Wednesday, June 6, 2007

Salutku buat Denias

Jarang orang yang sempat berpikir dalam-dalam, dengan pandangan tinggi nan jauh, saat hidup di sebuah komunitas yang menghendaki "gerak hidup" tunduk patuh tak bertanya pada "gerak alam". Semua perbuatan manusia dan cara berpikirnya mengarus pada kehendak seretan alam. Lama-lama, lambat tapi pasti, pikiran itu sudah jadi paradigma kokoh, atau saking sakralnya, bisa disebut adat istiadat: tak jadi penting benar atau salah, manusiawi atau tidak, adat itu harus dijalankan—seperti upacara potong jari atas meninggalnya pasangan hidup, seperti dalam film Denias. Sebuah pemandangan ngilu di mata orang modern yang pola pikir dan tindakannya berakar dari pergulatan sebab-akibat.
Seolah-olah adat mendarah kuat sebagai lambang keyakinan kepada Tuhan, kepada Sang Pengendali "gerak alam". Tapi, benarkah adat itu menjadi satu-satunya yang dikehendaki Tuhan? Tidak banyak orang yang mempersoalkan asal-usul adat istiadat di tempat ia hidup. Jarang saya temui—bahkan di desa saya sendiri—orang-orang berdebat, bertanya, mencari jawaban, bila perlu mendebat dan menggugat sejarah kemunculan adat istiadat. Dan pikir pendek saya mengatakan, bahkan sempat yakin, adat istiadat itu tak lebih dari sebagai proses manusiawi dimana sekelompok orang (dengan satu pemimpin) mengadakan konvensi terhadap sesuatu (biasanya kepada hal-hal yang di luar kemampuan gerak dan akal) sebagai penjelmaan atas rasa "tak mengerti"-nya akan kebiasaan-kebiasaan yang bergulir deras di hidupnya. Ia tak bisa mengerti mengapa alam bisa mendatangkan hujan deras, badai, panas, hasil panen melimpah, bencana longsor, gempa bumi, dan gerakan alam lainnya. . .
Mereka tak bisa mengerti semua itu, sampai tiba kepada kondisi dimana mereka pasrah kepada "apa" atau "Siapa" yang ia yakini memelihara dirinya dan dan mengendalikan isi jagad raya ini. Ritual pun lahir, berkembang menjadi adat, semakin lama berubah jadi mitos dan jauh dari nalar yang kritis: bila tak dikerjakan, alam bisa marah, semua penduduk dapat kena kutuk. . . sesuatu yang asalnya hanyalah sebuah kesepatan, menjadi keyakinan: pada awalnya cukup dapat ditoleh, kini diharuskan mengangkat muka.
Ini masalah nomor duapuluh tujuh dalam film garapan John De Rantau, ada fakta lain yang lebih mendesak: "pola pikir" yang jarang lahir di komunitas yang jarang tersentuh di benak kita—padahal nyata-nyata kesejarahannya begitu lekat dengan Jawa, sebagai satuan bangsa kita: Indonesia.
"Nama saya Denias, mama saya di surga menyuruh saya sekolah. . ." tulis Denias kepada ibu gurunya.
Kita tak perlu mengeryitkan dahi jika tahu kalau kalimat di atas meluncur dari mulut anak kota jakarta. Namun ini kisah nyata dari wajah lain kita, teman kita di Papua, kenyataan yang mengiris pemahaman kita: hasrat ini lahir dari seorang anak suku Muni, sebuah suku yang jauh dari lokasi sekolah fasilitas kota itu. Tak sempatkah terlintas pertanyaan saat menonton film ini: ibu mana yang dengan bodoh menyuruh anaknya sekolah, dimana kehidupan di sekelilingnya hanya menghendaki pragmatisme, bukan—seperti kata ayah Denias—"nanti, nanti dan nanti. ."
