Saturday, September 29, 2007

Ganti Nama

Mau tak mau, karena beberapa alasan, aku harus mengganti nama depan blogku. Asalnya “Dunia Tanpa Titik”—aku pun tak perlu menyingkatnya dengan “DTK”. Kupilih kata itu untuk sekadar mewakili motivasiku untuk sebisa mungkin memberi semangat mengisi blog ini.

Sebenarnya, kalau boleh cerita, saya menulis kata itu jauh-jauh hari sebelum saya menonton sinetron Dunia Tanpa Koma (DTK). Tak ada sedikit pun unsur plagiatisme atau usaha meniru-niru dengan sinetron itu. Aku juga tak terlalu mementingkan hal itu. Hanya saja, daripada judul di atas mengundang kegalauan seseorang atau prasangka yang bukan-bukan, dengan senang hati—sekali lagi, senang hati tanpa paksaan—menggantinya dengan cukup nama saya saja (barang kali sudah kehabisan kata-kata :D). Daripada dituduh seorang plagiator, mendingan begitu sajalah seterusnya. Daripada menyebabkan orang berburuk sangka, daripada sakit hati, daripada didakwa plagiator, daripada dituduh tidak punya kreatifitas...

Tak ada yang berubah. It’s just technical problem. Ha ha, maybe i mustn’t add any words below my name.

Aku ingin tertawa terbahak-bahak. Meludahi semua orang. Iya, tak terkecuali siapapun. Bila dilanjutkan, mungkin alamat blog saya (demis19) “dicurigai” meniru dewa19. Ha ha, saya ingin ketawa lagi. Saya ingin muntah. Memang saya termasuk baladewa, tapi arti “19” bukan itu, angka itu adalah umur saya ketika membuat blog ini. Jelas?

Lebih Membutuhkan

Akhir-akhir ini saya sedikit kerap mendengar kalimat itu. Tapi lebih kerap lagi mendengar kalimat-kalimat seperti Maidaturrahman dan Musa’adah. Barangkali, kalimat di atas tak akan kita dapati di Indonesia. Dalam konteks Ramadlan Karim di Mesir, mendekati sepertiga terakhir, kalimat-kalimat itu makin riang terdengar, makin sesak dicari, bahkan juga tak jarang direbutkan...

Kemarin saya dengar dan ikut pembicaraan dengan kawan-kawan mahasiswa kalau mereka ingin mengajukan formulir ke Ri’ayatul Wafidin di Kulliyah Thib. Katanya, setiap kepala yang mengajukan formulir ke sana akan memperoleh fulus 200 Pound. Dan esoknya, waktu saya pergi ke Dekan Kuliah Syariah wal Qonun—gara-gara petugas Ri’ayatus Syabab mem-bukroh-i saya dua kali—untuk minta tanda tangan mewakili lembaga itu, beberapa mahasiswa berdiri di luar—sebagian berwajah muram penuh harap—menunggu formulirnya ditandatangani dekan yang gendut itu. Ya, saya lihat dekan yang suaranya besar itu sibuk corat-coret. Kata temanku, formulir itulah yang bakal disetorkan ke Kuliyah Thib. Saya mengernyitkan dahi akan satu hal: benarkah Azhar bakal mengucurkan 200 Pound performulir?

Entahlah, saya harap itu semua tidak isu yang selalu menguap seperti isu-isu pada tahun-tahun sebelumnya yang—katanya lagi—beasiswa Azhar akan dinaikkan.

Ramai saya lihat orang berduyun mengejarnya, mengurus tashdiq, dan tentunya rela antri berjam-jam demi duit yang untuk ukuran mahasiswa yang mendapatkan beasiswa dari Azhar, lebih gede dari jatah perawal bulan.

Menginjak Ramadlan ke-14 ini, isu-isu pemburuan musa’adah mulai jadi “buah bibir” (bukan “buah mulut” lho!). Ya, mirip gerilya mencari bonus lebaran. Apa boleh dilihat, orang-orang Mesir dan lembaga-lembaganya tak tanggung-tanggung membanting duit untuk yang mereka pikir lebih membutuhkan.

Kayaknya pembicaraan semakin serius. Di kamar-kamar, di jalan-jalan, di dalam bis, di milis-milis, bahkan di saluran telepon rumah perrumah ketika musa’adah menjadi motif jaringan paling lancar dan cepat akhir-akhir ini. Saya kagum, informasi tempat “sarang madu” itu begitu cepat sampai ke telinga. Kita bakalan cepat tahu kalau musa’adah akan dibagikan jam sekian-sekian di masjid, di depan pintu rumah penjual toko emas, di Sabi’, di Sadis, di Asyir, di Atabah bahkan di Katamea,...

Di mata si pemberi, mereka yang berduyun-duyun datang adalah si penerima yang benar-benar membutuhkan. Modal sebagai wafidin cukup jadi pelicin untuk mempermudah mendapatkan rezeki gratis itu.

Kembali ke formulir 200 Pound di Kuliyah Thib, saya kembali dengar obrolan itu di tempat lain. Sebagian bilang baru ingin mengambil formulir hari ini, sebagian lagi bilang tidak. “Ada yang lebih membutuhkan,” katanya.

Aku tak tahu siapa yang dia tunjuk dengan ucapannya: ada yang lebih membutuhkan. Mungkin sesama kawan yang lain, sesama wafidin (pelajar asing) yang lain, mungkin orang kayak saya...

Namun secara umum, frase “ada yang lebih membutuhkan” mempunyai dua kemungkinan arti. Pertama, jangan-jangan kata itu diucapkan karena rasa kemalasan sehingga dia memilih kalimat itu berkomentar dan menutup dengan kata-kata yang manis didengar sekaligus dinyinyiri sebagian orang. Dan kedua, dia tahu kalau dia sudah merasa cukup dengan duit saban bulan (baik minhah, kiriman orang tua maupun kerja), bersyukur ia tak merasa kekurangan sehingga tak perlu menyerbunya dan mengerti betul bahwa barangkali ada orang lain yang lebih membutuhkan. Mungkin kawannya sendiri atau juga orang Mesir sendiri yang sering terlihat di jalan-jalan.

