Thursday, March 29, 2007

Abasea, Catatan Pinggir dan Ma'radl

Hari ini... hari sibuk dan melelahkan. Kamis, 29 Maret. Sebelumnya, aku mendengar kabar bahwa mantan presiden Iran, bapak Khatami melawat ke Azhar hari ini. Masjid Azhar, di Husain penuh. Dijadwalkan di masjid kebanggaan universitas tertua ini, beliau akan berceramah. Dan para wafidin (pelajar asing) di Madinatil Bu'uts (asrama putra) diharuskan mendaftar dulu untuk bisa melihat secara langsung wajah presiden keempat Iran sejak 2 Agustus 1997-2 Agustus 2005. Aku ingin mendaftar tapi sayang, pendaftaran sudah ditutup. kesempatan hilang. Biasanya, bila ada kunjungan-kunjungan seperti ini, atau halaqah (pertemuan) dengan para tokoh Islam, pihak asrama memberikan pelayanan transportasi gratis. Tapi karena yang berebut hal semacam ini tentunya tidak sedikit, semuanya harus memakai registrasi—persediaan terbatas. Cuma sialnya, hari-hari sebelumnya aku belum daftar. Dan batinku, tak apa-apa, aku bisa berangkat sendiri. Tidak jauh. Dan malam harinya (Rabu 28/3), sekitar pukul setengah duabelas, aku sama teman TBS, namanya Aef, baru pulang dari H-10 (District Sepuluh). Kami pun harus dua kali naik bis, karena angkutan jurusan Bu'uts (asrama) tak kunjung tiba. Kami naik tramco ke H-7 (District Tujuh), lalu naik bis nomor 700. Bis itu lewat Abasea, hingga tak sengaja aku menatap buku-buku loakan yang lumayan bagus. Terbayang, besok pagi aku ke sini, mengajak teman yang selalu rewel bila melihat aku punya buku baru. Pagi, jam delapan tiga puluh menit, aku bangun. Cuci muka, gosok gigi, mengenakan sweater tebal berwarna hijau gelap. Teman yang kubilang rewel itu namanya Nor, panggilannya Mad Nor—imarahnya no.18 dan saya no.28. Sengaja dia kuajak, biar dia tahu, gimana caranya mencari buku dan mengapa aku tak membelikan buku untuknya ketika aku bawa buku baru. Mumpung baru beli pulsa, aku ingin sms rumah, di Pati, Trangkil, Kertomulyo. Di dalam bis bernomor 996 jurusan Abasea, aku memijit-mijit Hp. Aku tanya adekku—karena dia yang pegang Hp—tentang buku yang kukirim kemarin. Tapi balasannya bikin aku bingung—sekaligus senang. Dia membalas, pesananku sudah didapatkannya. Katanya, dia suka dengan buku tersebut. Iya, dulu aku pesan sama dia untuk mencarikan buku serial “Catatan Pinggir”-nya Goenawan Muhammad. Dia dapatkan serial keduanya. Tak apalah, aku membalas, aku seneng banget. Kukasih tahu: tanggal 5 April anak Guyangan, Ismail, dari Tayu akan berangkat ke Mesir. Titipkan saja dia! Aku sudah sampai tempat yang kutuju. Di terminal akhir, di toko kecil dengan tatanan buku yang lebih bagus obralan buku di Kwitang, aku dan Nor bergegas berjalan. Kuamati pelan-pelan dengan teliti, buku-buku yang semalam aku lihat sekilas dari dalam bis. Kupegang satu-dua yang kelihatannya menarik dan bagus. Yang kucari adalah buku-buku yang bertutur tentang Islam, atau wanita, atau budaya atau tokoh. Dan alhamdulillah hasilnya lumayan. 