Akhir-akhir ini saya sedikit kerap mendengar kalimat itu. Tapi lebih kerap lagi mendengar kalimat-kalimat seperti Maidaturrahman dan Musa’adah. Barangkali, kalimat di atas tak akan kita dapati di Indonesia. Dalam konteks Ramadlan Karim di Mesir, mendekati sepertiga terakhir, kalimat-kalimat itu makin riang terdengar, makin sesak dicari, bahkan juga tak jarang direbutkan...
Kemarin saya dengar dan ikut pembicaraan dengan kawan-kawan mahasiswa kalau mereka ingin mengajukan formulir ke Ri’ayatul Wafidin di Kulliyah Thib. Katanya, setiap kepala yang mengajukan formulir ke sana akan memperoleh fulus 200 Pound. Dan esoknya, waktu saya pergi ke Dekan Kuliah Syariah wal Qonun—gara-gara petugas Ri’ayatus Syabab mem-bukroh-i saya dua kali—untuk minta tanda tangan mewakili lembaga itu, beberapa mahasiswa berdiri di luar—sebagian berwajah muram penuh harap—menunggu formulirnya ditandatangani dekan yang gendut itu. Ya, saya lihat dekan yang suaranya besar itu sibuk corat-coret. Kata temanku, formulir itulah yang bakal disetorkan ke Kuliyah Thib. Saya mengernyitkan dahi akan satu hal: benarkah Azhar bakal mengucurkan 200 Pound performulir?
Entahlah, saya harap itu semua tidak isu yang selalu menguap seperti isu-isu pada tahun-tahun sebelumnya yang—katanya lagi—beasiswa Azhar akan dinaikkan.
Ramai saya lihat orang berduyun mengejarnya, mengurus tashdiq, dan tentunya rela antri berjam-jam demi duit yang untuk ukuran mahasiswa yang mendapatkan beasiswa dari Azhar, lebih gede dari jatah perawal bulan.
Menginjak Ramadlan ke-14 ini, isu-isu pemburuan musa’adah mulai jadi “buah bibir” (bukan “buah mulut” lho!). Ya, mirip gerilya mencari bonus lebaran. Apa boleh dilihat, orang-orang Mesir dan lembaga-lembaganya tak tanggung-tanggung membanting duit untuk yang mereka pikir lebih membutuhkan.
Kayaknya pembicaraan semakin serius. Di kamar-kamar, di jalan-jalan, di dalam bis, di milis-milis, bahkan di saluran telepon rumah perrumah ketika musa’adah menjadi motif jaringan paling lancar dan cepat akhir-akhir ini. Saya kagum, informasi tempat “sarang madu” itu begitu cepat sampai ke telinga. Kita bakalan cepat tahu kalau musa’adah akan dibagikan jam sekian-sekian di masjid, di depan pintu rumah penjual toko emas, di Sabi’, di Sadis, di Asyir, di Atabah bahkan di Katamea,...
Di mata si pemberi, mereka yang berduyun-duyun datang adalah si penerima yang benar-benar membutuhkan. Modal sebagai wafidin cukup jadi pelicin untuk mempermudah mendapatkan rezeki gratis itu.
Kembali ke formulir 200 Pound di Kuliyah Thib, saya kembali dengar obrolan itu di tempat lain. Sebagian bilang baru ingin mengambil formulir hari ini, sebagian lagi bilang tidak. “Ada yang lebih membutuhkan,” katanya.
Aku tak tahu siapa yang dia tunjuk dengan ucapannya: ada yang lebih membutuhkan. Mungkin sesama kawan yang lain, sesama wafidin (pelajar asing) yang lain, mungkin orang kayak saya...
Namun secara umum, frase “ada yang lebih membutuhkan” mempunyai dua kemungkinan arti. Pertama, jangan-jangan kata itu diucapkan karena rasa kemalasan sehingga dia memilih kalimat itu berkomentar dan menutup dengan kata-kata yang manis didengar sekaligus dinyinyiri sebagian orang. Dan kedua, dia tahu kalau dia sudah merasa cukup dengan duit saban bulan (baik minhah, kiriman orang tua maupun kerja), bersyukur ia tak merasa kekurangan sehingga tak perlu menyerbunya dan mengerti betul bahwa barangkali ada orang lain yang lebih membutuhkan. Mungkin kawannya sendiri atau juga orang Mesir sendiri yang sering terlihat di jalan-jalan.
Saya sendiri juga bukan orang yang mengatakan kata-kata di atas. Mungkin saya juga nantinya masuk bagian “laskar” yang memburunya—dengan tendesi lucu “mencari berkah di bulan Ramadlan”. Hanya saja, saya disadarkan bahwa kalimat itu menyitir parodi yang menusuk elu hati agar selalu ingat kalau kekenyangan—apalagi urusan fulus yang dalam kaidah ekonomi, dikeluarkan negara dengan jumlah terbatas—berarti merampas jatah orang lain. Ya, semacam merampok kecil-kecilan dengan prinsip pura-pura kura-kura. Ups salah, maksudnya pura-pura tak tahu.
Tapi ada kabar baik lain yang lebih membuat saya bahagia dan bisa menghela nafas panjang. Berkas kuliah saya akhirnya diterima. Madzruf yang saya beli 28 Agustus kemarin, baru jebol di muraqib Rabu kemarin tanggal 26 September. Sebelumnya pendaftaran saya ditolak melulu karena belum mengurusi ijroat pindah minhah usai ditendang dari asrama pada 19 Juli lalu. Mau tak mau, demi dapat ishol, harus muter-muter kayak orang tajdid minhah di majlis a’la, baituzzakat...
Lantas kabar buruk sesudah kabar baik itu, seperti kata petugas minhah, minhah saya hilang bulan Agustus dan September. Sebabnya, katanya lagi, saya telat ngurus. Uh, jangan-jangan saya punya alasan yang kuat untuk hunting akhir-akhir ini...