Saturday, August 25, 2007

Jas Merah

“Jangan sekali-kali melupakan sejarah!” demikian isi pidato terakhir kenegaraan Bung Karno. Kita sadar bahwa sejarah jadi lebih penting diingat saat hidup tak bertaut dengan suasana genting antara menentukan pilihan hidup merdeka atau pasrah menerima penjajahan. Kita manusia abad 21 yang terus memekikkan “merdeka” dengan baju rapi dan rasa hormat yang tinggi.Tapi apa yang perlu kita ingat dari sejarah bangsa kita?

Sebuah draf bisa ditulis: Indonesia lahir dari “ide persatuan dan kesatuan”, bangsa yang sudah menjajaki 3 orde, UUD 45 diamandemen sampai 4 kali, gerakan separatis yang mengusik, kesejahteraan rakyat yang masih timpang, atau peliknya bangsa kita menentukan pijakan demokrasi dan segudang masalah yang sembunyi di ketiak sejarah...

Terkadang manusia khilaf dan alpa bahwa sejarah juga bisa menjadi kepribadian yang penuh suri tauladan. Belum lama ini, Pejabat Kejaksaan Negri Bogor, Cibadak, Makassar, Subang dan Depok membakar puluhan ribu eksemplar buku bersejarah. Alasannya buku yang mengacu pada kurikulum tahun 2004 itu tak mencantumkan kata “PKI” pada gerakan G-30-S. Para jaksa itu lupa, seperti ditulis di Opini Tempo, bahwa hukum tidak bisa melarang perbedaan pendapat dalam proses mencari kebenaran sejarah. Hak kebebasan berpendapat—yang dijamin UUD 45 dalam pasal 28—tidak dihargai. Mereka lupa bahwa mereka telah melakukan tindakan yang sama kejinya dengan sosok yang mereka bakar. Di zaman Orla, PKI memberangus buku-buku yang tak seirama dengan ideologinya.

Perbedaan (Bhineka)—sebagai akar rumpun Indonesia—memang niscaya. Tapi ketika berbenturan, apakah langsung dibakar, ditebas dan dipenggal? Untuk momen ini, lebih arif jika kita menginsyafi diri: ada warna merah darah—yang menjadi korban tanpa pernah tahu apa kesalahannya—dalam kanvas sejarah pembangunan Indonesia.

Di mata saya, Bung Karno berteriak di sebuah pagi tahun 1965 itu ingin agar Bangsa Indonesia meresapi makna Nasionalisme. Nasionalisme jadi penting ketika diinjak oleh separatisme sepihak sebagaimana HAM harus disuarakan ketika ia dilanggar. Pada akhirnya kita patut bangga sebagai pewaris bangsa atas nama rakyat yang belajar mengecap arti kemerdekaan bukan suku, ras maupun agama. “Hendaknya kita insyaf bahwa tiap masa mempunyai corak perjuangan sendiri-sendiri,” nasehat Bung Karno suatu kali.

Dan itu yang relevan sekarang. Namun jika merasa keberatan beban, saya sarankan untuk mengeja Nasionalisme lewat Film Denias atau Naga Bonar Jadi 2. Gampang dan enak bukan?