Saya sendiri juga bukan orang yang mengatakan kata-kata di atas. Mungkin saya juga nantinya masuk bagian “laskar” yang memburunya—dengan tendesi lucu “mencari berkah di bulan Ramadlan”. Hanya saja, saya disadarkan bahwa kalimat itu menyitir parodi yang menusuk elu hati agar selalu ingat kalau kekenyangan—apalagi urusan fulus yang dalam kaidah ekonomi, dikeluarkan negara dengan jumlah terbatas—berarti merampas jatah orang lain. Ya, semacam merampok kecil-kecilan dengan prinsip pura-pura kura-kura. Ups salah, maksudnya pura-pura tak tahu.

Tapi ada kabar baik lain yang lebih membuat saya bahagia dan bisa menghela nafas panjang. Berkas kuliah saya akhirnya diterima. Madzruf yang saya beli 28 Agustus kemarin, baru jebol di muraqib Rabu kemarin tanggal 26 September. Sebelumnya pendaftaran saya ditolak melulu karena belum mengurusi ijroat pindah minhah usai ditendang dari asrama pada 19 Juli lalu. Mau tak mau, demi dapat ishol, harus muter-muter kayak orang tajdid minhah di majlis a’la, baituzzakat...

Lantas kabar buruk sesudah kabar baik itu, seperti kata petugas minhah, minhah saya hilang bulan Agustus dan September. Sebabnya, katanya lagi, saya telat ngurus. Uh, jangan-jangan saya punya alasan yang kuat untuk hunting akhir-akhir ini...

Thursday, September 20, 2007

Melawan Salafisme dengan Salafisme

Pasca reformasi di tahun 98, ternyata tak hanya mendatangkan pemahaman baru tentang demokrasi, kebebasan dan hak-hak sipil di Indonesia, namun secara tidak langsung, geliat perkembangan “warna-warni” dunia pemikiran dan gerakan Islam menemukan titik episentrumnya untuk meledak, berkembang sesuai identitasnya masing-masing setelah lama terpasung di era Orde Baru. Keragaman corak tersebut bisa diamati dari lahirnya organisasi-organisasi dengan varian ideologi mulai dari yang paling fundamentalis-radikalis sampai ke liberal-progresif.

Bahasa sederhananya: di samping suasana iklim politik tengah menghembuskan nafas segar, kemunculan mereka merupakan tindakan reaksioner terhadap begitu cepatnya arus globalisasi yang tak mengenal tapal batas. Golongan pertama dari varian yang penulis sebutkan di atas, lebih defensif mengambil sikap dengan “menjaga jarak” yang tak begitu intim dengan sesuatu yang tak memiliki akar historis dengan prototipe Islam generasi pertama.

Azyumardi Azra menilik ada lima kecenderungan yang mengarah ke sana. Pertama, kembalinya asas Islam menggantikan Pancasila sebagai satu-satunya asas organisasi sosial-politik; kedua, munculnya banyak sekali partai politik Islam yang memperebutkan tafsir monolitik tentang pemaknaan Islam untuk kekuasaan politik; ketiga, derasnya permintaan diterapkannya syariah Islam dengan memasukkan kembali Piagam Jakarta kedalam Prembule UUD 45; keempat, munculnya kelompok yang di mata orang banyak dipandang sebagai kelompok radikal; dan kelima, munculnya individu-individu yang menggunakan aksi teror dan kekerasan untuk menggapai agenda-agenda mereka—seperti peledakan bom Bali di Bali oleh Amrozi pada Oktober 2002. Analisa Azra turut diamini oleh Mark Woodward, bahwa salah satu respon Islam pada saat itu adalah gerakan Islamis atau Islamisme yang mengusung paham arabisme dan konservatifme. Karakter utamanya: selalu mendengungkan penegakan negara Islam dan penerapan jihad, kerap menggunakan aksi kekerasan bahkan tak menutup kemungkinan kepada kelompok Islam tertentu yang tak sepaham dengan mereka.

Umumnya mereka, jika ditinjau dari tujuan yang dipropagandakannya, menganut paham salafisme. Paham ini memiliki arah orientasi yang kuat untuk mengembalikan zaman modern ke zaman nabi dimana waktu itu, syariat Islam dijalankan dengan penuh kesahajaan, tak banyak akulturasi dengan budaya non-arab dan intervensi akal dalam interpretasi ajaran agama, terutama dimensi teologi. Mereka, sebagaimana kaum fundamentalis Kristen Kanan, secara psikis, gentar dengan dunia yang makin penuh chaos ini sehingga mau tak mau, dengan cara yang yang tak selamanya benar, berupaya menyeret sejarah abad 6 M ke kubangan kehidupan masa kini (mutakhir). Puritanisme jadi standar mutlak penegakan “Islam murni”.

Genre Salafisme muncul pertama kali sebagai versus ideologi Muktazilah yang sangat terbuka dengan peradaban luar (Yunani). Jadi bibit ideologi itu berkembang seiring dengan laju diaspora Islam ke wilayah non-arab. “Menghidupkan kembali tradisi salafi” masih jadi ciri khas asas gerakan itu. Dalam perkembangannya, ternyata salafisme mengalami pasang-surut. Atas dasar ini, The Oxford Encyclopedia of The Modern Islamic World cenderung memberikan beberapa istilah untuk salafisme. Pertama; Salaf Klasik yang dicetuskan oleh Ahmad ibn Hanbal lalu diteruskan oleh Ibn Taymiyyah; kedua, Salaf Pramodern yang digarda-depani oleh Muhammad ibn Abdul Wahab [1703-1792M] yang mendukung ide generasi Salaf pertama. Pada akhirnya, ide ini menjadi mainstream gerakan wahabi di Arab Saudi; ketiga, salaf Modern yang dicetuskan Jamaluddin Afghani [1839-1897M] dan Muhammad Abduh [1849-1905M]. Perbedaan fundamentalnya, Salaf Pramodern kental dengan ciri pemurnian ajaran Islam dari khurofat dan bid’ah serta skeptisismenya dalam menyambut gaung kemajuan bangsa Eropa. Sedangkan objektifitas utama Salaf Modern lebih bergerak ke pembebasan umat Islam dari lumpur taklid buta dan kejumudan yang lebih mengedepankan toleransi dan rasionalitas agama.

