Thursday, February 22, 2007

Feminisme dan Perempuan

Yang harus kita sepakati terlebih dahulu adalah: pemberontakan, baik dalam tataran wacana maupun aksi, lahir dari ketertindasan, termarginalkan, dari kekuasaan yang "berselingkuh", dan posisi yang di-sub ordinat-kan. Ia memberontak didasari kesadaran untuk mendapatkan hak yang sama, nasib dan status yang layak, tak dikekang oleh otoritas yang berlebihan.

Ide sekuler, misalnya, lahir dari realita yang gelisah tatkala negara (dan kerajaan) "menikah" dengan agama tertentu. Otomatis, agama selainnya, tak berhak berdamping hidup. Bukan karena benar-salah, tapi berangkat dari sebuah asumsi, anggapan, dan ketakutan kehilangan dominasi dan hegemoni. Dua contoh klasik: Daulah Umayah dan Abasiah. Berabad-abad, ketika satu madzhab kuat—karena diakui negara dan harus diikuti—disokong otoritas kekuasaan, menapik keberadaan madzhab-madzhab lain, dengan asumsi sesat-salah. Lebih masygul lagi, karakteristik negara kala itu adalah monarki absolut. Meyakini kerajaan adalah milik sendiri, kekayaan yang sah diwariskan dan tak mengenal demokrasi—seperti yang diusung Khawârij.

Begitu juga feminisme—pertama kali dikreasikan oleh sosialis utopis, Charles Fourier pada 1837—lahir dari demografi sosial, budaya, ekonomi, cara ber-agama yang maskulin dominated. Saat kapitalisme berpaham bahwa wanita adalah sebuah properti, sosialisme lahir memperjuangkan nasib wanita. "Tak ada sosialisme tanpa pembebasan perempuan. Dan tak ada pembebasan perempuan tanpa sosialime." paham aliran feminisme sosialis. Di Indonesia, waktu sekolah didirikan hanya untuk laki-laki, Kartini menggugat tradisi diskriminatif itu. Dan ketika Jahiliyah mengakarkan tradisi mengubur bayi perempuan hidup-hidup, nikah syighâr, poligami di atas empat, Islam (al Qur'an) turun menapik budaya lalim itu, mengangkat martabat kaum hawa.

Beberapa pakar filsafat mengutarakan bahwa bahasa mencerminkan kondisi sosial kultural suatu umat. Wahyu al Qur'an yang non verbal, turun dari langit, berkomunikasi dengan komunitas yang berkomunikasi dengan bahasa verbal. Karena bahasa komunitas nabi diutus, adalah bahasa arab, maka al Qur'an mengikuti bahasa lokal. Bahasa arab pun terkadang diskriminatif. Untuk kata ganti (pronoun) Tuhan saja, selalu diwakili dengan kata ganti "huwa" bukan "hiya". Tuhan laki-laki? Tentu bukan! Salah satu yang coba didekontruksi ulang oleh para feminis.

Khazanah keislaman yang menumpuk, literatur peninggalan yang kaya, disiplin keilmuan Islam yang terbukukan, telah menempatkan lelaki lebih unggul dan wanita semakin akrab dengan aktifitas domestiknya. Saudi Arabia dan Afghanistan contohnya. Mereka barangkali punya satu-dua musabab untuk melarang perempuan menyetir mobil, ikut partisipasi publik, pemimpin negara dan melarang seorang perempuan pergi, sendirian, untuk menuntut ilmu. Saudi adalah pemerintahan yang maskulin. Maka tak dapat mengelak, tradisi maskulin yang kokoh bertahun-tahun, hendak disetarakan, diemansipasikan, beralih jadi tradisi anti monopoli.

Apakah diantara para penggagas syari'atisasi jilbab pernah tahu kalau ada juga wanita yang ingin tak memakai jilbab? Mengapa salah seorang kepala sekolah di Perancis, demi menjaga kesucian negaranya yang sekuler, tak mengabulkan keinginan tiga murid muslimnya untuk bersekolah memakai jilbab? Jilbab, aslinya, memang atribut beragama, namun tatanan modernitas kadang menggeserkan visi awal ini. Tak jarang, jilbab telah distorted.