Monday, August 20, 2007

Memilih

Hidup jadi berarti tatkala berbenturan dengan sebuah pilihan. Dari pilihan, manusia berhitung dengan ongkos-untung-rugi yang bakal diperoleh. Kamus menyebutnya dengan konsekuensi. Dengan menggarisbawahi satu pilihan, kita sadar bahwa kehidupan ini bukan garis linier yang lurus seperti rel kereta api, tapi terjal, kadang bengkok dan tak selalu harus bersudut 90 derajat. Hidup jadi bermakna ketika lahir dari sebuah pergulatan. Karenanya, mungkin orang punya ingatan yang kuat tentang sejarah. Apakah kehidupan hanya memuat simbiosis pilih-memilih? Bagi saya tidak! Dunia masih kuat menampung sesuatu yang tak terperi di akal manusia. Sampai sekarang saya tak pernah tahu mengapa Tuhan menciptakan saya dari bapak-ibu asli Jawa, mengapa saya laki-laki, dan mengapa baru diwujudkan di zaman ketika pilihan bertaruh tajam dengan masa depan—karena globalisasi berotasi sangat cepat dan tak teratur. Toh, Qur'an pun meneguhkan asumsi saya: bahwa ada beberapa hal—diantaranya tiga pertanyaan di atas—di mana manusia tak lagi bisa menolak atas pilihan yang telah Tuhan tentukan. Dan pasti pilihan itu, kata orang bijak, adalah yang terbaik dari segala yang baik. Bukan Tuhan lebih tahu namun memang Tuhan tahu di saat manusia tidak tahu. Tak ada komparasi di sini, juga tak ada dialog apalagi tawar menawar. Bagaimana dengan, misalnya mengapa saya memeluk Islam? Mengapa kini di Mesir? Baru tahun ini hendak kuliah? Mengapa teman-teman saya, punya pilihan yang berbeda-beda? Jangan-jangan, manusia juga punya potensi untuk menentukan di mana dia akan kembali: surga atau neraka. Bukan ingin saya mengingkari ketotalitasan Kuasa Tuhan, atau menggugat mengapa saya diciptakan dengan titik-titik kekurangan, akan tetapi Tuhan menyediakan ruang yang "cukup" (juga bisa dikatakan "remang-remang") bagi hanya manusia (?) untuk memilih. Benarkan hewan, tumbuhan, malaikat, bahkan iblis sekalipun tak memiliki hak pilih seperti manusia—makhluk yang penuh aib ketika telanjang? Saya memeluk Islam, jadi bermakna tidak sekadar takdir—sebagaimana saya lelaki. Artinya, untuk usia sekarang ini, memungkinkan sekali, apa yang saya yakini bertambah arti ke sebuah proses untuk mencari apa yang dapat membuat hati tentram dan akal mengikatnya kuat-kuat. Islam jadi punya arti di hidup saya, andaikan saya mampu mencari "kelebihan" yang tak ada di agama lain. Apa benar masing-masing agama memiliki kelebihan? Sahkah dunia ini menampung agama-agama? Benarkah Tuhan mengizinkan keberagaman agama? Apakah tak ada yang memprotes Tuhan? Si fulan memeluk Islam, si rojul memeluk Kristen, si budi memeluk Budha, yang lain Hindu, ada yang Konghucu... Pada akhirnya agama akan menjadi pengalaman paling privat seseorang seperti ia—maaf—bersetubuh. Konon, bersetubuh diakui sebagai anugerah paling nikmat di dunia. Bersetubuh menjadi satu centi jaraknya dengan bentuk eksploitasi duniawi paling klimaks. Tapi karena beberapa hal, orang bisa menanggalkan nafsu itu, baik temporal maupun abadi. Islam mengajarkan puasa untuk memecah syahwat, Pendeta tak boleh menikah, Budha dan Hindu apalagi. Tapi jika agama hanya gelas kosong yang baru punya isi ketika bersenggolan dengan pengalaman manusiawi, gerangan apa yang membuat manusia menerima agama-agama dari Tuhan? Ah, benarkah agama datang dari Tuhan? Saya bukan hendak murtad. Saya hanya gelisah yang tak bisa bicara verbal. Bahasa saya terbatas dan penuh kekurangan. Saya sendiri bahkan tak tahu, mana yang benar dari paragraf-paragraf di atas. Bukannya saya takut salah, tapi benarkah karena takut, orang dianjurkan diam? Sampai akhirnya saya sudah memilih. Saya menjalani hidup ini. Saya berbeda dengan teman-teman. Saya manusia yang penuh bolong-bolong. Dengan terbatas, hidup jadi berarti karena memilih. Semoga saya salah...

Sunday, August 19, 2007

Negriku Bukan Arab!

