Akhirnya aku tahu bahwa hidupku bukanlah untuk Azhar dan Mesir. Aku bukan bagian dari puak di dataran padang pasir ini. Semegah apapun negri utara itu menyokong penghidupanku selama 5 tahun, toh warna kulitku tetap sawo matang. Dua hari yang lalu, bapak kirim sandek: "nangRTMUdptWAQAFANtnhPRTANIAN blkgRMHMU.bupatiTUGIMANnyumbang40yuto.HSLujianmuPIYE..bpk"
Aku berangkat ke Mesir tahun 2002. Tepatnya 11 Oktober. Berita hingar negriku kudengar dari kakak kelas. Sebuah bom meledak di Bali pada 12 Oktober. Aku tak ambil pikir penuh tentang apa itu Bali dan siapa yang mengebomnya. 20 tahun hidup di desa kecil di ujung pesisir Jawa Tengah, baru tiga bulan terakhir aku berususan dengan negara. Sejak aku dinyatakan lulus tes Depag.
Aku memang bukan rakyat yang patuh. Kepala desa memarahiku karena baru bikin KTP ketika mengurus administrasi ke Mesir. Aku datangi kantor kecamatan, kanton kabupaten untuk meminta SKKB dan segala macam. Pesan saya, sisipkan uang 5000 ke meja petugas, bila berkas Anda ingin cepat distempel. "Untuk biaya administrasi," katanya. Dan tak lupa surat keterangan sehat dari seorang mantri puskesmas. Cukup bayar 4000 Rupiah. Aku ingat betul saat harus membuat paspor satu hari jadi. Kepala Dinas menawariku harus membayar dua kali lipat andai ingin instan. Apa boleh buat! Di Jakarta, staf Depag menunggu pasporku besok.
Di Mesir, aku sudah tak lihat itu lagi. Dan juga tak bakal ingin tahu berapa duit menumpuk demi "biaya administrasi". Aku asyik menikmati kuliahku di al Azhar. Aku mengambil fakultas Ushuluddin. Tahun pertama, aku rasib. Teman-teman seangkatan nyaris menyebar. Hanya segelintir yang masih dapat kutemui di organisasi kekeluargaan dan afiliatif. Kata guru pembimbingku di Jakarta, "Di sana, kalian bakal menemukan garis hidup masing-masing," Saya tak terlalu menggugu omongannya malam itu.
Tapi sebenarnya kuliah di sinilah, aku harus menemukan kontradiksi itu. Aku tak bisa lari. Persoalan yang selalu saja jadi debat kusir dalam perdebatan umum untuk musim panas sekarang ini. Aku baru tahu arti sejengkal tanah Indonesia di negri orang. Aku belajar di kampus yang apa boleh buat punya acuan sendiri tentang negara, tentang kurikulum pelajaran yang kadang-kadang berbenturan dengan. . . dengan kehidupan negriku, minimal desaku. Buku-buku yang tak menyentuh realitas milenium ketiga.
Diantaranya negara Islam. Kubaca muqararku, kugarisbawahi kata itu tebal-tebal, beserta segenap perangkatnya, ayat-ayatnya, hadis-hadisnya dan suruhan kepadaku untuk menerimanya sepenuh hati. Kewajiban pertama, meyakini sebagai bentuk keimanan yang harus dipercayai dan sedapat mungkin diwujudkan oleh seorang muslim di manapun dia berada. Tak perduli di Arab Saudi, di Mesir bahkan di Indonesia. Satu kewajiban yang harus ditunaikan oleh segenap umat Islam: mendirikan Khalifah Islam dengan satu pemimpin, yang mampu mengatasi seluruh persoalan umat Islam. Gerakan yang mengecap demokrasi sebagai produk non-islam yang tak layak diadopsi.
Kulihat betapa banyaknya gerakan-gerakan semacam itu sekarang, mulai dari pusat sampai daerah. Aku tak tahu, apakah Indonesia tengah terancam atau malah akan menuju sistem yang diberkahi Tuhan. Sementara Indonesia dan negara republik lainnya masih nampak kokoh, tak roboh-roboh. Kemarin saya baca media yang memberitakan bahwa di Sumatera, ada peraturan yang memisahkan bis laki-laki dengan bis perempuan.