25 Pound, pilih sana, pilih sini, bongkar atas, telisik bawah sampai akhirnya aku memperoleh 11 buku. Iya, memang murah. Karena dicetak oleh Maktabah Usrah yang disubsidi oleh pemerintah. Bayangkan dengan duit yang tak lebih dari 50.000 Rupiah itu, aku bisa memborong Risâlah fit-Tasâmuh-nya John lucke, Al Hiwâr ats-Tsaqâfy-nya Dr. Abdullah At-Tathawy, Al Adl wat- Tasâmuh fi Dlaui-l Islâm-nya Sayid Ahmad Al-Mukhzanjy, Islâm Phobia-nya Dr. Said Al-Lawndy, Dirâsât fits-Tsâqafah al-Wathaniyyah-nya Dr. Anwar Abdul Malik. 5 buku di atas merupakan serial buku pemikiran yang dicetak pada tahun kemarin (2006). Sedang 4 lagi, adalah buku-buku serial tentang disiplin ilmu sosial. Judul-judulnya: Al Âkhar. . Al Hiwâr. . Al Muwâthanah-nya Samir Marqis, As Shirâ’ ad Dauly-nya Dr. Jihad Audah, Kaifa Tughayyiru-l Mar`ah as-Siyâsiyah, Wa Limâdza Yuqâwimu-r Rajul?-nya Philip Bathay dan Francois Gasprad, dan Miyâhun-Nîl fis-Siyâsah al-Mishriyyah-nya Aiman Sayid Abdul Wahab. Selain itu, kugenapi dengan dua buku tentang wanita: Al Mar`ah fi Adab Naguib Mahfudz-nya Dr. Fauziah Al Isymawy dan Al Mar`ah wal I’lâm fi ‘Alam Mutaghayyir-nya Dr. Nahid Ramzy. Dan Mad Nur pun tak kalah banyak borongannya. Sambil menunggu bis, kami berdua cari minum: Asyir Ashab (jus tebu) . . . kami naik bis dengan nomor yang sama. Turun di Bu'uts, aku tak hendak masuk dulu. Kutitipkan buku kepadanya, dan aku ingin masuk sekolah dulu. Aku masuk untuk nulis daftar hadir. Nomorku tujuh puluh di kelas Dua no.3 Tsanawy. Dan sewaktu turun, kulihat para guru sedang menghiasi ruangan masuk. Ternyata. . . Musâbaqah Ma’radl Kubra yang diangkat Buletin Suara Pelajar—lahir pada Desember 2005—pada edisi IV, Maret 2006 diselenggarakan hari ini. Perlombaan yang disiapkan setahun yang lalu baru terlaksana pada akhir Maret 2007. Kulihat-lihat mana tiga karton besar yang kami, para pelajar Ma'had, persembahkan dalam event langka ini. Katanya, perlombaan ini berhadiahkan piala, medali dan piagam penghargaan. Kutemukan, 3 karton itu ditempel di dinding maktabah (tempat membeli kitab pelajaran). Mataku melanglang, mencari teman se-Indonesia—untuk sekadar berdiri di sampingnya menjelaskan apa itu Indonesia. Sampai akhirnya, muncul ide dari benakku: aku lari balik ke Bu’uts menuju kamar Nor, meminjam baju Batik, pinjam kamera dan segera stand by di pameran itu. Dengan nafas yang masih ngos-ngosan aku sudah terlihat seperti orang yang menghadiri acara resepsi pernikahan. Baju batik dan celana hitam polos. Sementara para pengunjung melihat-lihat budaya negara-negara Afrika, aku tetap berdiri di samping para presiden negara yang terpajang gagah—Bung Karno dengan pidatonya, Soeharto, B.J. Habibie, Gus Dur, Megawati dengan busana merahnya, dan SBY. Sesekali aku bertanya pada mereka, “Apakah ada yang mau melihat kebudayaan bangsaku?” Satu dari mereka menjawab, “Iya nanti dulu, gantian. Yang di depan duluan..” Sampai akhirnya, mereka. . . berjalan melihat-lihat ke arahku. Mereka mulai menatap apa yang tertempel di tiga karton itu. Peta Indonesia, Masjid istiqlal, Candi Borobudur, tari Saman dari Aceh, rumah adat Sulawesi, pakaian adat Sumatera Barat, gudeg dari Jogja. Di sampingnya, kutunjukkan para penyebar Islam di Indonesia, walisongo, organisasi besar seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU) dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Di bawahnya, ada hewan langka: Cendrawasih, Badak bercula satu dll. Mereka