Yang dilakukan mereka semua, tak lebih dari penundukan perempuan. Dari sini, Ibu Amina Wadud, Bunda Fatima Mernissi dan Bapak Qasim Amin patut diapresiasi. Wujud apresiasi di sini, bukan menerima pandangan mereka dengan "kaca mata kuda", namun wacana-wacana yang digulingkannya hanyalah teriakan dari realitas yang timpang. Semangat "keberanian" inilah yang harus kita hirup. Namun harap-harap saya, perempuan seperti Anda tak jadi simbol rebutan antara Qabil dan Habil, atau lahan eksploitasi kedua setelah alam di dunia post-modern ini, agar bisa setara berdinamika, tak hanya bisa tebar pesona atau merengek diiringi tawa yang "menyenangkan". Bila tidak, saya tak tahu lagi: siapa perempuan?

Monday, February 19, 2007

Irak dan George Bush

Untuk apa kita perlu membaca sejarah? Untuk melihat kemegahan, kemajuan dan kebanggaan—jika melihat peradaban Mesir Kuno 7000 SM dan Islam 14 abad silam. Dan, dengan hati yang tersayat, untuk menyaksikan air mata, darah, hak yang dirampas dan kebenaran yang tergagap-gagap—seperti invasi koalisi Amerika ke Irak sejak 20 Maret 2003.
Irak, seperti yang kita saksikan, adalah sebuah negri tak berdaya luar-dalam. Di satu sisi, ia tak mampu memakzulkan pemerintahan Saddam yang sektarian-sentrisme, di sisi lain, ia tak bisa lari dari campur tangan negri sebrang benua “yang Tuhan telah menempatkan Bush di Gedung Putih untuk memimpin dunia”—kata William Jerry Brown, pejabat tinggi di bidang intelijen pertahanan. Sehingga negri dimana Abu Hanifah dimakamkan, adalah gambaran sebuah negara rentan konflik pasca invasi gabungan lebih dari 20 negara itu.
Kita sadar, perang 4 tahun silam ini bukanlah perang Badar antara “kebenaran” dan “kemusyrikan”, tapi di sana, lebih menyerupai adegan pertempuran dua kekuatan otoriter. Bedanya, rezim Saddam tak dibela dunia dan tak sepenuhnya didukung rakyat, dan rezim Bush dengan cerdas mendapatkan pengakuan dunia. Lalu, kita bisa menebak korban paling dirugikan: rakyat sipil—nyawa yang tak patut dikorbankan. Saya tak bisa membayangkan apa arti 100.000 lebih nyawa melayang di mata Bush. Mungkin angka itu, baginya, impas dengan 100.000 tentara Amerika Serikat yang dimobilisasikan di Kuwait dan harganya, jauh lebih mahal ongkos “Operasi Pembebasan Irak” ini, lebih dari 400 Milyar US Dollar. Kenapa George W. Bush—presiden AS ke-43—begitu getol melancarkan kebijakan luar-negrinya? Dua kali putaran pemilu (2000 dan 2004), ia menang pemilihan dan praktis menjadikan “perang melawan terorisme” dan “perang irak” sebagai isu sentral. Hal ini bermula pasca PD II. Para presiden Amerika mulai dari Harry Truman sampai George Bush merasa bahwa Amerika adalah kampium Demokrasi. Tugas pokok mereka, berkaitan dengan kebijakan politik luar negri, adalah menegakkan demokrasi di seantero dunia. Puncaknya, tragedi runtuhnya gedung World Trade Center (WTC) pada 9 September 2001 adalah “pintu jebol” bagi Bush untuk mengatakan pada dunia bahwa bahaya global dunia internasional adalah terorisme dan menyatakan “perang melawan terorisme”. Sebagai kampium dan “polisi keamanan dunia”, ia dan kolega-koleganya dari Partai Republik, menggarang negara-negara yang dianggap mengganggu stabilitas keamanan dunia. Dan benar. Satu bulan sesudah insiden WTC, serangan itu digunakan dalih invasi ke Afganistan untuk melumpuhkan kekuatan Al Qaeda dan Taliban dan mengklaim Osama bin Laden sebagai teroris dunia. Setahun berselang, pada Maret 2003, ia memerintahkan penyerangan ke Irak: sebuah bangsa yang disebutnya sebagai negara “poros setan” setelah Iran dan Korea Utara—terkait dengan proyek senjata nuklir. Tujuan resmi yang ditetapkan AS, kata Bush, adalah untuk “melucuti senjata pemusnah masal, mengakhiri rezim Saddam Husain, dan memerdekakan rakyat Irak”. Meski sekarang—4 tahun sesudah invasi—tuduhan bahwa Saddam memiliki senjata pemusnah masal dan terlibat dengan jaringan teroris al Qaeda, jelas tak terbukti. Misi “pembebasan” ini pun tak semata-mata politik menegakkan demokrasi. Amerika tak segampang itu mengucurkan dana sekian milyar Dollar dan mengirimkan ratusan ribu tentara untuk menjatuhkan presiden negara kecil yang luasnya sebanding dengan salah satu negara bagian Amerika, California. Pretensinya, bagi Bush, bukan semata menegakkan “kerajaan tuhan”—seperti kata-katanya yang pernah dikutip The New York Times (koran paling berpengaruh di AS dan dunia) bahwa “Tuhan telah menghendaki saya jadi presiden”—di muka bumi, namun landasan keagamaan ini hanya topeng untuk menguasai ladang minyak Irak—terbesar kedua