Dari corak salafisme yang sudah tak seragam, ideologi ini memiliki mata rantai dengan perkembangan salafisme di Indonesia sejak awal kemerdekaan ketika Indonesia bingung mencari dasar negara. Beberapa ulama NU dan Muhammadiyah sempat bersikeras menjadikan Islam sebagai ideologi negara dan kaum nasionalis meformulasikan konsep nasionalisme yang banyak terinspirasi oleh sistem negara maju di barat. Waktu itu terjadi perdebatan sengit sampai akhirnya para penggagas “Islam sebagai haluan negara” legowo dengan konsep yang lebih bisa diterima semua golongan, yakni Pancasila. Perhelatan di sini, bagi penulis adalah pelajaran penting sekaligus pukulan telak bagi mereka yang masih berkeinginan bahwa negara perlu diislamkan dan butuh pengawal yang menjaga syariat Tuhan. Di sana, kita dihadapkan gambaran bahwa orang yang tak berpuasa akan sama kena hukuman dengan orang yang tak membawa SIM.

Ideologi yang terkena sindrom utopia sejarah ini sekarang mengalami cetak ulang (reproduksi)—mungkin bisa disebut “salafiyah ideologis”—dan tak ayal menggunakan aksi radikalisme. Buktinya, gerakan yang dulu sifatnya underground kini mulai tampil ke permukaan. Saat Islam Salafi diseret ke ranah ideologi (politik), yang akan terjadi ialah politisasi syariat dimana agama dipaksakan menjadi ideologi. Fungsi agama dipolarisasi ke ranah syariah oriented. Salafiyah ideologis ini sangat bertolak belakang dengan salafiyah reformis yang ditampilkan Muhammadiyah. Meski laporan Internasional Crisis Group (ICG) pada tahun 2004 menyimpulkan bahwa sejumlah kelompok salafi di Indonesia menolak organisasi-organisasi seperti Jamaah Islamiyah, tapi pada dasarnya orang yang memaksakan aksi kekerasan seperti Amrozi dkk. dan kaum salafi memiliki gagasan serumpun (kembali ke generasi Islam pertama) namun menempuh jalur gerakan yang berbeda.

Pada akhirnya, “salafisme” bukanlah harga mati untuk sebuah ideologi. Sebagai produk sejarah, paham itu bisa “terjerambab” dalam pergulatan interpretasi. Jika acuan umum yang dipakai adalah “menghidupkan kembali tradisi salafi”, maka tak salah jika kita kini menakar ideologi salafisme versi Ali Abd al-Raziq. Yakni, salafisme sekuler dimana agama diselamatkan dari hiruk pikuk sabotase kekuasaan. Dengan yakin ia bependapat bahwa nabi diutus untuk menyampaikan risalah kenabian yang mengandung ajaran-ajaran moral. Laiknya ide yang mengakar pada historisasi zaman awal kenabian, Ali ingin menjalankan agama dengan kesahajaaan. Yaitu ketika umat Islam berani mengidentifikasi nilai-nilai transeden Islam yang patut dilanggengkan dari ijtihad manusia yang sifatnya profan—yang belakangan diyakini kaum salafiyah ideologis sebagai bagian integral dari pesan Kitab Suci. Hanya dengan itulah, toleransi dan demokrasi akan jadi cerah di tanah air sebagai paradigma baru Islam Tanah Air yang rahmatan lil’alamin. Wallahu a’lam.

Tuesday, September 11, 2007

Hardisk-ku Corrupt

Saya makin tahu bahwa komputer bisa rentan aus laiknya tubuh manusia. 3 tahun yang lalu, ketika duduk di bangku 2 Aliyah, saya baru mengenal dan menyentuh komputer. Saya belum tahu apa-apa pun. Pegangan saya: untuk menyimpan data, diperlukan disket—waktu itu harganya 3.500 Rupiah. Saya tahu bahwa barang berbentuk segiempat dengan kepingan logam bundar di porosnya adalah satu-satunya alat penyimpan data yang aman. Saya pikir disket tak ada tapal batas kapasitas sehingga muat di-entry sebanyak apapun data. Saya belum sempat mendengar nama kakak-kakaknya disket yang tentu lebih jago dan kuat: flashdisk dan hardisk.

Saya sangat tolol waktu itu. Ketololan itulah yang mengantarkanku pada satu pemahaman bahwa komputer (dan disket) adalah elektronik yang punya muatan segala-galanya. Kalaupun rusak, tak akan berakibat fatal: data masih terselamatkan.

Itulah yang kualami kini. Entah kenapa, lama saya biarkan hidup, komputer butut pentium tiga berusia 7 tahun yang dibeli kredit Agustus musim panas tahun lalu itu corrupt. Semua data yang kusimpan dan kutata di Local Disk (E) dan (G) ludes. Ugh, saya tak tak harus berbuat apa-apa. Ketika ingin kunyalakan lagi, kutekan tombol power, muncul perintah untuk re-install. Saya tak ambil pusing. Mungkin Local Disk (C)-nya aja yang rusak dan bisa diformat lagi, soalnya tak ada data penting. Tapi saya langsung terbelalak saat selesai diinstal, kedua Local Disk di atas hilang. Dokument bergiga-giga itu dengan sekejut lenyap. Kehilangan yang sama, juga saya rasakan saat hardisk pertamaku, 30 GB rusak. Semuanya...