banyak bertanya tentang seberapa besar wilayah Indonesia. Kutunjukkan letak ibukota, Jakarta dan kukatakan aku berasal dari Semarang, Jawa Tengah. Mereka sempat menyinggung presiden negriku. Aku perkenalkan, keenam orang ini adalah presiden Indonesia mulai dari awal merdeka (1945) sampai sekarang. Tanganku menunjuk ke Ibu Mega saat ada seorang pengunjung wanita menghampiriku. Kukatakan mereka semua beragama Islam sampai Ibu Mega pun Islam. Soalnya, kebanyakan para pelajar yang lain bertanya: presiden kamu muslim? Perempuan ini pun—sambil menunjuk—juga? Sampai-sampai kupersilakan mereka menyentuh, menilai-nilai baju Batik yang kukenakan. Ini asli. Khusus dari Indonesia. Asli dari Jawa. Aku bilang seperti itu. Dari mereka, ada yang merekam pameran-pameran negriku dan mengisyarahiku untuk tetap berdiri di samping. Tak tahu kenapa sampai terpikir untuk menemani peta Indonesia yang tak dikawal satu pelajar pun padahal di waktu yang sama, aku ingin pergi ke Azhar melihat bapak presiden dari Iran? Mengapa aku harus lari-lari meminjam Batik? Nasionalisme? Aku tak tahu. Kuambil Hp. Waktu menunjuk pukul satu siang. Aku capek banget, namun. . . hari ini rasanya ada kepuasaan dan kebanggaan bercampur aduk di otot-otot lutut kakiku yang lelah dan tenggorokan yang kehausan berdialog dengan mereka: ini bangsaku, ini pulauku, ini Indonesiaku, ini presiden-presidenku dan (baju batik) ini khas indonesiaku.

Saturday, March 10, 2007

Menengadahkan Tangan

Pukul setengah tiga sore, di terminal Sayyidah Aisyah. Hari itu, cuaca siangnya lumayan memanaskan kulit. Saya beserta seorang teman, mencari duduk di barisan tramco yang berbaris di keramaian pasar. Di tempat orang-orang hanya ingin pergi dan datang itu, ada pemandangan yang tak sedap—yang lepas ikatan dari interaksi transportasi si sopir dan si penumpang. Penumpang yang menunggu di tramco kepanasan, pak sopir yang berteriak-teriak—padahal jarak masing-masing begitu dekat—menyorongkan tangannya ke arah beberapa kursi yang masih kosong. Keduanya "diusik" oleh kehadiran nenek tua, berbaju biru kombor compang-camping, rambutnya kocar-kacir dengan tutup kepala yang asal pakai. Si nenek mengetuk-ngetuk kaca jendela angkutan berderet lima kursi itu. Dalam diam, ia menengadahkan tangan. Kulihat beberapa penumpang bersenda gurau bebas laiknya duduk santai di cafe; satu-dua hanya bisa diam melirik—dan wanita berusia kira-kira 60-an tahun itu terus saja menengadah. Sampai penumpang yang duduk dekat denganku mengeluarkan selembar 50 Pister dari sakunya. Dari dekat kurasakan, ada jalinan kasih sayang antara "tangan di atas" dan "tangan di bawah". Bagi pemberi, pecahan itu hanya sebanding dengan ongkos bis Darasah—Asyir, sedangkan bagi penerima, nenek tua itu, nominal itu sama bernilainya dengan harga nyawa satu hari. Konon kata Nabi: Tangan di atas lebih baik (khoir) daripada tangan di bawah. Pada dasarnya, keduanya sama-sama baik, dan nabi tak menghina rendah si peminta, pun tak menjunjung tinggi si pemberi. Cuplikan kenyataan yang begitu akrab dengan keseharian kita seperti di atas, acapkali melahirkan pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah tersentuh di kalbu kita. Tak pernah