setelah Saudi Arabia. Bahkan, lebih jauh lagi, untuk menghegemoni dunia. Dan hegemoni, kita tahu, menyodorkan satu pilihan: tunduk pada Amerika. Penyerangan di Irak berjalan praktis dan mudah. Di Baghdad, 10 April, patung Saddam dirobohkan oleh Sersan Edward Chin, marinir AS keturunan Cina dari Myanmar, sebelum menutup wajah patung itu dengan bendera Amerika. Dua bulan setelah invasi, 1 Mei, Bush mengumumkan kemenangan AS di Irak. Rezim Saddam tumbang dan Partai Sosial Arab Baath terguling. Selanjutnya, menegakkan demokrasi di Timur Tengah—dimulai di Irak. Namun ia tak bisa menduga apa yang terjadi pasca pendudukan ini. Invasi 2 bulan, menyulut api dalam sekam: berkobar perang irak, perlawanan atas AS, bom bunuh diri, dan pemberontakan. Politik yang labil, ditambah pertikaian sektarian yang makin melebar antara kelompok Sunni yang di masa Saddam, praktis berkuasa atas kelompok mayoritas Syiah yang kini ganti berkuasa. Hasil invasi Bush dkk ternyata bukan kemenangan yang menggembirakan AS dan warga sipil. Amerika, sampai saat ini, rugi finansial yang fantastis dan jumlah korban tentara lebih dari 2.500 jiwa. Tentu Bush bukanlah Cindy Sheehan, ibu yang kehilangan anaknya, Casey di Irak tahun 2004. Ia bukan seorang ibu. Buktinya, pasukan semakin ditambah untuk benar-benar memaksakan target “menang atas Irak”. Sementara yang didera Irak, seperti dikemukakan pelbagai badan analisa independen, bahwa AS tidak mungkin memenangkan perangnya terhadap Irak, kecuali hanya menghancurkan infrastruktur Irak, berbagai bangunan, sekolah, perkantoran, pemukiman, dan membunuh ribuan manusia tak berdosa. Kerugian terbanyak hanya dituai “para bawahan”. Tapi Bush, orang yang sering kita umpat laknatullah alaih, tak mudah dijatuhkan dari kursi kepresidenan, para senator Partai Republik di kongres sulit diimbangi Partai Demokrat dan tentara AS di Irak, makin membrutal. Entahlah, apakah karena pengaruh Bush yang kuat atau kesadaran berdemokrasi yang tinggi di pikiran warga AS untuk tidak menurunkan sewaktu-waktu orang yang dipilihnya dalam suatu pemilihan resmi. Berbeda dengan Indonesia, belum pernah ada presiden yang tepat mengakhiri masa jabatannya. Pemilu 2004, ia tak kehilangan popularitas. Ia masih bisa meyakinkan bahwa yang ia lakukan di Afganistan dan Irak adalah legal karena menegakkan demokrasi. Ia memenangkan pemilu dengan selisih 3 persen dari saingan utamanya, John Kerry. Menginjak tahun ketiganya—berarti ketujuh jika dihitung dari 2000—dia mulai kehilangan kepercayaan. Di pidato kepresidenannya ketujuh, ia masih saja mengokohkan harus ada penambahan pasukan ke Irak untuk mengindari perang saudara Syiah-Sunni. Namun agaknya, tak sedikit yang tak terbuai dengan isi pidato itu. Partai Demokrat jelas menentang kebijakan ini. Hillary Clinton, kandidat presiden dari Partai Demokrat, mengecam keras pengiriman tentara ke Irak. Kata istri mantan presiden AS Bill Clinton ini, Bush harus bertanggung jawab atas pilihannya menerima invasi ke Irak pada 2002. Warga AS pun tak terkecoh dengan mulut manis Bush. Pidatonya di depan Kongres yang mampu menyedot 45,5 juta pemirsa, tak memperbesar kepercayaan rakyat kepadanya. Menurut jajak pendapat yang dikutip The Economist, 65 persen rakyat AS menentang cara kerja Bush, bahkan 51 persen di antaranya menentang sangat keras. Penyebabnya: strategi menang di Irak yang ditandai dengan pengiriman lebih dari 100 ribu tentara AS. Banyak demonstrasi antiperang mengecam ulah Bush di Irak. Dan kita pun, walau hanya dalam hati, menolak perang yang disulutnya itu, perang yang—seperti orasi George Galloway, anggota parlemen Inggris—tidak mewakili masyarakat Barat dan Timur, bukan perang sipil, dan juga bukan antara Kristen dan Islam. Menikmati sisa jabatannya yang tinggal 1 tahun 9 bulan, ia makin mantap saja bakal menang atas Irak. Menang berarti, menurut keyakinannya, menjalankan titah Tuhan untuk menumbangkan Saddam. Tapi kita hanya bisa menunggu masa sisa itu tiba, sambil hati terus berdoa, siapakah yang bakal menang? Kebenaran yang tergagap-gagap? Bush? Tentu bukan Irak, karena ia kini bak ladang pembantaian. Ia adalah korban bukan lawan. Kita semua di nun jauh di sana. Tak mendengar lirihan pria tua berusia lanjut yang meneteskan air mata, “Apa salah kami?” karena gaduhnya suara buldozer membereskan puing-puing bangunan yang hancur dibom.
Merinding, saya membayangkan andai Bush menang. Kebenaran yang kita elu-elukan hanya tinggal janji. Dan pasukan AS barangkali akan melanjutkan eksodus invasi selanjutnya.