Dan kita tahu, Denias sendirilah yang membantah pertanyaan itu, mendebat—untuk memakai ucapan ibu gurunya—"ketidakadilan itu yang bukan hanya dilakukan oleh orang-orang dari luar pulau [Papua] ini saja, tapi warga di sini pun bisa berlaku tidak adil terhadap sesamanya. . ." Diam-diam, di suatu malam, ia kabur dari rumah, pergi ke kota, mencari sekolah seperti yang diceritakan Maleo, tentara yang bertugas di dekat desa Denias. Petualangan bermula dan batu menyandung langkahnya sampai ia bisa resmi memakai seragam dan bernyanyi hormat: "Indonesia raya, merdeka merdeka, tanahku negriku yang kucinta. . .".
Batu yang menyandung Denias, bisa jadi kini menyandung kaki saya, Anda, dan semua yang tengah mencari suluh saat matahari tenggelam. Dan Denias berhasil melawan sandungan terberat itu: adat. Sesuatu yang oleh kepala suku sekitar dianggap wahyu dari langit, dilecut Denias dari bawah sehingga mereka sadar bahwa adat, aslinya, hanyalah hasil dari sebuah pengalaman yang terjadi di dunia yang apa boleh buat penuh ketidakadilan. Denias mengajarkan kita satu hal: tak ada adat (dan aturan manapun) yang suci selama ia mengokohkan tradisi ketidakadilan.
Saya salut sekaligus bangga kepada segenap kerabat kerja pembuatan film ini, film yang menohok kesadaran kita bahwa kita ternyata punya bagian yang tak sempat kita amati dengan jelas, film yang menghantam emosi kita saat diri kita (sebagai orang luar) mungkin merampas, dengan tidak sengaja, hak mereka sampai sekecil-kecilnya. Sekaligus mata saya teduh saat menonton alam raya Indonesia yang begitu indah, hijau dengan gunung dan suasana nabati yang alami. Film ini bisa berfungsi sebagai obat ketika kita perih melihat Jakarta dan kota Indonesia lainnya yang macet, padat, bising dan diselibungi asap.
Menusuk juga jawaban Denias saat Felli bertanya tentang Kuskus: di Jawa tidak ada Kuskus, yang paling banyak itu tikus—entah tikus beneran, tikus jadi-jadian, atau barangkali kedua-duanya.
Beberapa hari yang lalu, seorang teman mengirim email kepada saya. Dia bercerita tentang masalah hidup dan masa depan intelektualnya. Kurang lebih, salah satu masalah yang dihadapinya sama dengan cerita Denias. Oleh takdir Tuhan, dia lahir di sebuah desa yang notabene masyarakatnya memandang bahwa lulusan SMA atau Aliyah tak bisa berbuat banyak untuk memperbaiki kehidupannya di masa depan. Begitu juga kuliah, buat apa kuliah tinggi-tinggi, menelan banyak duit, kalau toh hasilnya tak berguna dan mahasiswa sering nganggur. Kebanyakan anak sebayanya kalau lulus pendidikan formal, disuruh kerja jadi tenaga kerja luar negri. Umur dia termasuk dari mereka, namun seperti Denias, ia ingin menghajar pemikiran itu. Katanya padaku: aku ingin buktikan bahwa ilmu itu penting dan ingin merubah kebiasaan mereka.
Oh, iya, dia kini merampugnya S1-nya di salah satu universitas Semarang. Berkat bantuan sekolah, ia bisa kuliah di sana. Pikiran saya melayang, membayangkan film Denias lagi: Saat ayah Denias menyuruhnya membantu merakit pagar. Ia tak izinkan Denias sekolah lagi sebelum tugas selesai.
Kepada para pembaca, saya mohon iringan doanya agar teman saya di sana tetap teguh memegang tekad, dengan terus memecahkan batu sandungan kian sandungan. Semoga ia bisa mewujudkan impiannya seperti Denias, bahkan lebih tinggi lagi.
Kawan, doaku mengiringi langkahmu, penamu, senyummu dan air matamu.