tersentuh, karena benak ini sibuk berpikir yang lain, mata ini lebih suka mengamati penampilan yang sedap, dan hati ini mulai lengah untuk berpikir sejenak, bertanya-tanya mengapa nenek itu hanya bisa diam? Pernahkah kita menengadah seperti dia? Mengapa sabda langit dan undang-undang tak mampu menampilkan keindahan-keindahan yang sedap dipandang? Menengadahkan tangan, meminta-minta, mengemis sudah cukup menjadi isyarat. Diamnya nenek itu adalah simbol yang mengingatkan kita betapa dekatnya hubungan kekerabatan kita dengan mereka—pemberi dan penerima. Kalau tidak oleh nasionalisme, agama, suku atau adat, setidaknya oleh rasa kemanusiaan, rasa kehadiran di bumi Tuhan sebagai manusia yang sama-sama bisa merasakan lapar, sakit, dan kepanasan. Dengan diam, tak perlu suara, tak ada jarak, begitu intim dan begitu pengertian. Idiom "tangan di bawah" menjentikkan kesadaran yang hadir bukan karena paksaan, untuk bersedia menjadi "tangan di atas". Sebagai uluran tangan—bukan sambutan penyanyi dangdut panggung untuk bergoyang—yang ikhlas tanpa diikuti rasa superior dan rasa tak pernah bosan. Tak bosan memberi, karena kita memang ciptaan yang serba butuh, yang tak hidup di surga—bahkan di sana, kita pun diberi bukan oleh pahala yang setimpal tetapi dari kasih sayang yang tak bertepi. Kita masih hidup dengan karakter "menengadahkan tangan." Hanya bedanya kita dengan nenek itu, kita lebih cerdas membawakannya dengan bahasa yang eufemistik, konotasi yang lembut, kemasan yang marketable, dalam ruang kantor yang mewah dan dimukaddimahi kata-kata, atau surat pengantar yang logis. Kita datang atas nama "thalibul ilm", dipayungi kesejahteraan kita oleh lembaga-lembaga donatur besar yang tak minta imbalan. Kita bukan penonton saja, tapi juga pelaku. Bukan pekerjaan yang mudah untuk sekadar menengadahkan tangan, mengharap iba dari setiap orang yang kita datangi meski hal itu bukanlah sesuatu yang gawal dan hina-dina. Mengapa dikata tak mudah? Saya tak bisa memberi satu patokan pertimbangan yang memuaskan kecuali ada sebab-sebab tertentu dimana kita suatu saat pernah menengadahkan tangan kepada orang lain. Dan tentang wacana penampilan keindahan yang sedap, adanya hanya di dunia rekaan yang mudah digurui dan dikelabui. Televisi dimuati dengan acara-acara yang mengkamuflasekan kenyataan. Orang menilai Indonesia sebagai masyarakat yang borjuis, tatanan kota yang bersih, mall-mall yang besar, perusahaan-perusahaan raksasa dari suguhan "rekayasa" yang diskenario dari dominasi judul film dan sinetron yang setiap detik dihadapkan ke masyarakat "nyata" yang mayoritas jauh dari setting film tersebut. Sebuah ketimpangan realitas dimana manusia tak lagi diingatkan posisi sebenarnya dalam sebuah kehidupan riil. Manusia ditipu. Ingatannya dikerat untuk melupakan siapa dia, dan manfaat dirinya untuk orang lain. Itulah kondisi realita tempat kita menyambung hidup. Dan nenek itu memberi contoh, realita bukanlah ihwal bocal kecil yang bisa digurui. Kenyataan bisa berlaku tak seirama dengan bunyi petuah siapapun dan undang-undang darimanapun. Hingga tak sadar, suatu nanti kita akan "ditagih" orang-orang yang tak pernah menengadahkan tangan ke muka kita.