Thursday, February 15, 2007

Demi Sebuah Piagam!

Tak ada bedanya. Pagi ini, saya kalah bangun dengan matahari. Sejak dulu, saya telah mengikrarkan janji untuk menjadi yang pertama. Tepat jam delapan, Thalib membangunku. Uang kepanitian sebesar 130 Pound (250.000 Rupiah) yang kupegang, karena bendaharanya saya sendiri, ia minta. Saya terbangun, dan kulihat, dengan mata yang masih terinjak kantuk, kedua temanku sekamar, masih saja tertidur lelap. Bedanya denganku, mereka terbangun mendengar Adzan berkumandang dan saya, dengan selimut tebal yang hangat, tak berani mengusap wajah kusutku dengan air yang dingin. Saya kalah sama mereka, saya kalah dari matahari dan saya seorang pengingkar janji. Munafik! Dan kutahu ia, sebagai ketua panitia orientasi, harus bangun lebih awal, lebih datang lebih dini, menyiapkan segala hal, karena IKAMARU RAM, hari ini, mengadakan orientasi. Saya bangun, kugayuh jaket hitam, kuambil dompet—kenang-kenangan dari seorang teman sebelum berangkat—dari saku. Semua uang yang ada padaku, kuserahkan kepadanya. Kutanya, booklet modul sudah difotocopy? Semua beres, jawabnya, tapi kurang satu: piagam untuk presentator dan moderator. Dan. . . saya mengiyakan tugas membuat piagam ini. Untuk ini, saya minta 10 Pound. Hari ini, Rabu (14/2) IKAMARU RAM menyelenggarakan orientasi mahasiswa baru di Katamea. Orientasi yang dijadwalkan terlaksana sebelum ujian, terpaksa diundur pasca ujian, karena kedatangan mereka yang mundur dan kesibukan para maba (mahasiswa baru) melengkapi administrasi dan menyiapkan diri menempuh ujian yang hanya berselang kurang lebih satu bula sejak mereka tiba. Orientasi yang mengambil tema “Semangat Meraih Kesuksesan” menyajikan beberapa materi pokok yang tak kalah pentingnya dengan materi-materi di tempat lain. Ada empat materi yang disajikan di siang ini: Ke-IKAMARU-an, Kepenulisan dan Jurnalistik, Manajemen Diri dan Rihlah Maktabah (Library Tour), dan Terjemah. Para maba antusias mengikuti acara yang dimulai pada pukul sebelas, dan berakhir sesudah Isya. Bisa dikatakan, acara yang berbarengan dengan Valentine Day (hari cinta kasih) ini adalah pertemuan “lintas generasi” karena para presentator tak lain adalah senior-senior IKAMARU. Layaknya orientasi pada umumnya, seluruh peserta, moderator dan presentator tentu mendapatkan sertifikat atau piagam. Ada tidaknya piagam di acara kali ini, bergantung pada saya. Jam setengah sembilan, saya cuci muka. Kuambil data (file) yang disimpan di komputer Hamdun. Namun sebelumnya, saya masuk sekolah untuk mengisi absensi kelas—agar gajinya tak dipotong, selentingan sebagian teman. Setengah sepuluh saya keluar, begegas menuju mahattah (halte), kulihat di sebrang jalan, teman-teman baru baru sedang berangkat. Dan di halte itu, ada pemandangan pincang yang saya lihat setiap hari. Kairo, kemegahannya tak bisa sepenuhnya menampik ke-nelongso-annya. Bangunan asrama megah, jatah makan siang: ayam dan daging tiap hari, pagi: susu, roti dan telor, tak dapat mengusir dari pagar besarnya, seorang ibu menggendong anak perempuan kecil, wajahnya kumuh, berkerudung hitam kotor, mondar-mandir menengadahkan tangan kepada para pelalu jalan. Tak jauh, anak lelakinya—saya taksir baru beranjak masuk TK—dengan jubah coklat yang berhari-hari tak dicuci, meng-itik di belakang orang, sesekali mengambil isyarat mengatupkan jari lima mengarah ke mulut—pertanda ia lapar, dan butuh makan. Malam, Kairo bergemerlapan cahaya, di balik orang yang tidur tenang dengan selimut yang hangat, bisa mandi air hangat tiap hari, tercecer orang-orang tua, papa, tak punya rumah—tak punya uang untuk menyewa saqqah (rumah)—yang tidur di tengah jalan, terusik kendaraan yang bising, dengan sandangan seadanya menutup badan, dan perut keroncongan. Tiap hari, saya menjumpai semua itu. Tak ada perubahan, perbaikan