Saya tak tahu sampai sejauh mana seseorang laik dihormati orang lain. Sebagai sama-sama manusia, di mata Tuhan, yang saya ketahui dan tetap saya pegang sampai nanti, tak ada bedanya antara orang sembahyang memakai celana dengan yang memakai jubah. Tapi “mata” Tuhan berbeda jauh dengan penglihatan manusia. Sejauh mana orang laik dihormati lebih—dengan penuh kesahajaan dari lubuk palung kalbu? Saya malah takut, kalau tiba-tiba muncul benih-benih apriori di hati saya bahwa orang tersebut sudah dilepaskan jati dirinya sebagai “manusia”, lantas didudukkan lebih dari itu, sebagai “tuhan” sendiri. Sehingga saya hormat bukan karena dorongan hati nurani, namun karena paksaan yang munafik karena “tuhan” macam ini tak bakal tahu isi hati saya.
Konon, aforisme bijak bertutur kalau “surga berada di telapak kaki ibu”—maaf, saya tak mengimani kalimat tadi sebagai Hadits Nabi. Seorang anak menghormati ibu-bapaknya lantaran dari beliaulah sang anak lahir ke dunia ini, tumbuh-berkembang menjadi insan terdidik, diayomi, dilindungi, dikasihsayangi, bahkan tak jarang dibuat bangga oleh orang tuanya sendiri. Saya teringat satu kisah tentang seorang Sahabat yang bertanya kepada Nabi, perihal siapakah orang pertama yang layak dihormati. Nabi menjawab: ibu. Selanjutnya? Ibu. Lanjut Nabi. Lalu? Ibu lagi. Kemudian? Baru ayah. Tutup Nabi. Saya tak berbicara keutamaan ibu di atas ayah, hanya saja manusia dari awal, sudah diajari untuk mengalami pembelajaran khusus betapa laku menghormati juga punya rute dan tingkatan—sekaligus batasan. Ketika misalnya perintah orang tua menabrak perintah Tuhan.
Sampai sejauh mana orang berhak dihormati? Batasan itulah yang aku rasakan sangat kabur malam ini, di perempatan bensin Rabea el Adawea dimana lebih dari 30 prajurit dari empat penjuru berbaris menghadang jalan—masing-masing berbaris mengambil jarak kira-kira dua langkah kanan-kiri—dan angkutan-angkutan diam menggerutu, dengan mesin yang belum dimatikan, kapan para tentara itu berhenti dan menyingkir dari depan kami?
Kata orang yang berdiri di halte bis depan pom bensin, presiden sebentar lagi akan melintasi jalan ini—dari arah sebrang pon bensin. Jadi, untuk jaga-jaga, pasukan keamanan sedari awal menurunkan pasukan, men-stop sementara kendaraan-kendaraan, menanti dengan hormat bapak presiden lewat. Selang beberapa menit kemudian, beberapa mobil yang di bagian depan tertancap bendera Mesir, melintas cepat melalu lalang membilah memasuki ruang kosong yang sudah disediakan—dan dengan demikian “mengorbankan” puluhan mobil untuk berhenti sejenak, membikin sebentar lalu lintas macet.
Saya tak tahu bagaimana harus menyebutnya. Apakah harus bilang bahwa presiden sebagai kepala negara, bapak dari rakyat-rakyat, harus dihormati, dijaga, dilindungi, lalu pantas didahulukan untuk segala hal—bahkan urusan transportasi sekalipun? Ataukah memang sudah terlalu jauh tradisi negri ini menghormati setiap pimpinan hingga untuk urusan-urusan manusiawi manusia modern—seperti kemacetan dan menunggu penuh bosan dalam kendaraan—harus sekuat tenaga ditepis dari muka presiden, bahkan ingatan atau pikirannya? Mobil presiden tak boleh macet, kulitnya tak boleh kena sengat matahari, makanannya tak boleh banyak mengandung kolestrol, dan juga tak boleh menyetir sendiri. Sebab rakyat makin “pandai” kalau semua itu bukan tugas presiden zaman sekarang.
Saya benar-benar takut kalau saya berburuk sangka. Tapi, aduh, alangkah lucunya kalau misalnya presiden tak pernah sesekali mengalami kemacetan, misalnya dalam kendaraan menuju istana negara? Toh, tak selamanya, sebuah negri selalu mulus berkembang di berbagai bidang. Dan Kairo sebagai salah satu kota metropolitan Egypt, sudah tak menyisakan ruas jalan lagi, bagi siapapun, terutama bagi yang tiap pagi melingkarkan dasi besar di kerah lehernya, untuk menghindari diri dari kemacetan.
Lucukah kalau presiden misalnya membuka diri, melonggarkan ruang di sudut kecil pemikirannya, untuk berlaku dan bertindak normal seperti rakyatnya sendiri? Tak perlu menganggap presiden sebagai pesakitan yang tiap kali hendak makan, alat canggih dan segala macam mendeteksinya sampai tak ada bakteri seupil yang melekat di santapannya. Presiden juga bukan undang-undang negara yang harus diberlakukan kaku dan formal setiap hari. Sebab, presiden adalah manusia yang bisa bosan dan jemu dengan ritual-ritual semacam itu.
Namun adakah dari sekian presiden negara di belahan dunia ini yang mementingkan rasa kebosanan sebagai wujud kreatifitas diri untuk mencari gaya hidup yang lebih manusiawi, lebih dekat dengan gaya hidup rakyatnya sendiri, gaya hidup yang demokratis, yang menempatkan manusia sebagai manusia, bukan dewa atau setan.
Saat naik kendaraan menuju Roxi malam tadi, saya terus mencari pangkal batasan dimana orang laik dihormati. Saya akan terus melakukannya sebab saya khawatir satu hal: orang yang dihormati mulai sombong dan tak tahu diri lalu memaksakan diri untuk jadi kekal di kursi paling atas, melanggengkannya dengan kekuasaan dan kekerasan dan manusia-manusia di bawah tungkaknya, mulai alpa bahwa ada Subjek yang patut lebih dihormati dengan khusyu’, yakni Tuhan itu sendiri—tuhan dari pemimpin juga.
Jika tidak, maka tak lama lagi, Tuhan akan tergantung di poster-poter dinding, dan anak-anak membacanya sebagai keberadaan yang tak punya arti, karena Tuhan tak perlu dicari di masjid-masjid, di kitab-kitab suci, bahkan di hati sanubari sekalipun.