Sunday, March 4, 2007

MODERNITAS

Di Atabah, lekas Maghrib. Agak canggung saya melihatnya, namun terjadi. Pasar besar yang ramai yang terletak di jantung beberapa jalur jalan. Sesak orang berlalu-lalang. Kendaraan bersliweran dengan bising knalpot yang tak nyaman di telinga. Tak jauh dari situ, kudengar, suara pengajian dari sebuah masjid yang bercokol di pusat ekonomi itu. Canggung, karena seandainya fenomena itu terjadi di kampung—wilayah yang paling lambat dan terakhir tersentuh modernitas—orang-orang akan menyebutnya sebagai tindakan kurang ajar. Jelas sekali kusaksikan, gebyakan manusia yang tertumpah tak teratur malam itu, tak jauh berbeda ketika aku pernah shalat Jum'at di sebuah masjid di pinggiran pusat jalan raya ibukota, Jakarta. Mobil-mobil tetap saja ramai, kencang dikemudikan, pun kendaraan umum masih beroperasi dan kantor-kantor tetap tak libur. Keramaian sebising itu, di sebelahnya, orang-orang berkumpul, mendengar pak kyai berkhotbah. Kota, banyak yang berceletuk, menjunjung tinggi individualitas. Individualitas bukan cela, namun ia lumrah, untuk memperjuangkan hidup. Keahlian sepele pun dikomersialkan, karena di kota, di rotasi modernitas, "tak ada yang gratis." Walau begitu, dalam kerumunan itu aku terjaga, begitulah paradigma kampung dan Atabah adalah sebuah kota—pusat modernitas. Agama memang harus ekstra berjuang di tatanan kota serba modernis ini. Beberapa tesis dan wacana keagamaan bermunculan, mulai dari yang berteriak: agama harus dijaga sedemikian ketat agar tak terdistorsi sampai dengan suara lantang antitesisnya: jika ingin tetap laku, agama harus berani menghadapi tantangan zamannya. Modernitas. Secara pasti, saya tak tahu mulai dari kapan, zaman ini diawali. Begitu juga, detik akhir kematiannya. Beberapa pakar menyebutkan, sekarang kita sudah (dan tengah) memasuki zaman post-modern. "In the post modern fad, was a good now is bad" lirik sebuah lagu dari Barat—sebuah zona dunia yang paling awal mengecap modernisasi. Benar, tata nilai di sana bergeser, apa yang dulu (pramodern) disebut buruk, kini menjadi laik. Begitu juga sebaliknya. Agama tatkala di Timur menjadi simbol kebahagian sejati manusia, di Barat berubah menjadi, memakai tesa Karl Marx, "candu masyarakat". Modernitas menciptakan gaya hidup yang serba ramping. Ia, dengan didukung kemajuan teknologi yang makin angkuh, bergerak mengefisensikan manusia.Manusia selalu ditantang, bahkan saat ia terlelap di atas kasur empuk. Jajanan baru yang lebih bagus, lebih canggih—dan tentu lebih mahal—yang ditampilkan modernitas, memalingkan produk pasar yang diganti. Produk yang cacat cela, rentan rusak, diganti—dengan selalu menginginkan—produk baru yang dianggap sempurna. Zaman (post) modern ini, mengendapkan banyak paradoks. Manusia yang makin rentan—dengan penyakit baru efek samping teknologi—selalu menginginkan kesempurnaan, keserbabisaan perkakas yang dipakainya. Dan sains dipermak untuk memenuhi nafsu tak berujung manusia itu. Manusia yang lemah, hidup berdampingan erat dengan modernitas yang makin kokoh. Dan di situ, ada tempat, waktu dan 'baju' untuk berbicara soal agama. Pun dipermasalahkan, siapa yang paling berhak berbicara soal agama. Mungkin, sebagian