nasib, apalagi perhatian dari para “pengentas kemiskinan”. Bis datang dan saya naik. Saya sampai di WISMA. Saya naik ke kantor ICMI lantai 3. Sambil menyodorkan kertas, kutanya, bisa print piagam? Seseorang yang berjaga di situ menjawab: tidak bisa, soalnya kertas setebal itu tak cocok dengan mesin print ini. Di Kairo, jelas, jarang yang masih memakai print tinta, kebanyakan sudah mengandalkan mesin print laser. Lebih cepat, lebih bagus, dan lebih efisien. Ia menceritakan, kemarin pernah mencoba print dengan kertas yang sama dengan saya pegang, hasilnya—saking tebalnya—tak bisa keluar, menyangkut di luar, tak bisa keluar dan beresiko rusak. Saya bingung, kupikir-pikir: jika kulapor tak bisa bawa piagam dengan alasan sepert ini, pasti dimaklumi. Saya ragu. Dan . . . saya lanjut. Selintas teringat acara yang diadakan KSW (Kelompok Studi Walisongo) Jawa Tengah kemarin, dan memakai piagam. Batinku: saya harus segera ke sana. Di dalam bis yang lumayan gaduh dan kotor, saya duduk meregangkan lutut, mata menatap keluar. Bis yang saya naiki, melewati tempat kuliah anak putri. Di sana, naik empat mahasisi Indonesia hendak pulang. Satu dari mereka, memegang dua kuntum bunga berwarna merah. Bagiku, ini sebagai keanehan. Saya tak tahu hari ini tanggal 14 Februari. Sepanjang perjalanan ke H-10 (baca: Hayyil Ashir), melewati H-7, kulihat mobil-mobil bagus berselaweran menyelip mobil tua yang saya naiki, apartemen-apartemen megah. Pandanganku terusik ketika taman indah, rumput menghijau pemisah sebrang jalan, terlihat seseorang tidur pulas. Bapak tua tunawisma. Saya tak tahu apa yang ada di hati orang-orang seperti itu. Menikmati hidup yang “tanpa beban”? Keirihatian? Atau fatalis menerima nasib? Daripada saya dan dia, Tuhan lebih tahu. Saya sampai di KSW. Sial! Kertas yang saya bawa tetap tak bisa. Sial lagi, kertas piagam yang dipakai kemarin, habis. Dua toko yang lumayah jauh kudatangi, namun tak ada sesuatu yang saya inginkan. Ternyata, kertas piagam yang cocok hanya ada di toko Samir Wa Ali, H-7. Dan saya harus balik lagi ke H-7. Muter-muter toko besar berlantai dua itu. Kertas yang cocok, akhirnya kudapati, harganya 8 Pound: satu paket, 20 kertas. Secepat mungkin, karena acara di Katamea sudah masuk ke presentasi pertama, saya balik ke KSW. Tergetar saya melihat kernet angkutan yang saya tumpangi adalah anak kecil di bawah 10 tahun. Iba jelas ada, namun posisiku siang itu bak nun jauh di sana. Dan jengkel ketika tak sengaja melihat orang yang kencing di tembok pinggir jalan. Salah satu hal yang paling tak saya sukai dari orang Mesir—kencing sembarangan. Setelah kembali, kuselesaikan dengan agak-agak terburu, kumasukkan beberapa Pound ke dalam kotak infak. Sejadi-jadinya, saya melangkah cepat ke mahattah akhir H-10, berangkat ke Katamea. Naik angkutan mini, menatap kanan-kiri padang sahara yang mulai tersentuh proyek pembangunan pemerintah. Tak bisa langsung ke tempat tujuan, saya harus turun di Mahattah Syabbab, jalan kaki ke Zilzal dan naik bis lagi. Walau sudah terbiasa, aku baru sadar, apa yang saya pandang berubah: pertama, padang sahara dan perumahan villa kaum elit, selanjutnya makam kristen, di sampingnya berjejal tak teratur perumahan yang kotor dan ndeso. Alhamdulillah, agak kecapekan saya sampai di tempat tujuan juga, dan presentasi materi pertama juga belum selesai. Memang tak ada yang istimewa. Demi piagam, kuhitung-hitung tujuh kendaraan kunaiki: Bu’uts-Awal H-7-Rab’ah-Asyir-H-7-Asyir-Zilzal-Katamea. Namun, separuh siang ini saya melihat banyak hal: ketua panitia yang harus lembur kerja, kenyataan miris yang terpinggirkan dan tak terperhatikan, dan lebih lagi, selama ini ketidaksadaranku dengan ke-acuh tak acuh-anku tak bersekat sama sekali. Malam ini, aku baru sadar selama ini aku tak sadar. Katamea, 1.45 AM