Walau begitu, saya musti patut bersyukur dan bernafas lega, karena data-data inti masih selamat di Local Disk (D). Akan tetapi bagi saya, (E) dan (G) memiliki kesan tertentu, tak sekadar sebagai keranjang menumpuk film-film. Di sana ada lagu-lagu kesukaan, program-program, sekaligus titipan dokumen kawan-kawan dan lain-lain yang tak kuingat betul.

Di sana, minimal, saya belajar mencintai lagu-lagu Dewa dan Vanessa Carlton. Saya akrab dengan Dewa saat meluncurkan Album Laskar Cinta. Dua lagu yang bikin hati saya tergetar: Satu dan Hadapi Dengan Senyuman. Berawal dari sanalah—dengan modal kaset pinjaman dan tape recorder rakitan—saya mulai mencari album-album lain di sana. Bahkan sampai di sini, kuingat betul karena sering kudengar, 9 Album Dewa dari awal sampai terakhir plus Album Konser Atas Nama Cinta dan Ahmad Band hilang—yang kujumputi satu persatu entah dari hardisk siapa saja. Kedua, tentang Vanessa Carlton. Awalnya saya tak begitu antusias menikmati lagunya yang kental dengan nuansa pianonya, A Thousand Miles. Mulai habis ujian Juni kemarin, saya rasakan nada-nada lain saat mendengar dia bernyanyi. Kucari mp3 dan kukoleksi album perdananya, Be Not Body. Tak hanya di situ, terus merambah ke lagu Ordinary Day, Pretty Baby dan Paradise. Sampai kudapatkan album keduanya, Harmonium, saya jatuh cinta berat sama lagu White Houses, San Franciso dan Who’s to Say.

Dan sekarang, mau tak mau saya harus jinjing-jinjing hardisk lagi untuk mencari satu persatu lagu kenangan itu. Bukan karena apa, tapi kurasakan ada sebuah proses yang begitu nikmat di saat-saat mengetik di depan komputer, saya menikmati Satu atau White Houses. Oh, di mana lagi kudapatkan mp3-nya?

Terakhir, buat kawan-kawan yang kebetulan nitip dokumen atau poto di hardiskku, maafkan saya tak bisa menjaga titipan sampean semua dengan baik. Gomenasai! Kuharap tak bosan-bosan tetap nitip satu-dua file di hardisk 80 GB bermerk Seegate itu. Kalau ada yang punya lagu-lagu di atas, mohon kiranya bantuannya. Thanks!

“Hidup ini juga pasti mati”—komputer pun juga bisa aus. Buat apa bersedih? “Hadapi [saja] dengan Senyuman”

Sunday, September 9, 2007

Bukuku Bagus Sekali

Sudah lama saya tak mengunjungi maktabah kecil di dekat Sayyidah Zaenab itu. Barangkali satu alasannya, memang alokasi anggaran duit yang sengaja saya delete untuk keperluan lain yang lebih mendesak. Bukan karena buku (dengan kata lain, “membaca”) tidak penting lalu patut dilupakan, tapi untuk saat-saat sekarang ini, di samping saya tak menemukan waktu dan tempat yang kondusif untuk baca-baca buku—usai dikeluarkan dari Bu’uts—“membaca” bukanlah tuntutan atau satu kebutuhan yang mendesak. Barangkali benar! Meskipun saya malu pada diri sendiri, kenapa dua tahun di Kairo (di Ma’had), hanya mampu menulis makalah satu kali: tentang Abduh dan Ilmu Kalam. Mungkin bukan jodohku untuk kembali mengulang betapa mesranya—dan terkadang juga gila—“membaca”. Toko kecil itu lama kukunjungi. Hampir dua bulan. Terakhir datang pada 3 Juli lalu. Dan dapat satu buku: Al Islam wal Akhar—itu pun belum sempat kubaca sampai sekarang. Kebiasaan saya, selalu menulis nama lengkap, tempat dan tanggal pembelian di halaman depan buku di toko itu juga. Baru kemarin, saya bisa menjenguk toko dengan etalase buku-buku beraneka ragam itu. Mulai dari buku anak-anak, buku sosial, sastra, dan buku umum. Itu pun tidak sengaja. Kebetulan Sabtu kemarin saya pergi ke KBRI (non formalnya: Ka Be eR I, nggak salah kan kalau nulis seperti ini?) lalu muncul saja inisiatif untuk melihat-lihat kalau ada buku terbaru. Hasilnya tak terlalu mengecewakan setelah jalan kaki kurang lebih setengah kilo. Saya dapat 3 buku yang menurut saya bagus: As-Shufiyah wa as-Siyasah fi Mashr-nya Dr. Umar Ali Hasan, Difa’an anil Mar’ah-nya Dr. Jabir Ushfur dan Tarwidl an-Nash-nya Hatim as-Shakr. Hari ini, Ahad 9 September, akhirnya Suara Pelajar (Buletin Ma’had kita) selesai suksesi. Alhamdulillah pimred terbaru terpilih: Zaimuddin asal Jawa Timur. Ehm, saya harus dengan besar hati melepaskan satu rutinitas saya setiap awal bulan: nunggu tulisan yang diedit oleh Bella (sekarang di Indo), me-lay out secantik mungkin. Walau hasil yang saya dapatkan jelek tak sama dengan buletin Kairo yang indah nan mantap, saya puas degan kegiatan itu. Puas bekerja sama dengan teman Ma’had berenam: saya, Aziz, Ridlwan, Richah, Bee dan Zain. Pasca demisioner, ada acara santai yang ditutup tukar hadiah. Yups. Satu buku yang kubeli kemarin (Difa’an anil Mar’ah) kubungkus, kuhadiahkan kepada siapa yang namanya saya ambil dalam lintingan kertas yang dikocok dalam gelas. Moga buku itu lebih nyaman dan bahagia, punya empu yang tak pemalas seperti saya. Entah saya sadari atau tidak, jumlah buku saya sekarang bertambah. Berarti nanti saya haru membayar utang saya lantaran sekarang ini banyak waktu yang saya “buang” untuk kegiatan lain. Bukuku bagus sekali. Ketika melihatnya, dalam hati bertanya: kapan bisa membaca mereka? Nanti, nanti, nanti... I’m sorry, i let you down.