Akhirnya aku tahu bahwa hidupku bukanlah untuk Azhar dan Mesir. Aku bukan bagian dari puak di dataran padang pasir ini. Semegah apapun negri utara itu menyokong penghidupanku selama 5 tahun, toh warna kulitku tetap sawo matang. Dua hari yang lalu, bapak kirim sandek: "nangRTMUdptWAQAFANtnhPRTANIAN blkgRMHMU.bupatiTUGIMANnyumbang40yuto.HSLujianmuPIYE..bpk" Aku berangkat ke Mesir tahun 2002. Tepatnya 11 Oktober. Berita hingar negriku kudengar dari kakak kelas. Sebuah bom meledak di Bali pada 12 Oktober. Aku tak ambil pikir penuh tentang apa itu Bali dan siapa yang mengebomnya. 20 tahun hidup di desa kecil di ujung pesisir Jawa Tengah, baru tiga bulan terakhir aku berususan dengan negara. Sejak aku dinyatakan lulus tes Depag. Aku memang bukan rakyat yang patuh. Kepala desa memarahiku karena baru bikin KTP ketika mengurus administrasi ke Mesir. Aku datangi kantor kecamatan, kanton kabupaten untuk meminta SKKB dan segala macam. Pesan saya, sisipkan uang 5000 ke meja petugas, bila berkas Anda ingin cepat distempel. "Untuk biaya administrasi," katanya. Dan tak lupa surat keterangan sehat dari seorang mantri puskesmas. Cukup bayar 4000 Rupiah. Aku ingat betul saat harus membuat paspor satu hari jadi. Kepala Dinas menawariku harus membayar dua kali lipat andai ingin instan. Apa boleh buat! Di Jakarta, staf Depag menunggu pasporku besok. Di Mesir, aku sudah tak lihat itu lagi. Dan juga tak bakal ingin tahu berapa duit menumpuk demi "biaya administrasi". Aku asyik menikmati kuliahku di al Azhar. Aku mengambil fakultas Ushuluddin. Tahun pertama, aku rasib. Teman-teman seangkatan nyaris menyebar. Hanya segelintir yang masih dapat kutemui di organisasi kekeluargaan dan afiliatif. Kata guru pembimbingku di Jakarta, "Di sana, kalian bakal menemukan garis hidup masing-masing," Saya tak terlalu menggugu omongannya malam itu. Tapi sebenarnya kuliah di sinilah, aku harus menemukan kontradiksi itu. Aku tak bisa lari. Persoalan yang selalu saja jadi debat kusir dalam perdebatan umum untuk musim panas sekarang ini. Aku baru tahu arti sejengkal tanah Indonesia di negri orang. Aku belajar di kampus yang apa boleh buat punya acuan sendiri tentang negara, tentang kurikulum pelajaran yang kadang-kadang berbenturan dengan. . . dengan kehidupan negriku, minimal desaku. Buku-buku yang tak menyentuh realitas milenium ketiga. Diantaranya negara Islam. Kubaca muqararku, kugarisbawahi kata itu tebal-tebal, beserta segenap perangkatnya, ayat-ayatnya, hadis-hadisnya dan suruhan kepadaku untuk menerimanya sepenuh hati. Kewajiban pertama, meyakini sebagai bentuk keimanan yang harus dipercayai dan sedapat mungkin diwujudkan oleh seorang muslim di manapun dia berada. Tak perduli di Arab Saudi, di Mesir bahkan di Indonesia. Satu kewajiban yang harus ditunaikan oleh segenap umat Islam: mendirikan Khalifah Islam dengan satu pemimpin, yang mampu mengatasi seluruh persoalan umat Islam. Gerakan yang mengecap demokrasi sebagai produk non-islam yang tak layak diadopsi. Kulihat betapa banyaknya gerakan-gerakan semacam itu sekarang, mulai dari pusat sampai daerah. Aku tak tahu, apakah Indonesia tengah terancam atau malah akan menuju sistem yang diberkahi Tuhan. Sementara Indonesia dan negara republik lainnya masih nampak kokoh, tak roboh-roboh. Kemarin saya baca media yang memberitakan bahwa di Sumatera, ada peraturan yang memisahkan bis laki-laki dengan bis perempuan. Tapi pikirku sampai sekarang, jika dari 5000 lebih mahasiswa dan mahasiswi Azhar, ada yang meyakini dan berjuang mati-matian untuk sebuah Khilafah Islam, maka sistem