Tuesday, February 13, 2007

Buat "Mahasiswa Yang Berfakultas"

BULAN depan, Desember dan Januari, aghlabiyah masisir, "Mahasiswa yang Berfakultas", tengah mempersiapkan diri belajar menghadapi ujian. Apalagi mahasiswa baru, sekarang ini tengah getol-getolnya ber-muqarrar ria. Maka jangan heran bila Anda temui short message di depan pintu seperti: "Dilarang bertamu!" atau "Jangan Berisik!". Ya, mereka semua tengah asyik belajar.

Apapun yang terjadi, kali ini iklim berbicara lain. Aktifitas berubah. Disebut lain dan berubah, karena kondisi kultural-sosial yang berganti seiring hari-hari berjalan kian cepatnya. Urusan yang berbau non-akademis mulai "diistirahatkan" dulu. Teman-teman yang aktif di organisasi apapun akan ambil "cuti" –minimal untuk dua bulan ke depan. Semua tipe organisasi telah siap-siap tutup buku agenda kegiatan untuk termin pertama ini. Pun semua perangkat yang ada, mulai pengurus bidang, pengurus harian sampai pak ketua. Karena, naluri manusia, tak ingin gagal ujian (hidup), alih-alih faktor organisasi menjadi terdakwa biang kerok kegagalan.

Untuk KSW sendiri, kemarin menutup kegiatannya dengan rapat evaluasi bersama. Rapat tersebut membuahkan point-point baru sebagai biasan dari dokumentasi kegiatan masa lalu serambi berusaha mengeksplorasi ulang potensi yang sudah ada (namun tak terjamah dan masih berkelindan) dan menerobos sekat kesenjangan antara intern pengurus dan ekstern warga untuk menyabet bakat baru yang, sudah semestinya, bakal menerima titah setelah raja dan mentri-mentrinya lelah mendaki dan sampai di puncak gunung (Rapat Permusyawaratan Anggota).

Beberapa tahun belakangan, tepatnya pasca membludaknya jumlah masisir dan merosotnya prestasi yang "digembol", muncul keresahan-keresahan dari beberapa pihak, element masyarakat masisir yang prihatin dan merasa bertanggung jawab akan degradasi prestasi ini. Baik pihak-pihak itu maujud dalam wujud instansi pendidikan, organisasi induk, kekeluargaan, ormas, senat, almamater, person-person atau sekumpulan non formal yang lain. Mereka semua resah, mengapa mahasiswa kita (Indonesia) hanya bisa mencangkul ladang prestasi sekian Hektar? Toh, seandainya ladang yang tergapai ditanami, dan padi natijahnya didistribusikan ke masyarakat yang makin lapar prestasi ini, bisa diduga dan diyakini, banyak yang 'lumbung padi'-nya masih kosong dan tidak sedikit kelompok orang barisan sakit hati. Baik mereka yang melihat langsung realita di sini maupun mereka di Indonesia yang terkabari.

