Feminisme dan Perempuan
Yang harus kita sepakati terlebih dahulu adalah: pemberontakan, baik dalam tataran wacana maupun aksi, lahir dari ketertindasan, termarginalkan, dari kekuasaan yang "berselingkuh", dan posisi yang di-sub ordinat-kan. Ia memberontak didasari kesadaran untuk mendapatkan hak yang sama, nasib dan status yang layak, tak dikekang oleh otoritas yang berlebihan.
Ide sekuler, misalnya, lahir dari realita yang gelisah tatkala negara (dan kerajaan) "menikah" dengan agama tertentu. Otomatis, agama selainnya, tak berhak berdamping hidup. Bukan karena benar-salah, tapi berangkat dari sebuah asumsi, anggapan, dan ketakutan kehilangan dominasi dan hegemoni. Dua contoh klasik: Daulah Umayah dan Abasiah. Berabad-abad, ketika satu madzhab kuat—karena diakui negara dan harus diikuti—disokong otoritas kekuasaan, menapik keberadaan madzhab-madzhab lain, dengan asumsi sesat-salah. Lebih masygul lagi, karakteristik negara kala itu adalah monarki absolut. Meyakini kerajaan adalah milik sendiri, kekayaan yang sah diwariskan dan tak mengenal demokrasi—seperti yang diusung Khawârij.
Begitu juga feminisme—pertama kali dikreasikan oleh sosialis utopis, Charles Fourier pada 1837—lahir dari demografi sosial, budaya, ekonomi, cara ber-agama yang maskulin dominated. Saat kapitalisme berpaham bahwa wanita adalah sebuah properti, sosialisme lahir memperjuangkan nasib wanita. "Tak ada sosialisme tanpa pembebasan perempuan. Dan tak ada pembebasan perempuan tanpa sosialime." paham aliran feminisme sosialis. Di Indonesia, waktu sekolah didirikan hanya untuk laki-laki, Kartini menggugat tradisi diskriminatif itu. Dan ketika Jahiliyah mengakarkan tradisi mengubur bayi perempuan hidup-hidup, nikah syighâr, poligami di atas empat, Islam (al Qur'an) turun menapik budaya lalim itu, mengangkat martabat kaum hawa.
Beberapa pakar filsafat mengutarakan bahwa bahasa mencerminkan kondisi sosial kultural suatu umat. Wahyu al Qur'an yang non verbal, turun dari langit, berkomunikasi dengan komunitas yang berkomunikasi dengan bahasa verbal. Karena bahasa komunitas nabi diutus, adalah bahasa arab, maka al Qur'an mengikuti bahasa lokal. Bahasa arab pun terkadang diskriminatif. Untuk kata ganti (pronoun) Tuhan saja, selalu diwakili dengan kata ganti "huwa" bukan "hiya". Tuhan laki-laki? Tentu bukan! Salah satu yang coba didekontruksi ulang oleh para feminis.
Khazanah keislaman yang menumpuk, literatur peninggalan yang kaya, disiplin keilmuan Islam yang terbukukan, telah menempatkan lelaki lebih unggul dan wanita semakin akrab dengan aktifitas domestiknya. Saudi Arabia dan Afghanistan contohnya. Mereka barangkali punya satu-dua musabab untuk melarang perempuan menyetir mobil, ikut partisipasi publik, pemimpin negara dan melarang seorang perempuan pergi, sendirian, untuk menuntut ilmu. Saudi adalah pemerintahan yang maskulin. Maka tak dapat mengelak, tradisi maskulin yang kokoh bertahun-tahun, hendak disetarakan, diemansipasikan, beralih jadi tradisi anti monopoli.
Apakah diantara para penggagas syari'atisasi jilbab pernah tahu kalau ada juga wanita yang ingin tak memakai jilbab? Mengapa salah seorang kepala sekolah di Perancis, demi menjaga kesucian negaranya yang sekuler, tak mengabulkan keinginan tiga murid muslimnya untuk bersekolah memakai jilbab? Jilbab, aslinya, memang atribut beragama, namun tatanan modernitas kadang menggeserkan visi awal ini. Tak jarang, jilbab telah distorted.
Yang dilakukan mereka semua, tak lebih dari penundukan perempuan. Dari sini, Ibu Amina Wadud, Bunda Fatima Mernissi dan Bapak Qasim Amin patut diapresiasi. Wujud apresiasi di sini, bukan menerima pandangan mereka dengan "kaca mata kuda", namun wacana-wacana yang digulingkannya hanyalah teriakan dari realitas yang timpang. Semangat "keberanian" inilah yang harus kita hirup. Namun harap-harap saya, perempuan seperti Anda tak jadi simbol rebutan antara Qabil dan Habil, atau lahan eksploitasi kedua setelah alam di dunia post-modern ini, agar bisa setara berdinamika, tak hanya bisa tebar pesona atau merengek diiringi tawa yang "menyenangkan". Bila tidak, saya tak tahu lagi: siapa perempuan?