kita menilai dalam fenomena modernitas di atas, Tuhan bersama dan "bertempat" di masjid, bersama orang-orang yang duduk beriktikaf, dan jauh dari para sopir bis, penjual di toko-toko Atabah. Mendekati Tuhan harus datang ke masjid—seperti di Mesir, ada masjid satu lantai yang tinggi menaranya hampir setara dengan apartement lantai sepuluh. Tuhan tak pernah tersapu di pinggiran jalan, bersama para tunawisma yang tak diizinkan tidur di masjid, karena masjid dibuka hanya waktu shalat saja. Terus, siapa yang bersama dengan seorang ibu yang menggendong anak perempuan, mengemis, yang 'mangkal' di belakang bu'uts? Siapa lagi yang bersama bocah kecil mengenakan jubah coklat lusuh, yang tangannya menengadah sebanyak orang yang berlalu di depannya, sambil mengatupkan jemari tangan ke mulutnya, di mahattah buuts juga? Tuhan? Jika benar Tuhan, saya pastikan citra Tuhan di pikirannya berbeda dengan di pikiran syeikh berjanggut, duduk iktikaf di masjid, dan membagi-bagikan uang kepada wafidin. Dengan siapa Dia bersama, Tuhanlah yang paling tahu. Muncul pengandaian begini: antara yang tidur nyenyak dengan selimut hangat di kamar yang menampik angin dingin dan orang-orang tunawisma yang tidur di pinggiran jalan dengan baju kotor menyelimuti tubuh kusutnya, Tuhan bersama siapa? Yang terpinggirkan itu, adalah korban modernitas yang tak punya ruang gerak yang cukup untuk mempetahankan hidup. Totalitas sosialis Mesir, tak mampu mengayomi yang terbuang. Modernitas, tak hanya menumpuk barang-barang rongsokan, tapi juga mengikiskan arti sebuah keberadaan, dan kehidupan. Hampir setengah dua belas, aku pulang. Dan lewat jalur Atabah lagi. Di sana kulihat pemandangan yang indah lagi: modernitas makin perkasa saat manusia mulai berjalan gontai kelelahan.

Perjalanan Tsamin, Asyir dan Tahrir: Catatan Harian Seorang Wartawan “Busuk”

Sebuah perjalanan yang melelahkan, mengecewakan dan juga kurang pantas diceritakan. Tulisan ini diposting bukan karena "kurang pantas" namun lebih didasari bahwa untuk menyajikan laporan dua halaman besar A4, butuh keseriusan waktu yang tak sebentar. Dari kediamanku di asrama Bu’uts, lalu riwa-riwi ke Tsamin (H-8), ke Asyir (H-10) dan ke Tahrir—tempat kedutaan besar Indonesia berdiri kokoh. H-8 Rabu, usai shalat Maghrib, aku keluar dari Bu’uts. Hujan rintik-rintik turun. Dingin yang masih terasa mengilukan tulang. Angin yang enggan diam. Untuk sampai ke tempat tujuan (H-8), aku harus naik bis nomor 80 coret dan 995. Sial, lebih setengah jam aku menunggu, kedua bis itu pun tak kunjung datang. Sampai tiba-tiba dari belakang, bis 80 coret—yang juga menuju H-10 dan sering diplesetkan teman-teman, bis 80 copet—serobot muncul. Aku naik. Uniknya, di dalam, aku melihat teman sekolahku. Tak sengaja aku menoleh ke belakang. Aku tersenyum karena “ada udang di balik batu”. Dan ia pun ikut tersenyum. Hasan namanya. Pelajar asal Comoro, negri sebrang Madagaskar, zona Afrika selatan. Unik karena beberapa hal. Pertama, malam itu adalah malam Kamis, malam dimana esoknya aku seharusnya bersekolah. Kedua, sengaja aku punya niat untuk tak masuk, demi tugas lain bersama temanku yang kutuju itu. Ketiga, kebetulan, aku ingin mengatakan padanya: “Aku besok tak bisa masuk, jadi tolong absenin aku yach!” Namun jawabnya lebih membuat aku kaget lagi. Begini ia bilang: “Kamu mau kemana? Aku malah pengen nitip absen ke kamu. Karena aku malam ini menginap di rumah temanku, H-10.” “Waduuhh” batinku. Berarti masih tersisa perasaan khawatir malam itu. Besok belum libur. Ketika bergegas turun, ia menitip pesan begini: “Jika besok masuk, absenkan aku yach. Nomorku 23.” Aku pun tersenyum turun dari bis yang pintu keluarnya berada di kiri dan pak sopir mengemudi di kiri depan—kebalikan bis-bis Indonesia. Karena sedari di dalam bis, aku memegang selembar kertas, tergambar rute rumah temanku, seseorang menanyaiku: “Mau pergi kemana?” Nah, ini kesempatanku bertanya: “Permisi, tahu alamat ini?” Lalu aku menyebrang bersamanya, ia tunjukkan rute yang tertulis di secarik kertas HVS A4 itu: turun halte H-8, lalu menyebrang ke kiri jalan, kemudian jalan lurus, berhenti di Malaf Qadim (pertigaan lama), terus hadap kiri, ada penjual Asyir (jus) dan ikan bakar, di situ ada lorong, masuk saja! Terlihat ada bengkel, tepat di atasnya ia tinggal. Apartemen no. 38 lantai 1 (lantai 2, kalau Indonesia). Sela-sela ia baturi aku menuju pertigaan, ia bertanya kepadaku, “Kamu dari mana?” Aku menjawab biasa: “Dari Indonesia” Biasa orang Mesir, dia memuji, “Demi Tuhan, Indonesia orangnya baik-baik. Lebih baik ketimbang Malaysia.” Dan pujian kubalas pujian: “Dan Mesir orangnya benar-benar baik.” Entah serius atau guyonan, kuanggap obrolan kami di malam yang rintikan hujan kian tak reda, hanya orang ketiga yang menemani langkah cepat kami. Kudapati rumahnya, meski terlebih dahulu harus salah naik tangga. Di sana, kuteringat kehidupanku sebelum masuk asrama: kehidupan anak luar yang tak dikasih jatah makan setiap siang, yang selalu dibututi dengan masalah uang sewa setiap awal bulan, kehidupan yang menantang, tapi juga menunjukkan “kemesraan”. Oh, lupa, aku belum memperkenalkan temanku ini. Ia anak Jawa Timur, alumnus Pondok Modern Gontor, tubuhnya besar, rambutnya ikal, wajahnya padat, dan kulitnya cokelat terang. Kubahas bersamanya, urutan langkah yang akan kami kerjakan besok. Hasilnya, pagi jam tujuh, kami berdua harus sudah tiba di H-10 untuk wawancara profil dengan seorang dokter yang baru mengambil studi Stase-nya di Mesir, namanya dr. Yusuf Ahmad. Sesudah itu, pergi ke KBRI, minta tanggapan, klarifikasi dan kejelasan sikap. Tuan rumah yang baik, tandanya menawari tamunya makan bareng. Kami berdua makan bareng satu nampan. Tak semewah menu yang kusantap tiap malam di Bu’uts. Pola makan yang berbeda. Aku tahu demikian memang wajar, karena aku pernah mengalami nasib begini lebih dari satu tahun. Jam enam lebih, aku dibangunkan. Sekali lagi, sarapan mie goreng sepiring berdua. Kurapikan pertanyaan-pertanyaan, lalu bersiap. Hayyul Asyir (H-10) Sudah akhir Februari, tapi suhu pagi Kamis (1/3) itu belum saja menaik. Satu kemeja dan jaket hitam yang kukenakan, tak mempan. Kupeluk erat tubuhku dengan kedua tangan. Kami berdua berjalan menuju halte tempat aku turun semalam. Tak kurang seperempat jam, kami sudah tiba di Asyir (H-10), turun di halte Bawabah II (gerbang dua). Sebelum ke rumah dokter yang akan kami