Saat ini, bimbel dianggap alternatif belajar yang baik (apalagi untuk maba) di saat jarak imtihan yang tinggal sebulan lagi dan persiapan diri yang belum sepenuhnya mantap. Mari dudukkan sejenak bahwa bimbel, sebenarnya, bukan satu-satunya teori penunjang keberhasilan akademik. Sebabnya, di samping masing-masing person memiliki metode belajar yang tak sama, tujuan bimbel itu sendiri hanya sebatas batu pegangan sewaktu muncul kekhawatiran atau ketakutan pribadi (self phobia) bahwa dirinya akan terseret arus. Fungsi bimbel hanya memberi kunci muqarrar. Bertawakal sepenuhnya pada bimbel adalah sebentuk kemalasan berpikir yang natijahnya Anda hanya bisa menjawab ujian kertas (literal) dan kagok dengan realita umat.

Kalau boleh usul, semoga saja realistis, di tahun selanjutnya untuk menambah 'warga negara' baru, seharusnya tidak hanya diselenggarakan tes fisik, namun juga tes mental. Benar kata orang, Mesir itu adalah negri seribu satu macam definisi. Dia merupakan negri ilmu, negri salah satu pusat peradaban kuno, negri wisata, negri mudah penghidupannya. Maka di samping soal kebahasa-araban dan keilmu-agamaan diujikan, harus juga dipasang di nomor pertama satu pertanyaan baru, benarkah Anda datang ke sini untuk tholabul ilm? Siapkah jawaban Anda dipertanggungjawabkan bahwa kenyataan yang Anda lakoni tidak hiprokit dengan jawaban tersebut?

Selanjutnya, tidak hanya faktor eksternal yang selalu berharap untuk ditingkatkan, seperti bulghah (ongkos hidup via minhah atau kiriman orang tua), namun faktor internal juga tak bisa dipandang sebelah mata. Faktor internal yang dimaksud di sini adalah dzaka' (kecerdasan) dan hirsh (semangat). Karena kedua unsur inilah yang bakal menentukan prestasi dan thuli al zaman (durasi waktu) Anda berlabuh di peraduan ini. Menuntut satu unsur dan apatis terhadap unsur lain bak bertepuk sebelah tangan, alias muspro.

Nah, mumpung kini sedang giat-giatnya "makan" muqarrar, ada satu hal lagi yang perlu dicatat. Sewaktu perilaku dan tindakan Anda akhir-akhir ini berubah sesaat, maka perubahan yang didapat pastilah tak besar. Untuk mendapatkan perubahan yang besar, tata dan ubah pola pikir Anda. Banyak pakar psikologi menyimpulkan mengapa trik-trik atau tips-tips yang dilakukan seseorang tak bisa berdampak besar baginya? Kesimpulan yang disepakati, karena dari awal ia hanya merubah perilakunya bukan pola pikirannya. Yang dipikirkan hanya kulit ari, bukan nukleus. Tambah mereka, ubah pola pikir Anda, niscaya Anda dapatkan sesuatu yang besar.

So, (meminjam penutup Cak Nun) Are You Ready? Kalau saya sih Ayu Laksmi atau Ayu Azhari saja.

