Abasea, Catatan Pinggir dan Ma'radl
Hari ini... hari sibuk dan melelahkan. Kamis, 29 Maret.
Sebelumnya, aku mendengar kabar bahwa mantan presiden Iran, bapak Khatami melawat ke Azhar hari ini. Masjid Azhar, di Husain penuh. Dijadwalkan di masjid kebanggaan universitas tertua ini, beliau akan berceramah. Dan para wafidin (pelajar asing) di Madinatil Bu'uts (asrama putra) diharuskan mendaftar dulu untuk bisa melihat secara langsung wajah presiden keempat Iran sejak 2 Agustus 1997-2 Agustus 2005. Aku ingin mendaftar tapi sayang, pendaftaran sudah ditutup. kesempatan hilang.
Biasanya, bila ada kunjungan-kunjungan seperti ini, atau halaqah (pertemuan) dengan para tokoh Islam, pihak asrama memberikan pelayanan transportasi gratis. Tapi karena yang berebut hal semacam ini tentunya tidak sedikit, semuanya harus memakai registrasi—persediaan terbatas. Cuma sialnya, hari-hari sebelumnya aku belum daftar. Dan batinku, tak apa-apa, aku bisa berangkat sendiri. Tidak jauh.
Dan malam harinya (Rabu 28/3), sekitar pukul setengah duabelas, aku sama teman TBS, namanya Aef, baru pulang dari H-10 (District Sepuluh). Kami pun harus dua kali naik bis, karena angkutan jurusan Bu'uts (asrama) tak kunjung tiba. Kami naik tramco ke H-7 (District Tujuh), lalu naik bis nomor 700. Bis itu lewat Abasea, hingga tak sengaja aku menatap buku-buku loakan yang lumayan bagus. Terbayang, besok pagi aku ke sini, mengajak teman yang selalu rewel bila melihat aku punya buku baru.
Pagi, jam delapan tiga puluh menit, aku bangun. Cuci muka, gosok gigi, mengenakan sweater tebal berwarna hijau gelap. Teman yang kubilang rewel itu namanya Nor, panggilannya Mad Nor—imarahnya no.18 dan saya no.28. Sengaja dia kuajak, biar dia tahu, gimana caranya mencari buku dan mengapa aku tak membelikan buku untuknya ketika aku bawa buku baru.
Mumpung baru beli pulsa, aku ingin sms rumah, di Pati, Trangkil, Kertomulyo. Di dalam bis bernomor 996 jurusan Abasea, aku memijit-mijit Hp. Aku tanya adekku—karena dia yang pegang Hp—tentang buku yang kukirim kemarin. Tapi balasannya bikin aku bingung—sekaligus senang. Dia membalas, pesananku sudah didapatkannya. Katanya, dia suka dengan buku tersebut. Iya, dulu aku pesan sama dia untuk mencarikan buku serial “Catatan Pinggir”-nya Goenawan Muhammad. Dia dapatkan serial keduanya. Tak apalah, aku membalas, aku seneng banget. Kukasih tahu: tanggal 5 April anak Guyangan, Ismail, dari Tayu akan berangkat ke Mesir. Titipkan saja dia!
Aku sudah sampai tempat yang kutuju. Di terminal akhir, di toko kecil dengan tatanan buku yang lebih bagus obralan buku di Kwitang, aku dan Nor bergegas berjalan. Kuamati pelan-pelan dengan teliti, buku-buku yang semalam aku lihat sekilas dari dalam bis. Kupegang satu-dua yang kelihatannya menarik dan bagus. Yang kucari adalah buku-buku yang bertutur tentang Islam, atau wanita, atau budaya atau tokoh. Dan alhamdulillah hasilnya lumayan.
25 Pound, pilih sana, pilih sini, bongkar atas, telisik bawah sampai akhirnya aku memperoleh 11 buku. Iya, memang murah. Karena dicetak oleh Maktabah Usrah yang disubsidi oleh pemerintah.
Bayangkan dengan duit yang tak lebih dari 50.000 Rupiah itu, aku bisa memborong Risâlah fit-Tasâmuh-nya John lucke, Al Hiwâr ats-Tsaqâfy-nya Dr. Abdullah At-Tathawy, Al Adl wat- Tasâmuh fi Dlaui-l Islâm-nya Sayid Ahmad Al-Mukhzanjy, Islâm Phobia-nya Dr. Said Al-Lawndy, Dirâsât fits-Tsâqafah al-Wathaniyyah-nya Dr. Anwar Abdul Malik. 5 buku di atas merupakan serial buku pemikiran yang dicetak pada tahun kemarin (2006).
Sedang 4 lagi, adalah buku-buku serial tentang disiplin ilmu sosial. Judul-judulnya: Al Âkhar. . Al Hiwâr. . Al Muwâthanah-nya Samir Marqis, As Shirâ’ ad Dauly-nya Dr. Jihad Audah, Kaifa Tughayyiru-l Mar`ah as-Siyâsiyah, Wa Limâdza Yuqâwimu-r Rajul?-nya Philip Bathay dan Francois Gasprad, dan Miyâhun-Nîl fis-Siyâsah al-Mishriyyah-nya Aiman Sayid Abdul Wahab.