wawancarai, kami meminjam kamera dari seorang temannya. Kali ini, kesempatanku untuk bisa wawancara, bertemu, bertanya-tanya dan ngobrol dengan “orang besar” atau setidaknya, orang “yang pantas dipublikasikan dan diprofilkan”. Karena narasumber kami seorang dokter tulang, wawancara yang mengangkat tema “kesehatan masisir” ini banyak dijelaskan dengan fakta empiris kecelakaan atau penyakit tulang. Lebih dari setengah jam, kami berdua berbincang bersama beliau. Tak lupa, sebelum pamit, kami ambil foto bertiga. Selanjutnya ke KBRI. Namun, sebab ada kesalahan teknis yang lumayan fatal ketika wawancara, ia mengusulkan pergi ke Rab’ah dulu: ke kantor. Sial, kamar terkunci, tak ada orang, dan kunci kantor tak ditinggal. Terpaksa kami duduk di luar. Kubiarkan ia meracik hasil wawancara tadi pagi, dan kuturun di bawah (kantor kami lantai 4), kulihat sebentar lagi, di aula WISMA akan ada akad pernikahan. Tahrir, KBRI Kami naik angkutan mini no. 132 jurusan Tahrir. Perjalanan yang lumayan jauh. Sepanjang jalan, mataku hanya menatap bangunan-bangunan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Karena no. 132 baru pertama kunaiki. Hampir satu jam, kami diajak “ubet-ubetan” pak supir. Dan kami malah kelewat tujuan. Kita berdua turun tepat di rumah sakit al Qashr al Aini, tempat Mbak Luqma (alm) dirawat sebelum wafat. Kami lihat tower Kairo jauh dipandang. Kami balik arah, mendekati tanda “ancer-anceran” itu. Jam sebelas, kami tiba di kedutaan. Di depan pintu penjagaan, saya bilang ke penjaga untuk menghubungkan dengan narasumber kami. Dan penjaga itu menjawab, “Orangnya lagi olahraga di taman belakang.” Saya memaksa untuk menemuinya di tempat ia olahraga. Namun kami ditahan. Kami menunggu. Kebetulan ganti penjaga, kutanya lagi, dan disuruh bicara langsung dengan sekretarisnya. Telpon dihubungkan. Saya mengatur gaya bicara. Tetapi jawabannya sama. Bapak narasumber tak ada di tempat. Bedanya, kalau penjaga pertama tadi bilang narasumber sedang olahraga, tapi bapak sekretaris menjawab bahwa atasannya, tanpa kepastikan, sedang rapat. Entah di dalam KBRI, atau di luar. Yang jelas, sumber tak bisa dimintai keterangan. Parahnya lagi, kami belum buat janji ketemu. Payah! Kami menunggu. Selain kami, ada beberapa mahasiswa juga menunggu. Ada yang minta legalisir ijazah, ada yang hendak mengambil proposal kegiatan bola basket. Dan 6 orang lain lagi yang tak kutahu urusannya apa. Di penantian itu, saya bingung. Hingga terkadang dikerudungi awan fatalis. Ini Kamis, besok harus terbit, sementara Jum’at hari libur KBRI. Mau tak mau, kami harus datangi narasumber lain yang berkaitan dengan topik yang kami angkat. Gantian. Temanku yang menghubungi. Dapat! Namun tak bisa ditemui langsung. Katanya, ia sibuk. Hasil siang itu berujung pada jawaban akhir narasumber: masalah ini belum bisa saya pastikan secara pasti. Hal ini akan kami musyawarahkan dalam rapat staf besok. Kurang lebih begitu. Cukup. Tugas saya toh hanya perantara. Kami kembali lagi kantor dengan harapan ada pimpinan atau kru di sana. Ternyata salah. Tetap saja tutup. Capek dan kesal. Kami putuskan agar dia yang meracik “Laporan Utama” sedangkan aku, mengganti jobnya menulis “Sektsa” bulan ini.