Saturday, September 8, 2007

Catatan Akhir Sekolah

Ma'had tampak indah jika dilihat dari pintu gerbang, tapi ia akan tampak lain bila diamati ari dalam. Apa yang orang katakan andai lihat kelasku? Tahu ujianku? Maklum anak kecil, mencontek. Di antaranya begitu, kutaksir, mereka menjawab. Sabtu (5/5) ujian keduaku. Ujian tahriri dimulai 3 hari sebelumnya, dan ujian lisannya pada akhir April kemarin, tanggal 26. Kamis, di pagi yang dingin-dingin hangat itu, aku sedikit ragu untuk mengerjakan soal Fiqh. Tapi perasaan itu selalu kutepis, sedapat mungkin, seperti pemaksaanku terhadap kedua mata untuk melek dari jam lima sore sampai lima pagi. On time, di depan buku, menghafal dan memahaminya. Kupaksa. Jadinya, pagi itu badanku kupaksa juga untuk betah. Tapi Ma’had abai tak menyapa. Ruang ujian tanpa nomor urut duduk, meja kotor dengan debu yang lengket seperti rumah tak berpenghuni, meja dengan alas yang tak nyaman dibuat alas kertas, pelajar tanpa seragam, dan jadwal waktu yang lemah. Ruang ujianku berada di lantai 3. Lajnahnya bernomor 34. Jumlah kami, para siswa, di kelas itu ada 20 orang. Meja ditata berbaris lima-lima dengan jajaran empat. Dan anak Indonesia hanya dua orang: aku dan Zein. Tapi di sana ada yang lumayan membuatku takut: soal-soal ujian tak dapat diprediksi. Takut? Aku diantaranya, entah orang lain. Hari ini, ada kejadian humoris yang sangat memualkanku. Pada jam kedua, maddah Mujtama’ Islamy, beberapa siswa kedapatan membawa contekan dalam kelas. Mulai setengah duabelas, kami sudah lengkap menduduki tempat duduk masing-masing. Lembar jawaban dibagi terlebih dahulu, satu persatu mengisi daftar hadir jam kedua, sampai kertas soal dibagikan rata. Mula-mula, gerakan mencurigakan seorang siswa yang (memilih) duduk paling belakang—karena tak ada nomor duduk—terbaca oleh salah satu pengawas yang berkacamata. Pengawas mendekat, didapatinya ringkasan isi Mujtama’ dengan huruf kecil-kecil dalam kertas berukuran besar, dan kemudian pengawas separuh tua itu bergerak lebih jauh. Walhasil, buku Mujtama’ juga di-kempit anak hitam tinggi itu. Aku ketawa saja melihatnya dari depan. Ultimatum dibunyikan. Sampai beberapa menit kemudian, empat siswa lagi, berbuat hal yang sama: mencontek. Ahai, inilah kelas kami. Barangkali “Sabtu Setengah Duabelas” itu adalah kesialan dan kemalangan kami. Jarang kami diawasi guru galak seperti hari ini. Wal ustadz mutasyaddid awi, keluh temanku. Itulah hal-ihwal kami setiap hari. Sejak 2 Mei sampai 19: malas kalau sekolah, mencontek ketika ujian. Tadinya aku membayangkan—jauh sebelum datang ke Mesir—apa dan bagaimana sekolah yang bakal kutempati. Sekolah yang berkualitas di atas pondokku dengan sarana-prasarana yang memadai. Tapi tenyata, Mesir negri debu. Tak di luar atau di dalam, sama saja. Ini bukan sekolah, pikirku, tapi tempat sampah. Debu-debu menempel di setiap sudut ruang, tempat duduk, tangga-tangga dengan gundukan-gundukan pasir kecil, toilet seperti buangan tinja anjing. Tak seperti di pintu masuk dan interior ruang depan, kaligrafi nama-nama Tuhan dipajang urut-sejajar di setiap dinding, foto gagah bapak Presiden dengan ukuran yang lebih besar ketimbang wajah teduh Syeikh Azhar—dipajang sedikit lebih rendah. Gedung berbalok tiga itu, tampak anggun waktu kulihat dari pucuk imarahku, Ragab. Andai orang tahu kelasku, ia akan bilang apa? Kasihan sekali mereka yang telanjur belajar ngebut semalaman demi 4 jam, sekali dalam dua hari itu. Tapi sekarang, aku tak bisa mengintip kemegahan sekolahku dari pucuk imarah berwarna hijau itu. Tepatnya setelah tragedi 317 pada 19 Juli. Bukan apa-apa sih! Hanya sekedar ingin membayangkan manisnya gula saat menelan pahitnya empedu: 19 Juli itu adalah hadiah terindahku lulus Ma’had. Dan sekarang ia akan kutinggalkan, barangkali juga tak akan kukunjungi lagi. Usai lulus ujian musabaqah, dengan usaha yang menabrak-nabrak dan hasil yang terseret-seret, dengan usia yang kadaluarsa, alhamdulillah, aku melepas masa supelku. Lebih memualkan lagi, andai rutinitas musabaqah kuseret di sini. Tanganku kutahan, karena tak bakalan ada perubahan yang bermanfaat. Tahun depan, akan tetap sama. Dan ia akan benar-benar kutinggalkan. Dua tahun di sana, aku sekolah. Tahun kedua jadi hancur-hancuran: dapat predikat “pelajar telatan”. Tapi predikat itu bukan di sekolah Indonesia. Ini Kairo. Di Azhar lagi. Telat tidak masalah dan rasib juga bukan hal yang aneh. Maafkan perkataanku, aku terlalu kurang ajar. Aku hanya menulis kenyataan yang aku lihat. Aku tahu engkau juga sedih.