Selain itu, kugenapi dengan dua buku tentang wanita: Al Mar`ah fi Adab Naguib Mahfudz-nya Dr. Fauziah Al Isymawy dan Al Mar`ah wal I’lâm fi ‘Alam Mutaghayyir-nya Dr. Nahid Ramzy. Dan Mad Nur pun tak kalah banyak borongannya.
Sambil menunggu bis, kami berdua cari minum: Asyir Ashab (jus tebu) . . . kami naik bis dengan nomor yang sama.
Turun di Bu'uts, aku tak hendak masuk dulu. Kutitipkan buku kepadanya, dan aku ingin masuk sekolah dulu. Aku masuk untuk nulis daftar hadir. Nomorku tujuh puluh di kelas Dua no.3 Tsanawy. Dan sewaktu turun, kulihat para guru sedang menghiasi ruangan masuk. Ternyata. . . Musâbaqah Ma’radl Kubra yang diangkat Buletin Suara Pelajar—lahir pada Desember 2005—pada edisi IV, Maret 2006 diselenggarakan hari ini. Perlombaan yang disiapkan setahun yang lalu baru terlaksana pada akhir Maret 2007.
Kulihat-lihat mana tiga karton besar yang kami, para pelajar Ma'had, persembahkan dalam event langka ini. Katanya, perlombaan ini berhadiahkan piala, medali dan piagam penghargaan. Kutemukan, 3 karton itu ditempel di dinding maktabah (tempat membeli kitab pelajaran). Mataku melanglang, mencari teman se-Indonesia—untuk sekadar berdiri di sampingnya menjelaskan apa itu Indonesia.
Sampai akhirnya, muncul ide dari benakku: aku lari balik ke Bu’uts menuju kamar Nor, meminjam baju Batik, pinjam kamera dan segera stand by di pameran itu.
Dengan nafas yang masih ngos-ngosan aku sudah terlihat seperti orang yang menghadiri acara resepsi pernikahan. Baju batik dan celana hitam polos. Sementara para pengunjung melihat-lihat budaya negara-negara Afrika, aku tetap berdiri di samping para presiden negara yang terpajang gagah—Bung Karno dengan pidatonya, Soeharto, B.J. Habibie, Gus Dur, Megawati dengan busana merahnya, dan SBY. Sesekali aku bertanya pada mereka, “Apakah ada yang mau melihat kebudayaan bangsaku?” Satu dari mereka menjawab, “Iya nanti dulu, gantian. Yang di depan duluan..”
Sampai akhirnya, mereka. . . berjalan melihat-lihat ke arahku. Mereka mulai menatap apa yang tertempel di tiga karton itu. Peta Indonesia, Masjid istiqlal, Candi Borobudur, tari Saman dari Aceh, rumah adat Sulawesi, pakaian adat Sumatera Barat, gudeg dari Jogja. Di sampingnya, kutunjukkan para penyebar Islam di Indonesia, walisongo, organisasi besar seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU) dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Di bawahnya, ada hewan langka: Cendrawasih, Badak bercula satu dll. Mereka banyak bertanya tentang seberapa besar wilayah Indonesia. Kutunjukkan letak ibukota, Jakarta dan kukatakan aku berasal dari Semarang, Jawa Tengah. Mereka sempat menyinggung presiden negriku. Aku perkenalkan, keenam orang ini adalah presiden Indonesia mulai dari awal merdeka (1945) sampai sekarang. Tanganku menunjuk ke Ibu Mega saat ada seorang pengunjung wanita menghampiriku. Kukatakan mereka semua beragama Islam sampai Ibu Mega pun Islam. Soalnya, kebanyakan para pelajar yang lain bertanya: presiden kamu muslim? Perempuan ini pun—sambil menunjuk—juga?
Sampai-sampai kupersilakan mereka menyentuh, menilai-nilai baju Batik yang kukenakan. Ini asli. Khusus dari Indonesia. Asli dari Jawa. Aku bilang seperti itu. Dari mereka, ada yang merekam pameran-pameran negriku dan mengisyarahiku untuk tetap berdiri di samping.
Tak tahu kenapa sampai terpikir untuk menemani peta Indonesia yang tak dikawal satu pelajar pun padahal di waktu yang sama, aku ingin pergi ke Azhar melihat bapak presiden dari Iran? Mengapa aku harus lari-lari meminjam Batik?
Nasionalisme? Aku tak tahu. Kuambil Hp. Waktu menunjuk pukul satu siang. Aku capek banget, namun. . . hari ini rasanya ada kepuasaan dan kebanggaan bercampur aduk di otot-otot lutut kakiku yang lelah dan tenggorokan yang kehausan berdialog dengan mereka: ini bangsaku, ini pulauku, ini Indonesiaku, ini presiden-presidenku dan (baju batik) ini khas indonesiaku.