Tapi pikirku sampai sekarang, jika dari 5000 lebih mahasiswa dan mahasiswi Azhar, ada yang meyakini dan berjuang mati-matian untuk sebuah Khilafah Islam, maka sistem yang harus diubah atau bahkan ditentang terlebih dahulu bukan Indonesia atau Barat, tapi PPMI. Tak banyak yang aku tahu tentang organisasi itu. Kata tokoh masisir, PPMI memakai sistem SGS, ada legislatif, yudikatif dan eksekutif—menolak sentralisasi. Katanya lagi, sistem itu sangat demokratis. Referensinya dari Jhon Locke dan Montesquie. Terlalu konyol!
Bagiku sendiri, yang dibutuhkan Indonesia bukan Negara Islam. Aku makin bangga ketika baru mengetahui kalau dalam konstitusi 2002, ketika UUD 45 diamandemen untuk keempat kalinya, diskriminasi rasial dihapus. Aku bangga saat menonton seorang China bilang di televisi: "Aku jadi lebih bangga jadi warga Republik Indonesia." Yang paling penting bukan ras atau agama, namun tindak-tanduk. Dan yang membuat saya lebih bangga lagi, adalah bangsaku makin sadar kalau Tuhan tak butuh polisi untuk menjalankan syariatnya. Negara di mataku harus tahu diri, kehidupan beragama warganya tak boleh diintervensi.
"Negriku bukan arab!" itulah aforisme yang ingin kubawa pulang. Negriku bukan arab saudi yang memberlakukan syariatisasi Islam yang menabrak-nabrak. Negriku bukan negara yang kepala pimpinannya ditunjuk batang hidungnya dengan muncratan air mani. Negriku bukan negara yang melarang wanita bebas sekolah lebih tinggi. Negriku bukan negri yang menerapkan hukum potong tangan bagi pencuri. Negaraku meski korupsi sudah jadi birokrasi yang paling privat, adalah Indonesia yang menghargai rakyatnya walau paling bodoh untuk menentukan presiden. Negriku memang banyak cacat, tetapi yang dibutuhkannya bukan Negara Islam, tapi rakyat yang bertanggung jawab. Dan rakyat negriku butuh negara yang bertanggung jawab.
Dan kontradiksi itu ingin kusudahi. Aku memilih Indonesia. Aku ingin mencari Islam yang lebih ramah menerima keberagaman negriku. Aku ingin tunjukkan pada Islam, kalau di Indonesia ada kebaya, bukan jubah seperti di arab.
7 hari lagi, negriku merayakan HUT ke-62. KBRI siap-siap menyambutnya dan masisir larut dalam even pertandingan sepak bola yang terkadang diricuhi kerusuhan. Aku sendiri tak mengerti tata krama yang baik menyambut angka bersejarah itu. Angka yang menjadi puncak syukur rakyat Indonesia selama tiga setengah abad. Tapi aku akan selalu mengingat Rasulullah SAW yang berpuasa ketika Senin, hari ulang tahunnya tiba. Iya, beliau menahan diri. Beliau mengingat keadaan paling lemah dari diri manusia. Tapi di sini tidak. Merdeka satu centi jaraknya dengan kuat dan perkasa. Merdeka, bagi kita, layak disambut dengan pesta, makan-makan, hiburan dan tertawa. Dan kupikir, itulah nasionalisme abad 21.
***
Natijahku turun. Aku dapat jayyid. Berarti aku sudah raih gelar Lc. Berarti akan meninggalkan Mesir dan Azhar. Sekaligus menanggalkan kegelisahanku di tembok-tembok kuliah di Husain. Itulah cita-citaku, tak ingin mati di sini seperti Imam Syafi'i. Aku punya tanah air. Walau hanya sepetak tanah kecil di desa kecil. Berarti harus bergegas pulang.
Aku teringat bapak dan mushala belakang rumah. Teringat laki-laki yang lebih terhormat di mataku ketimbang negara atau apapun. Terpancar wajah keriput legam yang menghabiskan duabelas jam hidupnya di laut mulai fajar menyingsing. Dan siangnya, berduyun-duyun perempuan-perempuan desaku mengayuh sepeda, bekerja jadi buruh klinting di pabrik rokok dan pulang menjelang Maghrib. Barangkali nasionalisme tak pernah terdampar di batas desa mereka. Apalagi bapak, menulis sms saja tak tahu spasi. Aku akan menemaninya di desa. Karena aku tahu, desa itu tumpah darahnya dan laut itu air kehidupannya.
*corat-coret saja.