Friday, September 7, 2007

Indonesia + Pakistan = < > ?

Kemarin malam, hari Rabu, seorang teman asal Pakistan, namanya Aslam, mengajakku makan malam. Aku ditawarinya untuk makan di Kairo Market, tak jauh dari Ahmad Said, Abasea. Aku mengiyakan tawarannya, toh waktu itu, sejak pagi, perutku belum terisi nasi. Duduk di kedai sederhana, laiknya restoran-restoran mini Indonesia yang berjejal di Bilangan Gami’ H-10, sambil menikmati angin malam di pinggir jalan, kami berempat—dia mengajak dua orang temannya lagi dan aku sudah tak ingat nama mereka—memesan dua piring Kuftah (sate versi Mesir) dan satu Farkhah (ayam panggang versi Mesir) utuh. Selalu aku bubuhkan kata “versi Mesir”, soalnya dua menu makanan itu akan jadi lain di lidah bila saya dan kawan-kawan memasaknya sendiri. Seperti biasa, mereka berdua membuka sapa. “Kamu darimana?” “Indonesia,” “Bagaimana tentang kedai ini?” “Ehmm, lumayan,” walau aku sendiri agak kurang nyaman. Kami duduk di luar kedai, tepat pinggir ruas jalan umum, tak jarang terdengar klakson bis-bis, orang-orang bersliweran. Di sebrang jalan, kulihat, juga ada penjual makanan yang sama. Satu dua cewek Mesir lewat dan kutatap sekali saja tapi terus. Aku sendiri tak ambil pusing dengan mereka yang, misalnya, saban harinya jalan tanpa pernah makan Farkhah atau Kuftah di sini, atau para tetangga yang tak mampu beli dan hanya bisa mencium asap panggangan yang menyiksa. Sungguh tersiksa! Paling-paling orang bilang: itu wajar. Mereka memasak, memanggang ayam memang ingin dijual. Namanya dagang, patutlah dipamer-pamerkan—kalau orang Jawa bilang: dipayok-payok`e. Anda tergoda, datang, pesan lalu makan dan pedang senang dengan kunjungan Anda. Aku masih merekam kuat omongan Aslam saat kami berdua ngobrol di kamarnya, di Bu’ust Imarah 18 lantai dua paling ujung sebelah kiri. Kami ngobrol soal pelajar Indonesia dan Pakistan. Dan ternyata memang banyak perbedaan: bukan hanya bentuk wajah, tapi juga perilaku, cara pandang, gaya hidup bahkan tujuan. Kukatakan padanya, jumlah kami di sini 5.000-an lebih. Kebanyakan tinggal di luar. Sebagian kecil saja yang tinggal di Bu’uts. Ada yang datang ke Mesir lewat donasi beasiswa Azhar. Biasanya lewat Depag. Sampai sini, bisa langsung dapat minhah. Dan satu lagi, tiket juga sudah disediakan Azhar. Tapi kebanyakan terjun bebas: biaya sendiri untuk mendulang ilmu di Azhar. Dari limaribuan tadi, ada perempuan yang juga sama-sama studi di Azhar walau sedikit. Tapi dia dan pelajar Pakistan, punya iklim yang beda untuk sama-sama tumbuh di ladang ilmu Afrika Utara ini. Katanya, jumlah pelajar Pakistan sekitar 100-an. Semuanya laki-laki. Sebagian besar tinggal di Bu’uts. Jumlah mereka baru melonjak empat tahun terakhir sesudah beberapa Madrasah (dia menyebutnya, Ma’had) mendapatkan muadalah (penyamaan ijazah) oleh al Azhar sendiri. Wilayah negara yang konon hendak membentuk koloni yang murni Islam itu, tak begitu luas. Mereka dan dua tetangga serumpunnya, India dan Bangladesh memiliki bahasa yang betul-betul sama—katanya, ketiga negara itu mulanya satu negara kira-kira 60-an tahun yang lalu. Tak aneh bila India ngomong, Pakistan dan Bangladesh paham betul. Begitu juga sebaliknya. Tambahnya lagi—dan bagian ini yang membuat aku tertegun—misi studi mereka ke Azhar memang mendapatkan sumber beasiswa ganda: dari Azhar dan negaranya sendiri. Katanya minhah yang per bulan diterimanya, sekitar 92 Pound—sama seperti Indonesia. Kalau dari negaranya, per bulan mereka memperoleh jatah 200 Dollar Amerika. Mereka mengambilnya di Kedutaan Pakistan di Kairo. Aku lupa menanyakan tempatnya. Kadang-kadang tidak bisa diambil setiap bulan. Mungkin 2 atau 3 bulan diropel jadi satu. Beda jauh bukan? Satu lagi. Di sini, mereka tak punya organisasi induk. Tak ada kegiatan ekstra kuliah. Mereka tak kenal apa itu senat, sidang umum dan pemilu mahasiswa. Jangan-jangan kata “mahasiswa” juga terbatas dipakai dalam ejaan bahasa Indonesia. Maksudnya, di Pakistan tak ada perbedaan istilah antara pelajar pra-kuliah dengan kuliah. Sama-sama tholib. Aku sendiri tak bisa membayangkan hidup seperti itu. Kesehariannya dia hidup ala umumnya di Bu’uts dan kalau sore bermain kriket. Saat di kamarnya, aku tak lihat buku-buku menumpuk atau berjejal rapi di rak-rak dinding. Paling-paling hanya muqarar yang berderet di meja belajarnya. “Mana buku-bukunya?” Yang terakhir ini, belum sempat kutanyakan.

