Thursday, May 10, 2007

Satu Sisi di Lantai Tiga

Sehari menjelang imtihan keempat, saya tak secara tekun menghafal muatan isi yang menumpuk tebal dalam 2 muqarar yang diujikan hari ini. Kupapatkan keduanya untuk kuselesaikan sehari. Saat itu saya yakin, bahwa apa yang kuhafal tak sepenuhnya keluar. Nahwu-Sharaf: lebih berharga memahami aplikasi daripada menghafal teori. Dan ternyata benar! Rabu, 9 Mei, separuh mangsa imtihan anak Ma’had selesai. Genap seminggu sejak hari pertama, 2 Mei: ujian sehari dua Maddah, tiga kali seminggu. Berarti enam Maddah dalam sepekan. Sejak pekan lalu, gedung berbentuk tiga deret balok depan Jawazat itu, mulai ramai diserbu pelajar. Iya diserbu, imtihan—di Mesir—tak seramai hari biasa sekolah dan kuliah. Pagi berdebu-debu lusuh itu, aku punya maddah Nahwu dan Sharaf. Muqararnya tak lebih dari praktik turunan dari kitab Alfiyah-nya Ibn Malik. Nahwu yang bersampul hijau terang itu, setebal 450 halaman, sudah kudengar lama sejak kelas 6 MI. Sederet teori, sekeranjang fashl-fashl, sepiring pengecualian, dan segunung syarat-syarat terbujur di sana: kita tentu hafal, bagaimana sebuah kalimah (indo: kata) harus dibaca rafa’, nashab, atau pula jer; bila terdapat syarat begini, harus dibuang. . . dan Sharaf, tak lari jauh dari itu. Dari dulu, tak ada yang berubah sampai kini. Nahwu-Sharaf: sederet teori-teori yang rumit dan sekeranjang bab-bab yang berat. Pernah terlintas pikiran semacam itu di benak saya. Secara langsung, saya baru membuka kitab berbait 1002 ini, ketika menginjak kelas satu Tsanawy. Dan guru Alfiyah pertama kami mengajari laku santun menghargai karya masyhur itu. Beliau menjelaskan 7 bait mukadimah: di sana, Imam Malik meniru “padi” di hadapan sang guru, Ibn Mu’thi walau banyak masyarakat menempatkan master piece muridnya di pucuk gunung. Kita awali dengan bismillah, sejarah, dan sebuah doa (Al-fatihah) dan kemudian “ceremoni” khatamannya ditutup doa oleh kyai kalian ketika kelas tiga nanti. Kata beliau, kurang-lebih. Qâla muhammadun huwa-bnu mâliki/ Ahmadu rabbi-llâha khaira mâliki Praktis 3 tahun, menjelang UAN Tsanawy, kitab itu pun khatam dan sang guru, alumni tulen Pondok Sarang Rembang, membacakan doa itu. Aturan pondok mewajibkan setiap santri menghafalnya selama 3 tahun Tsanawiyah itu. Bila tidak, tinggal kelas. Fa ahmadu-llâha mushalliya-n ‘ala/ Muhammadin khoiri-n nabiyyin ursila Ditempa dalam waktu sebentar itu, beliau-beliau mengajari satu hikmah yang berwibawa: sang mushannif mengawali dan mengakhiri karyanya dengan lafal “Ahmadu”, puji-syukur. Di pangkal dan ujung itu, andai ditilik, beliau lebih “ngeh” memakai fiil mudlari (present-future) ketimbang fiil madli (past). Shighat tersebut, dalam ilmu linguistik Arab bermakna pekerjaan yang tengah dilakukan, belum selesai. Dan dalam Balaghahnya, bisa berarti “terus-menerus". Puji-syukur itu terus hidup dan mengalir ketika sebuah karya agung tak hanya dihargai sebatas diktat kurikulum anak sekolah; saat sebuah Kitab tak dibedakan mana muqarar-mana yang tidak. Tapi hal itu tak berarti kini. Ini musim ujian, bukan musim bertanam. Sekarang tempo dimana kita hanya dibebani selembar kertas buram berisi empat soal uraian, bukan musim menabung saham ilmu untuk investasi perusahaan amal masa depan. Dan gedung—teman-teman sering menyebutnya mirip tiga batang korek api—lusuh itu menjadi saksi bertahun-tahun. Ia menyambut kecut kami sejak imtihan syafawi akhir April lalu. Saya duduk di satu ruang lantai tiga yang memiliki duapuluh meja, papan tulis tergantung kotor bekas pelajaran yang belum dihapus, dinding yang lusuh berdebu dan kursi duduk yang mesti kami bersihkan dengan tisu sebelum mendudukinya. Dan Rabu ini, kami, duapuluh siswa “syar'i”, menjadi isim-isim yang berjuang mati-matian dengan durasi dua jam untuk mendefinisikan diri: apakah marfu', manshub atau majrur? Kita memang seperti isim pagi itu. Kita sebuah subjek. Dan kita bergulat dengan kerja, seperti isnadnya fiil kepada isim. Kita bisa diam, atau menjadi sandaran, bahkan mengangkat orang lain. Kita bisa menjadi sosok yang ada tapi buram, tatkala melepaskan diri proses “isnad” yang berfaedah, sehingga orang pun kebingunan menilai arti diri kita. Masih hidup atau sudah mati? Layak ditip-ex, dibuang, atau dibopoh. . . Kita hidup, kita punya laku. Kita tengah di depan sebuah kanvas kosong dan mata kita menganga lebar ke langit, mencari-cari cita-cita yang pernah tergambar. Kita abadikan di sebuah “lukisan” yang lebih bisa digenggam daripada diceritakan. Namun tak semua orang suka perjalanan jauh, lama nan berat. Beberapa siswa mencontek, tukar kertas soal, bikin “mausuah” di kertas kecil, bahkan merayu pengawas. Sepenggal ucapan Taufik Ismail mengingatkan saya bahwa “perjuangan selalu melahirkan sejumlah pengkhianat dan para penjilat.” Lantas, kenapa disebut pelajar “syar'i”? Agama tak melarang? What's wrong? Entahlah, di samping limpahan turats menjadi pajangan indah dan menakutkan di rak buku, kita makin kesulitan merumuskan apa itu syar’i. Toh, ayat suci dan bunyi hadis pun bisa dikutip untuk membunuh orang lain yang belum tentu bersalah. Di Indonesia, orang berduyun-duyun “berjihad” seraya mengingat sabda nabi “Aku diutus oleh Allah menjelang hari kiamat dengan membawa pedang”. Dan di sini, siswa [mungkin] bisa asyik mencontek dalam ruangan yang terpasang figura “man ghassanâ falaisa minna”, orang berak dengan abai tinjanya sendiri seraya tahu bahwa “kebersihan manifestasi dari iman”. Di mana gerangan daya super Kitab Suci? Bukankah mereka tahu? Dan budi, kata Socrates, adalah tahu. Pada dasarnya orang berbuat baik, menurutnya, karena dia tahu kebaikan yang dilakukannya. Tapi di sini, atmosfer kebudayaan berpandangan lain tatkala agama ditampilkan dalam sederet soal ujian. Kita tahu untuk menjawab, bukan tahu untuk berbudi. Imtihan selalu ramai di siang hari, tapi ia mampu menghadirkan ruang yang tak ada di hari reguler: kehidupan tak selamanya mati di malam hari. Saat itulah, khusu’nya doa bertaut dengan ikhlasnya hati dan tulusnya budi. Entah summer holiday nanti? Kamis, 10 April ketika Shubuh membuka doa.