rakyatnya sendiri, gaya hidup yang demokratis, yang menempatkan manusia sebagai manusia, bukan dewa atau setan.

Saat naik kendaraan menuju Roxi malam tadi, saya terus mencari pangkal batasan dimana orang laik dihormati. Saya akan terus melakukannya sebab saya khawatir satu hal: orang yang dihormati mulai sombong dan tak tahu diri lalu memaksakan diri untuk jadi kekal di kursi paling atas, melanggengkannya dengan kekuasaan dan kekerasan dan manusia-manusia di bawah tungkaknya, mulai alpa bahwa ada Subjek yang patut lebih dihormati dengan khusyu’, yakni Tuhan itu sendiri—tuhan dari pemimpin juga.

Jika tidak, maka tak lama lagi, Tuhan akan tergantung di poster-poter dinding, dan anak-anak membacanya sebagai keberadaan yang tak punya arti, karena Tuhan tak perlu dicari di masjid-masjid, di kitab-kitab suci, bahkan di hati sanubari sekalipun.

Sunday, October 7, 2007

"Miroso"

Di atas nampan bundar yang berukuran sedang, nasi hangat ditumpleki lauk instan gado-gado (mie instan, sarden dan buncis). Malam ini, kami berempat sahur dengan menu semacam itu—aku tak punya nama untuk lauk yang barusan aku makan. Aku melawat ke rumah Makfi di Tajamu-3, bertemu Mas Irwan dan Awik. Aku tak di Bu’uts. Juga tak di Rabea el Adawea.

Di tengah “pertandingan” babak pertama—dalam istilah makan tajamu’-an, mulut sibuk berlomba mengunyah dan menelan, tangan beraktraksi ke kanan-kiri, ada yang jadi striker, ada pula penjaga gawang (orang yang terakhir berdiri sekaligus mencuci nampan tersebut)—kami berempat kepedasan. Walau begitu, kami tetap siap lanjutkan babak kedua: Mas Irwan numplek nasi lagi dari dalam rice cooker, Makfi menuang sisa lauk. Dan kami terus melahapnya, sesuap demi sesuap, dari pinggir menuju titik tengah. Kami tetap dalam posisi santai rileks, tanpa perlu gerudug-gerudug...

“Orang Jawa menyebut ini miroso,” Mas Irwan berkomentar. Sementara yang lain ketawa saja karena kurang begitu paham arti miroso, sembari meneruskan suapannya meski nasi dan lauk masih pedas lagi hangat.

Miroso itu sedikit tapi keroso,” lanjutnya. Maksudnya, sedikit tapi mantap.

Usai sahur, pikiran saya gatal untuk meneruskan apa itu “miroso” tadi. Ternyata, kalau kita mikir-mikir lagi, “miroso” tak hanya cumeblek di makanan yang sedap muantap, tapi juga kecentel ke gaya hidup kita sendiri, gaya hidup yang “miroso”. Dan bagi saya, itu jauh lebih berkesan buat orang lain dan diri sendiri ketimbang menjalani hidup yang hambar. Ibarat badan, itu“gombyor”: kelihatannya gemuk tapi lemes. Bukan padat berisi, tapi gedhe keropos.

Dan saya jadi punya pertanyaan buat diriku sendiri? Apakah hidup yang saya jalani—dan Anda juga jalani—sudah bagus sampai “miroso” buat saya dan orang lain? Ataukah masih gombyor-gombyoran? Hingga akhirnya saya menyimpan ketakutan yang kayaknya permanen, andai-andai segala aktifitas yang saya lakoni itu tak berkesan, tak membuahkan hasil, hanya ikut riwa-riwi sana-sini, tanpa ada patokan yang jelas... Gak sedikit tapi mantap namun banyak tapi kopong-pong!

Iya, lebih baik kita cari kehidupan (gaya hidup) yang “miroso”, aktifitas yang “miroso”, yang sedikit tapi mirosoni buat diri sendiri, apalagi buat orang lain. Sumur jadi berarti karena kedalamannya dan manusia—bahkan makanan—disukai orang lain karena mirosoni mereka.