Kamis, 16 Agustus 2007

Jas Merah

Jangan sekali-kali melupakan sejarah!” demikian isi pidato terakhir kenegaraan Bung Karno. Kita sadar bahwa sejarah jadi lebih penting diingat saat hidup tak bertaut dengan suasana genting antara menentukan pilihan hidup merdeka atau pasrah menerima penjajahan. Kita manusia abad 21 yang terus memekikkan “merdeka” dengan baju rapi dan rasa hormat yang tinggi.Tapi apa yang perlu kita ingat dari sejarah bangsa kita?

Sebuah draf bisa ditulis: Indonesia lahir dari “ide persatuan dan kesatuan”, bangsa yang sudah menjajaki 3 orde, UUD 45 diamandemen sampai 4 kali, gerakan separatis yang mengusik, kesejahteraan rakyat yang masih timpang, atau peliknya bangsa kita menentukan pijakan demokrasi dan segudang masalah yang sembunyi di ketiak sejarah...

Terkadang manusia khilaf dan alpa bahwa sejarah juga bisa menjadi kepribadian yang penuh suri tauladan. Belum lama ini, Pejabat Kejaksaan Negri Bogor, Cibadak, Makassar, Subang dan Depok membakar puluhan ribu eksemplar buku bersejarah. Alasannya buku yang mengacu pada kurikulum tahun 2004 itu tak mencantumkan kata “PKI” pada gerakan G-30-S. Para jaksa itu lupa, seperti ditulis di Opini Tempo, bahwa hukum tidak bisa melarang perbedaan pendapat dalam proses mencari kebenaran sejarah. Hak kebebasan berpendapat—yang dijamin UUD 45 dalam pasal 28—tidak dihargai. Mereka lupa bahwa mereka telah melakukan tindakan yang sama kejinya dengan sosok yang mereka bakar. Di zaman Orla, PKI memberangus buku-buku yang tak seirama dengan ideologinya.

Perbedaan (Bhineka)—sebagai akar rumpun Indonesia—memang niscaya. Tapi ketika berbenturan, apakah langsung dibakar, ditebas dan dipenggal? Untuk momen ini, lebih arif jika kita menginsyafi diri: ada warna merah darah—yang menjadi korban tanpa pernah tahu apa kesalahannya—dalam kanvas sejarah pembangunan Indonesia.

Di mata saya, Bung Karno berteriak di sebuah pagi tahun 1965 itu ingin agar Bangsa Indonesia meresapi makna Nasionalisme. Nasionalisme jadi penting ketika diinjak oleh separatisme sepihak sebagaimana HAM harus disuarakan ketika ia dilanggar. Pada akhirnya kita patut bangga sebagai pewaris bangsa atas nama rakyat yang belajar mengecap arti kemerdekaan bukan suku, ras maupun agama. “Hendaknya kita insyaf bahwa tiap masa mempunyai corak perjuangan sendiri-sendiri,” nasehat Bung Karno suatu kali.
Dan itu yang relevan sekarang. Namun jika merasa keberatan beban, saya sarankan untuk mengeja Nasionalisme lewat Film Denias atau Naga Bonar Jadi 2. Gampang dan enak bukan?

.....Telah kami tinggalkan bumi pertiwi ini dengan darah, keringat dan cucuran air mata kami, disinilah kami dilahirkan, disinilah kami di besarkan. dimana kami tidak bisa merasakan nikmatnya beras hasil panen kami....Jangan Lupakan Kami....yang begitu amat sangat mencintai negeri ini, ...Jangan lupakan kami....yang begitu amat sangat memperjuangkan negeri ini,...Jangan bunuh kami...dengan merusak negeri ini dengan kebohongan dan kepalsuan...........karena kutitipkan negeri ini dengan darah, cinta, dan cita - cita kami. dimana ditanam tubuh kami di negeri ini.....tolong jangan lupakan kami,....jangan bunuh kami......