Saturday, September 1, 2007

Gembel

Apa yang akan Anda katakan tentang gembel? Kira-kira kita akan bilang seperti ini: gembel itu orang yang jelas tak punya harta, hidupnya di susuran jalan atau pinggiran imarah, pakaiannya compang-camping (harta satu-satunya hanya kain yang tak pernah ditanggalkannya), wajahnya acak-acakan, tubuhnya berdebu lusuh, dan satu lagi... bukan mahasiswa mancanegara. Ahai, adakah dari 5300 mahasiswa Indonesia di Kairo yang merasa ngegembel? Atau merasa perlu mengemis untuk mencukupi biaya hidup meliputi sewa rumah dan makan? Bukan. Orang-orang menilai mereka datang pastinya dengan duit melimpah orang tua. Sebagian ada yang terus memperoleh kiriman dari rumah dengan lancar per bulan. Besarnya macam-macam. Ada yang 500 ribu kebawah bahkan sampai ada yang 1 juta tiap bulannya. Wajar donk! Kata sebagian. Di Kairo sekarang mahal, di Hayyil Asyir, apartemen naik tarif sewa luar biasa. Mesir sekarang bukan zaman kakak senior 10 tahun yang lalu. Kairo—dengan mahasiswa 5000 lebih itu—disulap jadi kota mini metropolitan. Jadi, bukan karena tak punya duit Anda tak jadi sewa rumah kan? Ada juga yang hidup dari bekerja. Apa saja dikerjaan, asal halal. Mulai dari menterjemah, jualan tempe, bisnis pulsa-hp, buka warung makan, sampai broker tiket dan jasa pengiriman uang. Ada juga yang merasa harus menjaga jarak dengan hidup yang penuh gerak—berarti cepat menguras isi kantong—sehingga cukup dipenuhi dengan beasiswa saban awal bulan. Macam-macam. Pokoknya, tak ada yang mau menggembel. Aku sendiri tak tahu masuk kriteria yang mana. Aku tak bisa kerja apa-apa di sini. Dan aku juga tak bisa dibilang punya kamar di Bu’us atau kuat bayar sewa rumah di luar. Penampilanku juga tak serapi kandidat presiden yang hendak berorasi dari daerah ke daerah, juga bukan seperti mahasiswa rapi yang lain. Memakai baju asal pakai, rambut gondrong dan kadang cuek. Aku tambah tak kuat bayar sewa rumah bersama kawan-kawan usai “diizini” untuk hidup di luar asrama. Jadi, tak salah donk aku menyebut diri sendiri gembel: Bu’uts sudah keluar, tak punya rumah di luar, nebeng hidup dari satu tempat ke tempat yang lain dan sering tak memiliki persediaan uang yang cukup sampai akhir bulan. Oh ini bukan mahasiswa. Tapi aku bukan tenaga kerja. Pasporku murni “student”. Niatku ke sini tulus belajar. Betul, bukan kedua-duanya, otomatis gembel. Bukan mahasiswa? Tidak. Sebentar lagi aku jadi mahasiswa. Ujian akhir sekolah Juli kemarin aku dinyatakan lulus. Rapor sudah kuambil. Besok aku mengurusi pendaftaran kuliah. Walau untuk beli madzruf sama transpor pun harus menghutang dulu. Maklum, administrasi kuliah termasuk kategori biaya hidup tak terduga. Jadi enaknya, mahasiswa atau gembel? Gembel atau mahasiswa? Sebentar, mikir dulu. Mungkin enaknya begini: calon mahasiswa yang menggembel. Lho gembel koq punya hp? Sori bung, itu bukan hp-ku, itu pinjeman teman karena ada beberapa hal yang mengharuskan aku bawa tentengan yang selalu tekor itu. Biasanya, kita selal gantian berpuasa. Nanti kalau sudah ada rizkinya. Rizki? Dari Baghdad. Hus, Tuhan Mahatahu. Siapa tahu rizkinya ditabung dan dikasihkan kelak saat kamu sudah tak muda lagi. Siapa tahu kan? Seharusnya aku tak patut risau orang akan bilang bagaimana—toh tak ada yang ambil pusing dengan hal-hal kayak gitu, aku hanya menerka—atau aku menyebut diriku siapa. Aku datang untuk mencari. Tugasku bukan menggagahkan identitas. Tak ada yang lain. Itu saja malam ini. Gembel it’s not big problem. Asal gak hipokrit saja aku! 2:19 at August 30.

Dunia Bukan Sangkar Emas

Jika wanita tak lagi diperlakukan sebagai “burung dalam sangkar emas”, akankah pria kehilangan kuasanya sebagai superior dalam kehidupan normatif keseharian mereka—khususnya kehidupan keluarga.

Jawaban yang ditawarkan belumlah menggugah untuk moment sekarang ini. Untuk lebih menohok, sebaiknya kita perlu cari tahu mengapa wanita—yang diduga makhluk lemah, inferior dalam abad aristrokat—juga ingin menghirup udara kebebasan dunia luar.

Ada dari perempuan—saya tak tahu jumlahnya dengan pasti—yang sudah menghirup hak-hak yang selama ini dituntut. Barangkali mereka tahu betapa bosannya hidup hanya diam dan makan di rumah. Wanita bukan hewan piaraan. Teman wanita saya, banyak yang kuliah usai lulus Madrasah Aliyah. Ada Umi dan Neha yang berangkat ke Mesir. Beberapa ada yang memilih ke Jogja, sebagian ke Surabaya dan Semarang. Saya menebak satu hal: di pikirannya, “rumah”—yang identik dengan kawasan domestik—adalah alternatif nomor duapuluh tujuh untuk menghabiskan usia muda yang sebentar-sebentar dihadapkan dengan pilihan hidup yang ketat.