Dimuat Di PRESTASI edisi 72

Anda Berbuat Karena Anda Butuh

Seperti biasa, Hari Ahad adalah hari paling ribet bagi Billy. Ribet, karena pulang dari mengaji, ia harus berangkat lagi ke sekolah. Pasalnya, setiap selesai salat Subuh, ia harus bergegas pergi mengaji. Di udara fajar yang kian ramai bunyi ayam berkokok, ia tetap bersemangat mengayuh sepedanya untuk mengaji sorogan kepada gurunya yang kebetulan bertempat tinggal di kampung sebelah. Satu hari dalam seminggu, aktifitas inilah yang menjadi kebiasaannya setahun yang lalu semenjak perkenalannya dengan sang guru. Saat ditanya oleh salah seorang temannya, dengan lugu ia menjawab, "Saya ingin bisa membaca kitab. Saya butuh itu. Karena saya ingin memahami agama." Cerita singkat di atas adalah satu prototipe dari sekian aktifitas yang mungkin kita temui ada di sebagian teman-teman kita, baik yang di sini maupun di tanah air. Atau barangkali saya sangat yakin, cerita itu mengena pada diri kita masing-masing, tetapi dengan bahasa dan plot yang agak beda. Semangat Billy dan perhatiannya yang besar terhadap ilmu menuntutnya untuk rela dan tegar mengayuh sepeda, mendatangi majlis ilmu seminggu sekali dengan durasi yang lumayan kurang mengenyangkan. Deskripsi kisah di atas, setidaknya bisa menjadi cermin saat diri kita kembali ditanyai oleh bayangan kita sendiri, apa yang hendak kamu perbuat di sini? Terlalu tergesa-gesa bila semuanya diseragamkan dalam satu tujuan, namun yang pasti, saya (dan Anda saya ajak) sepakat kalau Billy berbuat seperti itu karena ia 'didesak' oleh kebutuhan tertentu. Kaidahnya, Anda berbuat karena Anda butuh. Gelora tuntutan pemenuhan terhadap kebutuhan merangsang otak untuk terus berputar bagaimana caranya agar dirinya menjadi puas. Semakin 'terdesak' seseorang dihimpit kebutuhan, semakin kreatif otaknya menemukan celah-celah baru untuk memperjuangkan kelangsungan hidupnya. Indonesia dan Mesir adalah contohnya. Dua negara dengan bentangan astronomi, demografi dan geografi alam yang jauh berbeda. Tapi siapa mengira negeri gersang yang berjubah padang pasir ini 'lebih makmur' penghidupan rakyatnya ketimbang negeri kita yang konon nenek moyang membanggakan diri dengan menyebutnya sebagai negeri gemah ripah loh jinawe? Mesir, dengan segala tantangannya dan pemanfaatan potensi yang ada berhasil menyulap performance dirinya menjadi negeri yang saya rasa layak juga menyandang gelar kehormatan negeri kita. Bahkan Plato sendiri dalam filsafat idealismenya mengatakan bahwa negara itu muncul karena didesak oleh kebutuhan manusia yang beraneka ragam, sehingga mau tidak mau mereka harus bekerjasama guna memenuhi kebutuhan tersebut. Jadi, Insting kebutuhanlah yang menjadi mastermind dari segala perilaku yang kita kerjakan. Anda rajin ke kuliah karena Anda butuh pada sesuatu yang Anda yakini bisa didapat di sana. Anda aktif berorganisasi karena Anda menemukan kebutuhan Anda di sana dan dengan menceburkan diri, Anda berusaha untuk memuaskan kebutuhan itu. Anda aktif mengikuti berbagai kajian dan diskusi karena di arena tersebut, secara sadar atau tidak, kebutuhan intelektual Anda terealisasikan. Di KSW misalnya, setiap warga yang menghadiri kegiatan diskusi, baik berbahasa Arab maupun bahasa pribumi adalah orang yang merasa bahwa kebutuhannya ada di sana. Kehadirannya itu merupakan sebuah upaya agar kebutuhan tersebut terpenuhi. Tak pandang jauh atau dekat, ia pasti hadir. Saya jadi teringat jawaban teman dekat saya yang tinggal lumayan jauh dari sekretariat KSW, Katamea, saat saya bertanya mengapa datang ke kegiatan itu. Ketika itu mengalir saja jawaban dia, "Aku datang ke sana, karena aku butuh. Kalau tak butuh, mengapa aku habiskan waktuku sia-sia di sana?" Bahkan Ramadlan kemarin, teman-teman yang rajin menghadiri ceremonial buka bersama tak luput dari naluri kebutuhannya sendiri, minimal kebutuhan mengenyangkan perut atau ingin kumpul-kumpul bersama. Melihat realita di lingkungan yang makin menunjukkan kompleksitasnya, dibutuhkan penyikapan agar di antara pancingan dan tawaran yang ada, saya dan Anda punya jurus tersendiri untuk bisa memetakan kebutuhan kita masing-masing. Dalam dunia yang berbau kebebasan ini, ia melatih kita untuk bisa menempatkan posisi di ladang mana kita harus mencangkul, apa yang harus kita tanam dan sekaligus berapa lama kita harus membetahkan diri untuk bertanam. Fungsi pemetaan itu tak lain adalah terjalinnya komunikasi yang apik dan sinergis diantara orang-orang yang memiliki kebutuhan yang sama, sehingga satu sama lain bisa saling tambal sulam merangkai mozaik kebutuhannya. Dengan demikian, langkah seperti ini dapat menjawab pertanyaan klasik sewaktu Anda pulang, apa yang telah kamu dapatkan dari negeri lembah nil ini? Saya jadi teringat jawaban penulis komik Tarzan ketika ditanya mengapa ia membikin Komik Tarzan yang karyanya lebih dikenal dari pengarangnya sendiri? Tak merasa malu, dengan jujur ia menjawab bahwa dirinya tengah kepepet kehabisan uang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. So, You do because you need!! dimuat di PRESTASI KSW edisi 71