yang harus diubah atau bahkan ditentang terlebih dahulu bukan Indonesia atau Barat, tapi PPMI. Tak banyak yang aku tahu tentang organisasi itu. Kata tokoh masisir, PPMI memakai sistem SGS, ada legislatif, yudikatif dan eksekutif—menolak sentralisasi. Katanya lagi, sistem itu sangat demokratis. Referensinya dari Jhon Locke dan Montesquie. Terlalu konyol! Bagiku sendiri, yang dibutuhkan Indonesia bukan Negara Islam. Aku makin bangga ketika baru mengetahui kalau dalam konstitusi 2002, ketika UUD 45 diamandemen untuk keempat kalinya, diskriminasi rasial dihapus. Aku bangga saat menonton seorang China bilang di televisi: "Aku jadi lebih bangga jadi warga Republik Indonesia." Yang paling penting bukan ras atau agama, namun tindak-tanduk. Dan yang membuat saya lebih bangga lagi, adalah bangsaku makin sadar kalau Tuhan tak butuh polisi untuk menjalankan syariatnya. Negara di mataku harus tahu diri, kehidupan beragama warganya tak boleh diintervensi. "Negriku bukan arab!" itulah aforisme yang ingin kubawa pulang. Negriku bukan arab saudi yang memberlakukan syariatisasi Islam yang menabrak-nabrak. Negriku bukan negara yang kepala pimpinannya ditunjuk batang hidungnya dengan muncratan air mani. Negriku bukan negara yang melarang wanita bebas sekolah lebih tinggi. Negriku bukan negri yang menerapkan hukum potong tangan bagi pencuri. Negaraku meski korupsi sudah jadi birokrasi yang paling privat, adalah Indonesia yang menghargai rakyatnya walau paling bodoh untuk menentukan presiden. Negriku memang banyak cacat, tetapi yang dibutuhkannya bukan Negara Islam, tapi rakyat yang bertanggung jawab. Dan rakyat negriku butuh negara yang bertanggung jawab. Dan kontradiksi itu ingin kusudahi. Aku memilih Indonesia. Aku ingin mencari Islam yang lebih ramah menerima keberagaman negriku. Aku ingin tunjukkan pada Islam, kalau di Indonesia ada kebaya, bukan jubah seperti di arab. 7 hari lagi, negriku merayakan HUT ke-62. KBRI siap-siap menyambutnya dan masisir larut dalam even pertandingan sepak bola yang terkadang diricuhi kerusuhan. Aku sendiri tak mengerti tata krama yang baik menyambut angka bersejarah itu. Angka yang menjadi puncak syukur rakyat Indonesia selama tiga setengah abad. Tapi aku akan selalu mengingat Rasulullah SAW yang berpuasa ketika Senin, hari ulang tahunnya tiba. Iya, beliau menahan diri. Beliau mengingat keadaan paling lemah dari diri manusia. Tapi di sini tidak. Merdeka satu centi jaraknya dengan kuat dan perkasa. Merdeka, bagi kita, layak disambut dengan pesta, makan-makan, hiburan dan tertawa. Dan kupikir, itulah nasionalisme abad 21. *** Natijahku turun. Aku dapat jayyid. Berarti aku sudah raih gelar Lc. Berarti akan meninggalkan Mesir dan Azhar. Sekaligus menanggalkan kegelisahanku di tembok-tembok kuliah di Husain. Itulah cita-citaku, tak ingin mati di sini seperti Imam Syafi'i. Aku punya tanah air. Walau hanya sepetak tanah kecil di desa kecil. Berarti harus bergegas pulang. Aku teringat bapak dan mushala belakang rumah. Teringat laki-laki yang lebih terhormat di mataku ketimbang negara atau apapun. Terpancar wajah keriput legam yang menghabiskan duabelas jam hidupnya di laut mulai fajar menyingsing. Dan siangnya, berduyun-duyun perempuan-perempuan desaku mengayuh sepeda, bekerja jadi buruh klinting di pabrik rokok dan pulang menjelang Maghrib. Barangkali nasionalisme tak pernah terdampar di batas desa mereka. Apalagi bapak, menulis sms saja tak tahu spasi. Aku akan menemaninya di desa. Karena aku tahu, desa itu tumpah darahnya dan laut itu air kehidupannya.
*corat-coret saja.