Di Mesir, saya melihat ada ibu-ibu yang juga sama. Setahu saya, perempuan-perempuan Mesir berubah drastis usai mempunyai satu dua anak. Tak sedikit yang terlalu mementingkan performance fisik di mata khalayak, apalagi suaminya sendiri—pada umumnya umur suami berselisih jauh di atas istri. Di Mesir, ada perempuan yang bekerja di kantor pos, menjadi pegawai-pegawai di kantor bagian administrasi Al Azhar, ada yang menjadi penjual di pasar, ada yang jadi artis dan penyanyi, bahkan bintang film. Namun perempuan yang lebih mendekam di apartemen lebih mendominasi. Jangankan bekerja, belanja saja hanya tinggal menurunkan sebuah keranjang yang diikat dengan seutas tali, sambil berteriak kencang kepada toko kecil di bawah. Atau tinggal telpon dengan sistem taushil (delivery). Akibatnya kebanyakan ibu-ibu Mesir gembrot.

Sekarang manusia menapaki babakan zaman di mana perempuan terbukti bisa memiliki besar kaki yang sama dengan pria. Laki-laki harus mengakuinya.

Dan adakah yang salah dari perubahan radikal seperti itu? Bagaimana kalau kakinya lebih besar? Bukankah semakin banyak wanita yang mengalokasikan waktu ke dunia non-domestik, berarti ia menampik takdirnya sebagai perempuan? Tidakkah ia makhluk lemah? Akalnya saja “setengah”? Dan serentetan pertanyaan klise yang perlahan dilabrak zaman lalu menguap sayup-sayup bersama udara ke langit.

Tidak ada yang salah dengan perubahan zaman dan tak ada yang bisa menyalahkan perempuan. Wanita diciptakan Tuhan sebagai kawan hidup laki-laki bukan gundik, harta milik apalagi budak. Perkawinan bukan akad “penjualan” perempuan dari bapak ke suami, bukan pula sebagai legalitas laki-laki mengoyak selaput dara perempuan. Perkawinan lebih tepat diartikulasikan sebagai hubungan timbal balik yang harmonis dan romantis. Qur’an menyebutnya mitsaqan ghalidzan. Lantas bagaimana kita berbicara—sebagai manusia yang benar-benar berhimpit dengan kehidupan modern seperti di atas—perempuan-peremuan di zaman Kartini, zaman Siti Nurbaya atau zaman ketika feminisme baru berwujud kepedihan dan kekecewaan yang hanya bisa “bertepuk sebelah tangan” dengan sistem yang memagarinya.

Dulu yang didengung-dengungkan bukan isu perempuan harus bisa sekolah sejajar dengan laki-laki, atau perempuan diperbolehkan mencari calon suami dengan pilihan hatinya sendiri, atau perempuan punya hak untuk bicara tentang agama menurut suaranya sendiri, atau bahkan perempuan dapat meyakinkan publik untuk memilihnya sebagai presiden dalam pemilihan umum di negara demokrasi—kampung halaman multikulturalisme—tetapi kuping-kuping masih dijejali dengan—memakai terma Mineke Schipper, profesor Belanda—“pepatah-pepatah yang mengilustrasikan betapa negatifnya perempuan”. Dengan demikian jadi tak berarti.

Bahkan kita tak perlu terkejut. Kita makin mengerti ketika sejarah ditulis oleh para penguasa, betapa banyak fakta yang bakal ditelikung dan terkadang ada beberapa bab yang dihiperbolakan. Penguasa itu yang meyakini wanita bukanlah sosok ideal untuk berkeliaran di ruang publik—dengan demikian pantas “dilindungi” dan “dijaga” di dalam rumah. Ingat, ketika penguasa merunduk ke bawah, yang ia lihat hanya ubun-ubun—posisi yang mudah diinjak-injak—ketimbang rakyat yang waktu mengangkat mukanya ke atas, yang mereka lihat adalah kaki—untuk menjegal lawan dalam sebuah pertandingan. Sastrawan melihat aib penguasa ketika ia pintar mencari posisi itu: ketika kaki kesewenang-wenangan menginjak-injak ubun-ubun ketidakberdayaan.

Saya tak dapat membayangkan apa yang teman-teman perempuan saya akan katakan jika mendengar pepatah yang memandang dirinya hina di mata budaya. Misalnya, “Seorang perempuan memiliki bentuk seperti bidadari, hati seperti ular, dan otak seperti keledai,” atau pepatah yang malah abnormal sama sekali: “Jika kamu mencintai istrimu, pukullah dia,” Tubuh perempuan (dengan kata lain, nilai eksotik lahiriah) elok menawan bagai bidadari, hatinya berbisa seperti ular yang hanya menjadi parasit, dan jangkauan pikirannya sependek langkahnya, bukan kawan yang baik diajak diskusi atau musyawarah. Praktis tak ada yang menarik dari perempuan selain menjilati tubuh-tubuh mereka.

Semurah itukah “harga” perempuan zaman dulu—mungkin kini masih ada koloni yang memegang kencang pepatah-pepatah seperti itu—hingga akhirnya diperlakukan seperti hewan: hanya makan dan minum, melahirkan plus menyusui anak? Tentang perempuan saya punya satu cerita satir.

Pernah saya ditanya guruku: Jid, perempuan mana yang sempurna di dunia ini?

Saya tak dapat menjawab. Dan beliau meneruskan: perempuan sempurna di dunia ini ada dua. Pertama, bayi perempuan ketika belum direnggut dari dinding rahim ibunya. Dan kedua, jasad perempuan yang terbujur di liang lahat. Sebenarnya beliau menandaskan bahwa perempuan di dunia ini tak ada yang sempurna. Dari sini, pikir saya kini, laki-laki perlu berkaca. Bahwa dirinya juga tak sempurna. Keinsyafan akan kekurangsempurnaan adalah awal merubah arah paradigma tentang perempuan. Lelaki sebagaimana wanita juga bisa bersalah. Dan maaf lahir untuk menambal bolong-bolong karena mereka—selain Tuhan—tak akan bisa jadi sempurna.

Jika laki-laki tetap tak sadar, “kecelakaan” sejarah akan terulang. Hawa diciptakan sebagai pendamping, bukan bedinde. Karena Adam tahu sepinya surga di tengah hamparan nikmat-nikmat. Ia menambal kebolongannya dengan Hawa.